Showing posts with label cerbung. Show all posts
Showing posts with label cerbung. Show all posts

Thursday, 4 October 2018

Belum Ada Judul Ch11

Tibalah, kami di depan kamarku, orang tuaku tampak sedang berbincang dengan orang tua lain dari temen sekamarku. Aku meminta Silvana untuk menunggu di luar, dan masuk memanggil kedua orang tuaku.

"Yah, bu, itu temanku yang ingin bertemu dengan bapak dan ibu sudah menunggu di luar."

Ayah ibuku lalu melirik ke arahku, "Ah, baiklah, kami segera ke sana." jawab ayahku seraya berpamitan dengan orang tua yang lain. Aku mengarahkan kedua orang tuaku ke arah kursi tunggu depan kamarku, di mana Silvana tengah duduk di sana. Dapat jelas kulihat matanya berbinar-binar menyaksikan kedatangan kedua orang tuaku. Seketika itu juga dia beranjak dari kursinya dan menghampiri kami.

"Selamat sore, om dan tante, perkenalkan aku Silvana, tak kusangka, aku bisa bertemu dengan pahlawan idolaku." Silvana tampak girang sekali dapat menyapa kedua orang tuaku, namun pahlawan? Ucapannya sedikit terdengar mengada-ada.

"Hahaha, bisa saja Silvana, kami ini cuma orang tua pegawai pemerintahan yang sudah sibuk bekerja di belakang meja." jawab Ayahku.

"Bisa juga kau Roi, belum genap satu hari di sekolah ini, kau sudah dapat berkenalan dengan gadis secantik dia." kulihat ibuku tertawa geli sembari menggodaku.

"Sebentar, kau bilang, pahlawan Sil? Pahlawan apa?" tanyaku seraya merisaukan godaan ibuku.

Mendengar pertanyaanku Silvana tampak bingung. "Kau tak ingat peristiwa besar pernah terjadi di sekolah ini 5 tahun yang lalu?"

Aku tak paham sama sekali apa maksudnya, namun aku dapat melihat dengan jelas raut wajah terkejut dari kedua orang tuaku. "Peristiwa apa itu Sil?"

"Peristiwa di mana..." Belum selesai Silvana menjawab, tiba-tiba ibuku menggenggam tangannya, dan itu mengejutkan Silvana.

"Bagaimana, kalau kita mengobrol berdua dulu di sana." ibuku menunjuk sebuah bangku yang ada di ruang tunggu asrama. "Biar kami para wanita berbicara masalah wanita, oke? Ayo Sil.."

Silvana hanya mengangguk dan mengikuti ibuku. Aku masih tak paham apa yang terjadi, aku melihat ke arah ayahku. "Apa yang sebenarnya terjadi yah?"

Ayahku memandangku dengan tatapan serius dan terkesan hati-hati, "Apa pendapatmu tentang sekolah ini?" Beliau berbalik bertanya padaku. Aku sendiri bingung harus menjawab apa, tapi tak kusangka kepala sekolah di sini terlihat sangat muda, dan mampu bertelepati.

"Aku, belum bisa menilai banyak, namun kulihat di ruang kepala sekolah terdapat foto, kakek dengan kepala sekolah di sana, dan sepertinya beliau mengetahui banyak hal tentang diriku, ditambah lagi, sepertinya dia mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran seseorang, menurutku cukup aneh." jawabku mencoba menyimpulkan.

"Ya, keluarga kita mempunyai sejarah yang cukup kental di sekolah ini, dan mengenai kemampuan Bu Eli, percayalah, dia tidak sendiri. Semua yang kau lihat baru awalnya, dan ada waktunya di mana kau perlahan akan mengetahuinya tapi tidak sekarang, tidak untuk saat ini, ayah ingin kau bisa menikmati waktu sekolahmu dengan anak-anak yang lain." ucapan tersebut meresap cukup dalam di pikiranku, Bu Eli tidak sendiri, baru awalnya, sungguh tak banyak yang kupahami, serta pertanyaan awalku belum terjawab, mengenai peristiwa 5 tahun yang lalu, jika peristiwa itu terjadi 5 tahun yang lalu, mungkin peristiwa itu terjadi sebelum aku kehilangan ingatanku. Entah mengapa, aku tak pernah bisa mengingat masa kecilku, kepalaku terlalu sakit setiap kali mencoba mengingatnya.

"Yah, Silvana ingin mendapatkan tanda tanganmu." tiba-tiba ibu dan Silvana datang.

"Owh begitu, di mana aku harus meletakan tanda tanganku?" Silvana maju seraya menyodorkan sebuah buku, nampaknya seperti buku harian. Ayahkupun membubuhkan tanda tangannya di sana.

