Saturday, 3 April 2021

It's been two years since I live in this town, and I don't know how to describe it, but there's always been unsettling feeling deep within my heart. I don't know what it is, this feeling of mine, growing stronger everyday, telling me somehow that I don't belong here. I thought, it was like a dream come true, but now, what dreams? 

All the motivation I had, goes into the thin air. I just trying my best to pass every day without any motivation at all. I feel like just a robot keep doing everything in repeat. Sometimes I feel like, I lost in the rift, so suffocating, so exhausting, did this kind of life worth of living? 

What is wrong with me? Am I tired? Emptiness is all I can feel, is all I can taste. 

Sunday, 21 March 2021

Surat Cinta 1

Hampir 1 bulan sudah semenjak kejadian tersebut. Masih teringat dengan jelas setiap detik momen yang kurasakan saat itu. Pengalaman pertama dan seumur hidup dari seorang anak lelaki yang mengambil segala resiko dan keberanian yang ada pada dirinya untuk mengungkapkan isi perasaannya yang murni kepada seorang wanita yang dikaguminya.

Delapan belas januari, hari itu ada sebuah acara, yang bukan hal baru lagi bagiku, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari acara-acara sebelumnya, mulai dari tema serta isinya, termasuk mereka yang hadir. Untuk pertama kalinya setelah dalam acara-acara sebelumnya dia tak hadir, pada hari itu secara tak terduga dia hadir.

Saat itu juga aku habiskan pagiku untuk merangkai tiap kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, hingga terbentuklah sebuah surat, sebuah surat cinta, sebuah surat cinta pertama yang pernah kutulis dengan hati dari sebuah cinta yang lama terpendam. Hanya satu pengharapanku saat aku menulis surat itu, surat ini harus sampai padanya. Karena sudah cukup lama bagiku untuk menyimpan semua perasaan ini tanpa pernah mengungkapkan padanya.
Setibanya aku di sana, aku langsung memberikan surat itu pada pihak panitia, dengan harapan, surat tersebut diberikan padanya, bahkan aku sampai mengingatkan pada panitia untuk memberikannya. Hari itu rasanya semua pikiranku tak bisa tenang, bertanya-tanya apakah suratku akan sampai padanya, belum lagi tulisan-tulisan pada buletin yang akan terbit hari itu, membuatku benar-benar tidak tenang.

Malam tiba, acara berlanjut di aula, aku tak kuasa mengalihkan pandanganku darinya, berharap ada kesempatan untuk mendekatinya, tapi sayangnya kesempatan itu tak pernah ada. Hingga acara makan malampun tiba, kepala dan pikiranku semakin tidak tenang, kuputuskan untuk memejamkan mata sejenak mencoba melepaskan semua pemikiran yang mengganggu. Tanpa sadar aku tertidur di ruang makan, setelah tersadar aku mencari yang lain menuju aula.

Tanpa kuduga hal yang tak pernah kusangka, ternyata surat yang telah ditulis para peserta dipilih dan dibacakan oleh mereka. Saat itu juga hawa dingin meresapi sekujur badanku, aku hanya bisa duduk dan berharap semoga suratku tak dibacakan. satu, dua, tiga dan seterusnya suratku tak dibacakan, akhirnya ada sedikit rasa lega dalam diriku. Tetapi hal itu berubah saat para senior meminta mereka untuk membacakan suratku. Ditengah kerasnya seruan mereka memanggil namaku, aku berteriak dalam hati "tolong hentikan", dan benar saja. Mereka mengambil sepucuk surat lalu membaca judul amplop, yang memang benar tertulis namanya "Kepada Kepala Departemen Pewartaan, *yang tahu aja*". Seketika rasa dingin semakin menjadi merasuki badanku, aku hanya bisa pasrah, tapi ya sudahlah semuanya mungkin memang semua harus dibacakan malam ini. Aku hanya duduk dan memandangnya dari belakang, ketika tiap isi dari suratku dibacakan dengan jelas, karena memang itu suara hatiku malam itu.