"Terima kasih banyak om tante, sudah mau memberikan tanda tangannya." Silvana tampak tersenyum puas. 

"Kalau begitu, kami sekalian ijin pamit dahulu, hari sebentar lagi malam, kami titip anak kami ini padamu Sil, biarpun dia sok kuat, tapi dia sering ceroboh." Ibuku menggodaku lagi. Aku hanya menimpalinya dengan senyum kecut. Dalam benakku masih terbayang kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Silvana mengantar kedua orang tuaku hingga gerbang asrama.

"Baiklah kami pulang dulu, jaga kesehatan diri kalian, dan belajar yang baik, serta Silvana, jika bertemu orang tuamu, sampaikan salam kami pada mereka." 

"Baik om, nanti saya sampaikan, hati-hati di jalan." 

Kedua orang tuaku mulai pergi menjauh ke arah area parkir sekolah, sore itu merupakan waktu terakhir bagi orang tua kami untuk berkunjung hingga libur semester nanti. Sungguh akan menjadi waktu sekolah yang panjang, serta nampaknya cukup banyak misteri yang membuatku bertanya-tanya. Aku sebenarnya ingin bertanya pada Silvana, tapi aku ragu dia akan memberiku jawaban yang aku cari.

"Ayo kita kembali ke dalam." Silvana menyadarkanku dari pikiranku.

"Ayo.." balasku

Kami berjalan bersama hingga tiba di ruang tamu asrama, di sana kami berpisah, karena lokasi kamar cowok dan cewek yang bersebrangan.

"Tenang Roy, jika ada apa-apa aku siap membantumu." 

Secara tiba-tiba Silvana membisikan hal tersebut, dan kulihat dia tersenyum sembari melambaikan tangannya. Tambah lagi pula teka-teki ini. Setibanya dalam kamar, tampaknya teman-temanku sedang sibuk merapikan lemarinya, adapula yang sedang mandi. Aku memutuskan untuk langsung tertidur, kejadian hari ini membuatku sangat lelah.

(-cont)

Tuesday, 24 July 2018

Belum Ada Judul CH10

Aku berteriak-teriak sepanjang lorong, memanggil Silvana, namun banyaknya orang tua yang berkunjung, membuat suaraku tertelan hiruk pikuk itu. Tak lama, seseorang menepuk punggungku dari belakang. Saat ku balikan kepalaku, Nampak seorang cewek dengan matanya yang biru berdiri di belakangku.

"Kau mencari Silvana?" tanya cewek tersebut. 

"Ya, benar sekali, kau tahu di mana dia?" aku membalas

"Dia teman sekamarku, kami di kamar no 9." seraya menunjuk kamar yang ada di ujung lorong.

"Hoo, begitu, ku kira dia sedang di luar bersama orang tuanya."

"Tidak, sepertinya orang tuanya tidak hadir, dan dia dari tadi di kamar saja."

"Oh, begitu, baiklah, terima kasih sudah memberi tahuku, oh, ya, perkenalkan juga, aku Roi, salam kenal." Sambil tersenyum kuulurkan tanganku.

"Ya, kau bocah terkenal itu, aku Meyta, salam kenal." Meyta pun seraya mengundurkan diri, kalau kuamati dia cukup manis juga, badannya tinggi langsing, rambutnya yang panjang kecoklatan membuat aura elegan terpancar dari dirinya, memang bukan sekolah sembarangan.

Aku mulai menuju ke kamar nomer 9, namun langkahku terhenti sejenak. Aku berhenti cukup lama memikirkan apa yang harus kukatakan, karena ini kali pertama aku berkunjung ke kamar cewek selain sepupuku. Tanpa aku sadari, aku mondar mandir tidak jelas di depan pintu, bagaimana kalau dia sedang ganti baju, atau tidur, mengganggu tidak ya. Hingga tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan pandanganku terpaku ke arah pintu tersebut. Munculah Silvana dari balik pintu tersebut.

"Ada apa Roi mondar-mandir begitu?" Silvana tampak kebingungan.

"Itu Sil, aku mau memberi tahu kalau orang tuaku sudah datang dan mereka gak keberatan bertemu denganmu." 

"Kenapa kamu gak bilang dari tadi Roi.. kamu malah mondar mandir di sini.."

"Hahaha, maafkan Sil, klo begitu ayo kuhantar."

"Sebentar, aku ambil buku dan penaku." Silvana masuk ke dalam kamarnya, tak perlu lama, dia keluar lagi dengan pena dan bukunya. Dia pun menyeret tanganku seraya berlari kecil.

"Pelan-pelan saja Sil, orang tuaku gak akan ke mana, lagipula kita salah lorong, kamarku di lorong sebelah." Tanpa disadari Silvana menuntunku ke arah yang berlawanan.

"Kenapa kau tidak bilang.." Silvana mulai melambatkan langkahnya, dan melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Aku sudah memintamu pelan-pelan dari tadi, tapi saking semangatnya kau sampai tak mendengarkan."

"Lagian, kamu malah mondar-mandir di depan kamarku, ohh... jangan bilang, ini pengalaman pertamamu datang ke kamar cewek ya Roi?" Pertanyaan Silvana itu terasa menggelitik perasaanku.

"Tentu saja tidak Sil, apaan coba.." Aku mencoba mengelak.

"Ahh.. yang bener.. wajahmu merah lho.." Silvana mendekatkan badannya dan melirik ke arah wajahku.

"Ahh, tidak biasa aja.. hahaha, lagi pula buat apa bawa buka dan pena?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Buat apa!? Buat tanda tanganlah Roi.." Silvana mengucapkan dengan penuh keyakinan.

"Segitunya ya,, baiklah, itu kedua orang tuaku sedang berdiri di Cafetaria."

"Ayo cepat ke sana Roi.." Silvana mulai berlari kecil dan aku mengikutinya dengan santai dari belakang. Tak kusangka ada anak yang mengidolakan kedua orang tuaku seperti itu. 

(-cont)






=========================================================================

nb: Karena kemarin-kemarin banyak menulis lewat HP, jadi masih banyak yang berantakan, namun sekarang sudah diperbaiki, lalu dengan beberapa alasan, nama-nama tempat aku rubah total, untuk menambah imajinasi pembaca tanpa mengaitkan dengan hal nyata.

Belum Ada Judul CH8

Akhirnya acara yang membosankan itu pun usai. Kami diperbolehkan kembali ke ruangan kami masing-masing. Aku melihat Icad dari bangkunya melambaikan tangannya ke arahku, memintaku untuk mendekat. Baru hendak beranjak, tiba-tiba cewek di meja sampingku tadi, memegang pundakku.

"Hai, klo tidak salah dengar, namamu Roi Setya Jati?" Aku terkejut mendengar ucapannya. Aku tak begitu memperhatikannya tadi, yang kutahu dia hanya memperlama sesi perkenalan itu dengan pertanyaannya, namun setelah ku amati ternyata cantik juga. Wajahnya khas cewek jawa banget, rambutnya yang mengombak sebahu, terlihat pas, pada badannya yang nampak kecil bagiku.

"Ya benar, ada apa ya?"

"Apa benar, kamu mempunyai hubungan dengan tuan Peter Jati, dan nyonya Ary Setya?"

"Ya, mereka berdua orang tuaku."

Mendengar jawabanku itu, dia nampak terkejut. Aku penasaran apa yang membuatnya terkejut seperti itu. Hingga kutunggu dia hendak berkata apa lagi.

"Aneh sekali, kenapa kau bisa berada di kelas ini?" Kuperhatikan wajahnya penuh rasa penasaran, kedua orang tuaku memang bekerja di pemerintahan, tapi aku tak pernah mengira jika ada orang lain yang tahu tentang mereka.

"Entahlah, apa kau mengenal kedua orang tuaku?"

"Kenal! Aku fans mereka, mereka adalah legenda sekolah ini, indestructible duo, itu yang kedua orang tuaku selalu ceritakan padaku, banyak sekali cerita tentang sepak terjang mereka.." kali ini wajahnya tampak berseri seri penuh semangat.

"Well, aku tak pernah menyangka kedua orang tuaku seterkenal itu, mungkin kau bisa bertemu mereka sebentar lagi, bagaimana jika kau kukenalkan ke kedua orang tuaku?"

Seketika itu wajahnya nampak memerah, dia pun menutup wajah dengan kedua tangannya. "Kita bahkan belum saling kenalan, tiba-tiba kau hendak mengajakku bertemu kedua orang tuamu."

Huh, sepertinya dia salah paham dengan maksudku. "Hahaha, bukan, bukan seperti itu maksudku, katanya kau fans mereka, aku tak keberatan jika kau ingin bertemu, toh kita punya waktu sampai jam 7 malam untuk bersama dengan keluarga kita, dan aku rasa kedua orang tuaku itu pasti ingin mengintip kamarku."

"Oh Tuhan, maafkan aku yang salah paham, aku jadi malu sendiri, tentu, aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu itu. Bisakah kau kabari aku saat mereka tiba? Aku hendak merapikan barang-barangku."

"Tak masalah, akan aku kabari, aku juga hendak merapikan barang-barangku."