Setelah suratku telah selesai dibacakan, teman-teman baikku tiba-tiba saja mengerubungiku seolah-olah aku ini gula ditengah-tengah semut, mereka membicarakan banyak hal yang sudah lupa aku apa isinya. Begitu juga para senior yang menanyakan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Apa? Aku memang tak pernah tahu apa yang ingin kulakukan setelahnya. Acara berlanjut pada persiapan pentas seni, kelompokku memintaku untuk melakukan sebuah hal yang belum pernah kubayangkan sebelumnya akan benar-benar pernah aku lakuin. Setelah berpikir surat ini memang tak akan pernah diberikan oleh panitia pada orang yang dituju maka kuputuskan sudah saatnya berhenti bersembunyi, saatnya menatap kenyataan, dan mungkin ini satu-satunya jalan agar suratku sampai padanya. Aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku malam itu juga.

Akhirnya kami berkumpul di sekitar api unggun, ditengah dinginnya malam ditemani hangatnya nyala api di tengah kami. Kelompok pertama tampil, ternyata kelompoknya dia yang tampil, diteruskan kelompok ke dua, dan ketiga, dan tanpa kuduga lagi, ternyata hanya kelompok terbaik yang berhak tampil malam itu. Sekilas aku berpikir kenapa pada hari itu semua yang aku rencanakan tidak berjalan sesuai harapan, banyak hal tak terduga terjadi, tapi aku berkata pada diriku tidak untuk yang satu ini, aku harus melakukannya, karena aku tak dapat berpikir kapan lagi. Aku dan rekan sekelompokku meminta panitia untuk diberikan kesempatan. Dan seperti biasa panitia nurut saja.

Akhirnya sebuah momen hadir, meskipun di tengah gelapnya malam, serta dinginnya udara pegunungan, dan rintik gerimis yang turun malam itu. Seperti mendapatkan kekuatan ajaib, aku mengumpulkan semua keberanianku, aku berdiri ditengah api unggun, dibantu penerangan dari hpku, aku mulai membaca lagi isi suratku, saat itu aku menyadari betapa sulitnya membaca tulisanku sendiri, ditengah penerangan yang minim, dan rintisan air hujan membasahi kertasku, tapi seolah semua tulisan tersebut sudah ada dihatiku, yang aku lakukan hanya mengeluarkannya. Setelah kata demi kata aku ucapkan, semakin ingat aku akan sikapnya, dan semakin jelas aku mengetahui jawaban yang akan aku terima. Dalam hati aku berusaha untuk berhenti, tapi memang tidak akan ada yang kuasa menghentikan niatan seorang pria dalam melakukan sesuatu sekalipun itu datang dari dirinya sendiri. Saat itu aku mencoba egois untuk pertama kalinya semua hanya untukku, tanpa memikirkan yang lain, tanpa memikirkan perasaannya, yang aku inginkan hanya mengungkapkan semuanya dan tak ada yang lain. Hingga akhirnya kalimat penutup pun tak kuasa kuhentikan, dan benar saja surat itu sampai padanya. Meskipun akhirnya surat itu dilemparnya dalam nyala api yang malam itu tak cepat padam. Seketika waktu terasa berhenti, aku hanya terdiam karena memang yang kubayangkan benar-benar terjadi. Ada perasaan yang sedih saat itu, tapi tetap saja seperti biasa tak ada air mata yang mengalir, aku terdiam seakan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar, apa yang baru saja kulakukan, seolah aku akan jatuh saat itu dan tetap kupaksa untuk berdiri, sepertinya semua hal tadi sudah menguras banyak tenagaku. Tapi setelah selesainya lagu berputar, seketika itu juga aku berada ditengah kerumunan, orang-orang yang selama ini ada didekatku yang selama ini ada buatku, yang selalu mensupportku tak peduli berapa kali aku mengecewakan mereka. Berkat mereka aku tetap berdiri saat itu, berkat mereka pula aku masih berdiri kokoh saat ini.