Akhirnya dia berpamitan dan mulai beranjak pergi. Belum ada selangkah dia pergi, dia membalika  pandangannya padaku. "Aku lupa, panggil aku Silvina, senang berkenalan denganmu Roi." Diapun mulai pergi menuju kamarnya. Silvina hmm, tak kusangkan bisa berkenalan dengan seorang wanita di hari pertamaku sekolah.

Tuesday, 17 April 2018

Belum Ada Judul CH5

Setelah bertanya kesana kemari, tibalah aku di depan ruang guru. Ruangannya memakan hampir seluruh lantai 3, tak bisa kubayangkan seperti apa besarnya. Aku mulai mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

Terlihat banyak sekali ruangan yang dibatasi sekat sekat. Tampak beberapa papan nama tepasang di masing masing pintu. Pasti ini ruangan guru di sini. Lalu mataku langsung tertuju pada ruangan yang terletak di pojok. Melihat dari ukurannya yang lebih besar dari ruangan lain, sudah jelas ini ruang kepala sekolah. Tampak sebuah nama terpasang di pintu tersebut, Elizabeth Ruwinda. Aku mulai mengetuk pintu tersebut, lalu masuk.

"Permisi." Kataku seraya memasuki ruangan.

"Lama sekali kamu Roi."

"Maaf bu, saya masih belum tahu letak letak ruangan di sekolah ini."

"Ya, tidak apa, tak usah tegang Roi, duduklah."

Beliau mempersilahkanku duduk di sofa, depan meja kerjanya. Sepintas ku memandangi ruangan tersebut. Ruangan yang cukup luas, dengan banyak rak rak berisi buku buku, serta beberapa ornamen serta lukisan yang menghiasi dinding ruangan tersebut. Pandanganku seketika tertuju pada sebuah foto besar yang terletak di tembok belakang meja kerja ibu Eli, di dalamnya terdapat banyak sekali orang, dan aku seperti melihat wajah-wajah yang tak asing di sana.

"Sepertinya kau tertarik sekali dengan foro tersebut Roi."

"Iya bu, sekilas saya seperti mengenal sosok yang ada di sebelah ibu Eli, apakah mereka teman dan guru-guru ibu dulu?"

"Hahaha, jelaslah kau kenal akan mereka, yang sebelah kiriku adalah kakekmu, dan yang berada di kananku adalah ayah dan ibumu."

Mendengar hal tersebut aku sedikit terkejut.
"Jadi, ibu teman seangkatan orang tuaku?"

"Tidak, lebih tepatnya, ibu wali kelas mereka." Jawabnya seraya tersenyum kepadaku.
Aku sendiri sangat terkejut mendengar hal itu. Bagaimanapun orang yang mengetahui hal tersebut pasti akan terkejut, melihat wanita yang masih muda dan cantik ini lebih tua dari kedua orang tuaku.

"Sebenarnya aku sedikit terkejut bu, tapi kejadian upacara tadi membuatku tidak begitu heran lagi."

"Bagaimana, kau bisa begitu terkejut, ketika keluargamu jauh lebih spesial."

"Aku tak sepenuhnya memahami maksud ibu."

"Hmm, sepertinya mereka tidak pernah menceritakan apapun padamu ya."

"Cerita tentang apa? Klo boleh tau keperluan apa ibu memanggil saya kemari?"

Kulihat ibu Eli beranjak dari tempat duduknya, beranjak menuju sebuah meja kecil. Diambilnya 2 buah gelas, lalu tampak sepertinya beliau sedang menyeduh teh. Seraya membawa kedua cangkir teh tersebut, beliau berjalan menuju sofaku, dan meletakan 1 cangkir teh tersebut di hadapanku.

"Minum lah Roi, hanya ada teh di sini, aku tidak begitu menyukai kopi. Mengenai pertanyaanmu tadi Roi, aku hanya ingin berbincang bincang dengan anak murid kesayanganku. Sepertinya mereka punya alasan tersendiri tidak menceritakan beberapa hal kepadamu, meskipun begitu aku rasa, dengan mereka mengirimkanmu kembali kemari, mereka pasti telah siap akan semuanya."

"Kembali? Aku tak pernah ingat pernah kemari sebelumnya.."

"Ya, kau pernah ke sekolah ini sebelumnya, saat kau masih berumur 9 tahun. Apa kau ingat betul kejadian sebelum kau berumur 9 tahun."

Mendengar hal tersebut mengingatkanku, bagaimana aku tak benar benar bisa mengingat kejadian sebelum aku berumur 9 tahun, yang kuingat hanya bayang bayang sekilas, dan semakin lama kupikirkan semakin terasa sakit pula kepalaku, oleh karena itu aku tak pernah mencoba mengingatnya lagi.

"Bagaimana ibu bisa tau akan hal itu?"

"Tentu saja, karena ibu mengingat benar akan kejadian hari itu."

Hari itu? Belum sempat aku mengungkapkannya, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka.

(-cont)

Thursday, 22 February 2018

Belum Ada Judul CH4

Mendengar teriakan tersebut, aku dan Icadpun hanya tertunduk lesu, aku sendiri mencoba menahan rasa malu karena harus dilihat orang-orang seruangan - kepala sekolah ini mempunyai telinga macam setan saja pikirku.

"Siapa lagi yang kaupikir mirip setan." tiba-tiba terdengar suara dalam pikiranku.

Kupalingkan pandanganku ke depan, kulihat beliau hanya berdiri saja di atas sana dengan tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Bagaimana mungkin, mungkinkah beliau punya telepati?

"Klo iya, memangnya kenapa?" suara itu terdengar lagi dalam pikiranku.

Aku tak dapat menahan rasa terkejutku. Jelas-jelas aku memandangnya, dan di tidak berkata sepatah katapun. Tak berapa lama dia mulai bersuara lagi, kali ini melalu pengeras suara di mimbar sana.

"Sepertinya, anak-anak baru tahun ini, bersemangat sekali, sudah tidak sabar untuk menikmati masa-masa SMA rupanya." nada bicara berubah menjadi lembut, kalau saja bukan karena teguran dan telepatinya yang aneh itu, mungkin dia kepala sekolah yang terlihat baik. "Kalau begitu, untuk 2 orang siswa baru ini, saya berikan kesempatan, untuk bisa bergabung dalam bagian upacara pembukaan ini." Mendengar hal itu aku sedikit kaget, apalagi pikirku?

"Kalian berdua, cepat maju kemari." perintahnya kepadaku dan Richard. Tanpa membantah kami berdua mulai berjalan ke depan. Langkah kami terasa tidak mantap, karena tercampur perasaan antara takut dan malu. Kami pun tiba di depan panggung di bawah mimbar kepala sekolah.

"Siapa nama kalian?" tanyanya kepada kami.

"Saya Roi bu." aku menjawab.

"Saya Richard bu." Richard menjawab.

"Baiklah Roi, Richard karena kalian tampaknya sangat berenergi dan semangat sekali pagi ini, ibu kasih kalian tugas, untuk menjadi pembaca pancasila dan UUD 1945."

"Monic, Tio, kalian kemari, tolong serahkan bacaan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 kalian kepada mereka." panggil beliau kepada 2 orang senior kami yang seharus bertugas. Entah mengapa mereka tampaknya senang sekali, dan menyerahkan bacaan tersebut kepada kami dengan tersenyum.

"Kalian pernah ikut upacara sebelumnya bukan?"

"Pernah bu." jawabku serempak dengan Richard

"Baiklah, klo begitu kalian yang akan menggantikan tugas mereka berdua." setelah mengumumkan hal tersebut, beliau pun meminta kami berdiri di barisan petugas upacara.

Upacarapun dimulai, saat itu aku merasa tidak nyaman sekali berdiri di atas panggung tersebut, melihat wajah-wajah siswa memandangiku dari bangku mereka. Akhirnya tiba saatku membacakan Pembukaan UUD 1945, aku mulai melangkah dari barisanku menuju mimbar yang berada di kiri panggung. Aku berdeham sekali, menarik nafas panjang, lalu aku mulai membacakannya, semua terasa singkat, dan baik-baik saja, aku membaca semuanya tanpa masalah. Aku berpikir ini tidak ada bedanya dengan membaca buku atau majalah, hanya saja di depan umum. Setelah selesai membaca, sontak terdengar tawa dari beberapa peserta upacara, dan guru-guru memandangiku dengan pandangan heran. Sontak sekujur tubuhku terasa dingin, aku mencoba berpikir apa yang salah? Aku rasa aku sudah membaca setiap kalimat dengan tepat.

"Tidak apa, silahkan balik kebarisanmu." Terdengar suara kepala sekolah itu dipikiranku, aku melirik kearahnya, kulihat dia tersenyum, dan aku mulai melangkah kembali ke barisan. Kulihat Richard seperti sedang menahan tawanya.

"Bagus sekali Roi, lu bintang hari ini."

"Tak usah pula kau ikut mentertawakanku, sana setelah ini giliranmu kan."


Aku masih memikirkan apa yang salah dengan aku tadi. Richard mulai berjalan ke mimbar setelah MC memintanya untuk maju. Richard mulai membacakan Pancasila, dan sepertinya aku tersadar, di mana letak salahku. Richard membacakannya dengan lantang dan tegas, berbeda denganku tadi.