Malam itu memang malam yang istimewa, aku disadarkan akan banyak hal. Mungkin benar seperti yang diucapkannya "Teman", memang hal itulah yang kubutuhkan, sebuah tempat kosong yang hilang itu ternyata selama ini berada didekatku. Aku menemukan kembali keberanianku yang hilang, menyadarkanku betapa bodohnya aku selama ini. Aku tak pernah menyesal melakukan itu semua, karena memang tak ada cinta yang tak diungkapkan kecuali oleh mereka yang mencintai dirinya sendiri, dan memang aku dulu orang yang seperti itu. Aku berterima kasih sekali karena telah diberikan momen tersebut, telah diberikan kesempatan tersebut. Malam itu terlalu indah untuk dilupakan, malam itu akan menjadi bagian dari sejarah hidupku yang luar biasa keren. Karena pada malam itu sebuah keajaiban kecil telah terjadi dalam diriku.

Saturday, 13 March 2021

My Conviction

It's not anyone fault. Maybe I am just so stupid that I had to fall for the same things over and over again. I don't want to blame anyone for my own weaknesses. But, still I never thought that she is so stupid either. But, whatever everything already shattered to pieces. And I don't feel like collecting it anymore, just let it be forever gone. I don't need something that already broken anyways. 
If there's one thing I know for sure, maybe I don't really belong with everyone. Maybe I shouldn't have asked, maybe I shouldn't put so much consideration to it. Because that time I never knew it would become this troublesome. After all no one believe in me, and no one ever understand me, so what the point for me to be around anymore. I think, it's the time for me to start looking at a brand new horizon. I've been stuck in this place for far too long. 

Sunday, 7 February 2021

Monoton

 Pesta yang meriah, gelak tawa, sapa, dan haru larut semua dalam ruang tersebut. Ku ambil secangkir cocktail dari salah satu meja saji, mencoba mencari sedikit ruang dari gegap gempitanya dunia sekitarku. Pandanganku tak pernah beralih dari panggung indah berhiaskan bunga-bunga mawar dan melati. Sempurna pikirku, wajah mereka berdua tampak anggun dan menawan, senyum gembira mereka seolah mengalahkan keindahan riasan mereka. Tak henti, satu per satu tamu mengucapkan selamat kepada mereka.

"Mojok aja nih." Suara setengah parau tapi lucu membuatku menoleh sejenak dari panggung tersebut.

"Oh kamu, kupikir siapa? Batuk? tanyaku.

"Iya, belakangan ini aku sibuk dengan kerjaanku dan membantu persiapan pernikahannya." Jawabnya.

Dia juga begitu, selalu membantu temannya bahkan ketika dirinya sendiri kerepotan. 

"Cantik ya?" Tanyanya padaku, dengan pandangan yang sudah tak asing, bagai anak kecil yang selalu mencoba menggodaku.

"Iya, cantik, puas?" Kupalingkan badanku menghadap padanya. Sungguh heran aku, bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti ini.

"Hahaha, jangan sedih gitu dong nadanya.." terlihat dia tertawa puas.

"Kau ya, kadang aku gak tahu, kamu itu beneran berniat menghibur atau hanya senang melihatku kebingungan?"

"Kok bingung, memang ada yang masih kamu bingungkan sekarang?"

"Gak, gak ada, aku kayaknya salah ngomong."

"Hoo, jangan-jangan kamu bingung mau sedih atau bahagia ya?"

"Terserah kamu deh, aku lapar, mau cari makanan." aku bergerak menjauhinya dan bergegas menyicipi dari setiap hidangan yang ada di atas meja saji. Malam semakin larut, pengunjung semakin berkurang, kupikir ini saatnya aku dan teman-temanku naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat kami.

Selepas bersalaman aku bergegas jalan keluar menuju taman dari gedung resepsi itu. Kunyalakan rokok menthol yang sedari tadi sudah menggodaku.

hah.. leganya nafasku disetiap hisapan rokokku malam itu. Kucoba menengadah ke atas, mengamati bintang-bintang yang amat jelas, tidak seperti di ibu kota yang langitnya sangat muram, jarang sekali terlihat bintang, tapi tidak di sini. Kuhitung jumlah bintang yang dapat kutangkap dalam pandanganku.

Kalau bintang-bintang itu adalah masa depan yang bisa kuraih, apakah bahagiaku ada dalam salah satunya?

"Tuh kan, galau lagi sendirian." Suaranya lagi-lagi mengganggu kesendirianku.

"Please, aku gak galau ya."

"Percuma kamu mau bilang apa, dari dulu kamu tuh bisa kelihatan dari raut mukamu."