Aku tak sabar ingin upacara ini segera selesai. Setelah melewati ceramah yang panjang dari kepala sekolah, upacarapun berakhir. Setelah semua guru meninggalkan aula, petugaspun iku meninggalkan setelahnya, dan karena aku beserta Richard menjadi petugas, kami ikut meninggalkan aula dari pintu belakang panggung. Sesampainya di belakang panggung, kulihat kepala sekolah mendatangi kami berdua.

"Tidak buruk untuk anak baru, dan sepertinya kau Roi, belum pernah melihat upacara sebelumnya?"

"Maaf bu, saya terakhir mengikuti upacara kelas 6 SD, itu pun belum pernah menjadi petugas."

"Tidak apa, setelah ini Roi, kamu ke ruangan saya dulu ya, ada beberapa hal yang ingin ibu tanyakan."

Apalagi ini pikirku, semoga bukan hal yang merepotkan.

"Roi, lu udah cek zodiac hari ini belom?"

"Tak pernah aku percaya begituan chad."

"Entahlah, sepertinya keberuntunganlu buruk banget hari ini." kata Richard setengah mengejek ku.

"Apalah itu, sudah, aku bergegas ke ruangannya dahulu, tak tau pula apa yang hendak dibicarakannya."

Aku pun berpisah dengan Richard, dan berjalan menuju ruangan kepala sekolah yang tak kuketahui berada di mana.


(-cont)


=========================================================================

nb: bagian ini mencoba tetap mengambil bagian dari Indonesia.

Friday, 2 February 2018

Belum Ada Judul CH3

"Hahaha, hai.." aku menyapanya seraya melewatinya dan duduk di bangku A49, tak pernah kukira sebelumnya ternyata dia duduk di A50.

Keheningan tiba-tiba muncul diantara kami berdua. Tak butuh waktu lama untuk tiba-tiba terdengar suara yang meminta izin untuk lewat lagi. Kali ini seorang cowok, perawakannya tinggi, besar, dan tegap dengan rambut cepak ala-ala militer, wajahnya tidak begitu menarik, standar orang jawa pikirku. Lalu dia berjalan melalu gadis itu, melewatiku dan duduk di sebelahku.

"Hai, kenalin, nama gue Richard, temen-temen gue biasa manggil gue Icad." tiba-tiba saja dia mengajakku berkenalan.

"Hai, Icad, panggil saja aku Roi,," seraya menjabat tangannya.

"Berasal dari mana kau Roi?"

"Aku asli orang Saga, hanya saja ketika SMP, aku menghabiskan waktuku untuk bersekolah di rumah kakekku di Jard."

"Wow, Jard, ibu kota Negara kita yang penuh dengan bangunan megah, dan hiburan itu!!" jawabnya mengejutkanku, tak ada yang terlalu istimewa dari Jard pikirku, kecuali banjir dan polusinya.

"Tidak ada yang pantas dibanggakan dari Jard Icad, tak ada satupun, memang kau berasal dari mana Icad?"

"Gue berasal dari Jara Roi, tapi orang tua gue asli dari Jawa, tapi gue selalu menyaksikan hal-hal bagus ada di Jakarta dari film-film, seperti Taman Hiburan Fantasia, Menara Emas, dan pantai pasir putihnya."

"Ah, malah Jara menurutku sangat menarik Icad, dekat Kepulauan Ivory kah rumahmu itu?" Aku cukup terkejut mengetahui dia berasal dari Jara.

"Tidak, tidak Roi, Kepulauan Ivory masih sekitar 6 jam perjalanan dari tempat gue. Pertama kita harus ke Solk dahulu, lalu menyebrang ke sana." Icad lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis di bangku A50 itu. "Hai nona cantik, bolehkah kita berkenalan?" pertanyaannya membuatku terkejut, dan seperti yang kuduga, gadis itu hanya menatapnya tajam.

"Tak usah, kau hiraukan dia Icad, tak ada gunanya." kataku pada Icad.

"Jangan begitu Roi, kita ini akan jadi teman 1 asrama, tidak baik baru awal sudah bermusuhan, maafin gue klo gak sopan, tapi gue memang ingin berkenalan." Roi memaksanya dengan mengulurkan tangannya.

Sejenak gadis itu menatapnya lagi, lalu menatap tangannya. "Siva." Jawabnya singkat seraya membalas uluran tangan Icad.

Aku gak nyangka ada orang semacam Richard, bias langsung akrab dengan orang baru -klo aku lebih baik dima dan menjauhi masalah. Tak kusangka juga gadis aneh itu mau menjawabnya.

Tiba-tiba saja, seseorang pria naik ke atas panggung, sepertinya dia senior kami. Dia mengumumkan pada kami bahwa upacara penerimaan siswa baru akan segera di mulai, dan dia meminta kami untuk tenang. Sudah lama pula aku tidak mengikuti upacara, pikirku aku akan berbaris di tengah-tengah lapangan, seperti saat aku Sekolah Dasar dulu, tapi sepertinya di sini kami melakukan upacara di dalam sebuah Aula, unik memang.

Terdengarlah suara alunan music memenuhi ruangan, dan paduan suara mulai bernyanyi. Aku tak begitu paham, karena music itu baru bagiku, bukan lagu nasional atau daerah pula, mungkin mars sekolah ini. Perlahan, tampak orang-orang memasuki ruangan dari belakang panggung, menuruni tangga panggung dan mereka berdiri di depan bangku yang memang tampaknya khusus disediakan untuk mereka. Tampak banyak sekali yang keluar, jika kuhitung jumlahnya ada 60, dan mereka tampak masih sangat muda- sekitar 25 tahun sampai 30 pikirku.

Paling terakhir keluar seorang wanita, masih muda, anggun dan cantik sekali. Tidak seperti yang lain, dia langsung menuju ke atas mimbar yang terletak di tengah panggung.

"Lu tahu siapa dia Roi?" tiba-tiba Richard berbisik padaku.

Kualihkan pandanganku ke arahnya, "Tak tahu, dari tempatnya berdiri, sepertinya dia kepala sekolah."

"Betul sekali Roi, dia kepala sekolah ini."

"Hebat sekali ya, di usia semuda itu bias jadi kepala sekolah." gumamku pada Richard.

Richard pun menatapku tajam, dan mendekatkan wajahnya padaku. Lalu di berbisik lagi, "Lu jangan tertipu oleh penampilannya Roi, dia tidak muda, umurnya klo tidak salah sudah sekitar 40 tahunan."

Sejenak aku terkaget mendengar hal itu. "Yang benar saja Cad, kau jangan mengada.."

"HEI YANG DI SANA!!" Teriakan itu jelas datang dari microfon, dan memotong pembicaraanku dengan Richard.

Kami berdua pun secara seksama dan perlahan, memalingkan pandangan kami ke arah panggung.

"YA KALIAN, KALIAN 2 COWOK YANG TAMPAKNYA HENDAK BERCIUMAN!" teriaknya lagi.

Mati aku, pikirku dalam hati. Niatku untuk melalui hari dengan biasa saja, sudah hancur di hari pertama aku sekolah.

(Bersambung -)



Notice:

Karena beberapa kesibukan, jadi belom sempat update di bulan Januari kemarin, tapi tenang bulan Februari juga akan ada lanjutannya.




Monday, 27 November 2017

Belum Ada Judul Ch2

Ku mulai melangkah dengan mantap menyusuri jalan utama penghubung antara gerbang sekolah dengan gedung utama. Jalannya yang lebar, dihiasi taman-taman kecil di kiri kanannya serta tidak jauh terletak di sebelah barat dari gedung utama, terdapat lahan parkir yang lumayan luas, dan aku pun dapat menyaksikan bangunan bangunan besar berada di balik gedung utama. Pagi ini semua siswa baru akan mengikuti acara penerimaan siswa baru di aula gedung utama.

Ketika aku mulai masuk ke dalam gedung utama tersebut, aku sangat kagum akan besarnya gedung tersebut. Layaknya area tamu hotel bintang 5. Dibagian tengah terdapat meja yang melingkari tiang besar yang berada tepat di bangunan tersebut, orang-orang yang duduk di meja tersebut tampak sibuk melayani mereka yang datang, seperti halnya yang biasa dilakukan resepsionis. Aku pun mengamati sekelilingku mencoba mencari tahu, di mana letak aula untuk acara tersebut. Akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk jalan digital yang menunjukan arah menuju Aula yang kumaksud.

"Hei.. Anak baru ya?" Tiba-tiba ada suara cewek yang memgejutkanku.

"Ya, ada apa ya mbak?" Balasku seraya melihat kearahnya, ternyata dia tidak sendirian.

"Kenalin, nama gw Yuli, panggil aku pake nama aja gak usah pake mbak, aku juga cuma satu tingkat di atasmu kok."

"Gak enak mbak, entar dikira gak sopan ke senior."

"Halah, di sini gak ada senior junior, oh iya, namamu siapa klo boleh tau?"

"Namaku Roi mbak." Cewek ini easy going banget pikirku, tapi tidak demikian dengan 3 cowok dibelakangnya, dari tadi mereka hanya diam saja, perawakannya tinggi besar pula semua.

"Hoh Roi, nama yang bagus kayak orangnya.."

"What!?" Aku menahan keterkejutanku dalam hati.

"Jadi gini Roi, kalo dilihat dari postur badanmu, sepertinya kamu atlit kan?"