"Ya, kalau pun aku galau, yang aku cemaskan dengan apa yang kau pikir sedang aku cemaskan sepertinya berbeda."

"Kamu sih, gak pernah peka, peka dikit kenapa sih, orang klo udah cuek, udah ilfeel, masih aja kamu kejar." 

Kuhisap rokokku dalam-dalam. Ada beberapa bagian yang aku sedikit kurang mengerti dari kata-katanya,  "Orang-orang memintaku untuk mengerti akan apa yang terjadi di sekitarku, tapi aku bukan peramal bagaimana aku bisa mengerti yang orang lain rasakan, bagaimana aku bisa mengerti yang orang lain pikirkan, jika mereka semua hanya diam, atau mungkin memang ada yang salah dalam diriku."

"Ya masa kamu selama ini gak pernah belajar gitu, mana yang tertarik, mana yang gak?" lanjutnya.

"Aku rasa, kamu salah akan satu hal, aku orangnya egois, aku gak pernah peduli dengan apa yang orang lain rasakan, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja, karena aku percaya hanya diri kita masing-masing saja yang sanggup mengendali rasa tersebut, karena itu ketika aku merasa tertarik akan seseorang apakah itu menjadi salahku? Menurutku tidak."

"Lalu kenapa dulu ketika kesempatan itu masih ada kenapa kamu tidak bertanya padanya untuk tahu jawaban akan rasa itu?"

Kali ini nadanya terdengar ketus, "Kaupun salah akan hal itu, karena ada hal dalam hidupku yang perlu aku jaga, aku ingin melihat kita semua tertawa bahagia di hari tua nanti, dan aku tak yakin aku bisa membuat dirinya bahagia, karena sampai saat ini pun, aku belum menemukan bahagiaku."

"Kalau kau bicara seperti itu, bukankah kesannya jadi tak adil bagiku, saat kau mengungkapkan rasa padaku, kau tak takut merusak semua hubungan kita?"

"Kamu lupa, saat itu, aku belum benar-benar mengenal kalian, kalian belum menjadi bagian dalam hidupku yang sudah kuanggap lebih berharga bahkan dari nyawaku sendiri, tapi aku sebenarnya berterima kasih akan kesempatan kala itu, karena semenjak itu aku semakin mengenal kalian, dan hidupku yang menyebalkan ini bisa sedikit berwarna. Lagipula saat aku bilang ke kalian aku menyukainya, aku hanya tak ingin dia hilang dari lingkaran pertemanan dekatku, aku tak mau dia hilang dari linkaran tersebut. Aku tak bisa membayangkannya kalian semua hilang dari lingkaran tersebut. Tapi sekarang aku paham, cepat atau lambat semuanya akan berpisah." Aku mulai berdiri.

"Yah, semuanya tak akan sama, ada yang hilang, ada yang berubah, ada yang berganti, semua hal itu sudah tidak lagi mengejutkanku. Hatiku sudah kehilangan gegap gempitanya, hanya sepi dan monoton dalam hidup ini yang kurasa. Jadi kalau aku galau, ya aku galau akan apakah masih ada hal-hal yang bisa memberikan gemerlap warna dan nada dalam hidupku." Lanjutku seraya tersenyum.

Wednesday, 3 February 2021

Kata orang, sedih itu butuh tenaga, oleh karena itu malam ini aku tidak makan, supaya aku tidak sedih. Tetapi aku malah jadi tidak bisa tidur, padahal hati dan pikiranku susah lelah. Aku akhirnya memutuskan beli makan, karena percuma sedih juga, besok aku harus kerja, biarpun alasanku bekerja di Jakarta sudah hilang. Aku masih bisa mencari alasan baru, aku juga belum mau mati, biar hatiku saja yang mati, ragaku jangan dulu. 

Jujur saja, aku tak tahu harus sedih atau bahagia. Aku benar-benar kehilangan arah. Mungkin akan tersesat, tapi tak apa, kalau itu tidak menyakiti hatiku lagi. Aku sudah lelah. Lelah dengan semuanya. Lelah dengan kebohongan, lelah dengan kepura-puraan. Biarlah semua cerita, angan dan kenangan terkubur dalam-dalam.