"Atlit? Gak kok mbak, saya cuma pelajar aja dari dulu."

"Hoo, klo gitu, kamu pasti hobi olahraga?"

"Gak juga, olahraga seperlunya aja, dan keseringan juga cuma lari."

"Wah, ekskulmu apa waktu smp?"

"Saya homeschooling mbak, gak pake ekskul ekskul." Kulihat wajahnya yang sedari tadi berseri mulai sedikit meredup. Mungkin aku tidak seperti yang diharapkannya.

"Klo gitu di SMA ini kamu harus ambil ekskul Roi, kamu bisa main basket?"

"Gak juga mbak." Sebenarnya aku sedikit bisa, namun aku takut memberinya harapan yang gak gak.

"Aku masih gak percaya, orang tinggi besar dengan postur yang bagus sepertimu bukan atlet." Dia menyipitkan pandangannya ke arahku. "Tapi gak apa Roi, aku sama temen-temenku ini anak ekskul basket, klo kamu mau Join setelah upacara mampir ke stand kita ya."

"Hahaha, bisa diatur mbak." Akhirnya dia berpamitan dan pergi bersama teman-temannya.
Karena upacara penyambutan sudah akan dimulai, aku beranjak ke aula. Setibanya di aula, sudah banyak sekali siswa baru berada di sana. Beberapa ada yang sibuk berkenalan, ada juga yang hanya duduk saja, pokoknya ruangan tersebut sangat ramai. Aula ini cukup besar, bentuknya seperti gedung opera hanya sangat besar. Jadi di sekolah ini upacara dilakukan di dalam ruangan ber AC dengan tempat duduk yang empuk menyerupai bangku gedung bioskop. Aku sampai lupa klo ini adalah aula sebuah sekolah.

Aku mulai mencari nomer bangkuku, A49. Perlahan kususuri deretan bangku itu, sampai aku melihat nomer A50, dan ada seorang cewek duduk di sana. Dilihat dari rambutnya yang sebahu itu, aku berpikiran pasti dia cantik.

"Permisi, boleh numpang lewat? Bangkuku A49." Sapaku kepadanya, sekedar meminta izin untuk lewat, dia pun memalingkan wajahnya.

"Kamu.." dia terkejut, begitu juga denganku, ternyata dia adalah cewek menyebalkan tadi.

(Bersambung)

Tuesday, 21 November 2017

Belum Ada Judul Ch1

Kring.. Kring... Kring...

Alarm di atas meja belajarku berbunyi begitu kerasnya, cukup membuatku setengah tersadar di pagi ini.

"Roi, cepat bangun, sudah jam berapa ini..!!"

"Iya, bu.."

Seperti pagi-pagi hari biasanya, ibuku tidak pernah berubah sejak aku kecil, tanpa beliau sadari sekarang aku sudah SMA. Ya, ini adalah pagi pertamaku di jenjang SMA, sebuah jenjang sekolah yang mereka bilang bagian paling menyenangkan. Aku mulai membayangkan seperti apa kehidupan SMA ku besok, apakah aku akan mempunyai banyak teman? Aku tidak sabar untuk memulai hari ini.

Setelah selesai sarapan dan berkemas, aku mulai pamit kepada kedua orang tuaku.

"Pak, bu, aku berangkat ya.."

"Iya Roi, hati-hati di jalan, nanti barang-barangmu akan kami antarkan ke asrama.." ibuku berkata sembari melambaikan tangannya.

Meskipun sekolahku ini berada di kota yang sama dengan tempat tinggalku, tapi aturan sekolah tersebut mewajibkan setiap muridnya untuk tinggal di dalam asrama. Sekolah tersebut sangat terkenal di negera ini sebagi sekolah yang menghasilkan siswa-siswi yang berprestasi. Garuda Muda, itu nama sekolahnya, sebuah sekolah besar yang terletak di kaki gunung Merbabu yang megah, dengan keindahan alam yang sangat mempesona mata.

Pagi itu transportasi masih sangat lengang, aku berjalan kaki menuju sekolahku yang berjarak sekitar 5 km dari rumah, namun udara di Saga ini masih sangat sejuk, sehingga sangat menyenangkan bagiku untuk berjalan menikmati udara segar tersebut. Jauh berbeda sekali dari tempat tinggal kakek dan nenekku yang berada di Jard, di sana udaranya sangat panas dan pengap. Aku menghabiskan masa kecilku tinggal di sana, karena kedua orang tuaku sangat sibuk, mengurusi pekerjaannya sehingga mereka sering berpergian ke luar kota bahkan luar negeri.

Ketika tengah asyik menikmati udara pagi ini, dan melamunkan kehidupan SMAku besok, tiba-tiba aku melihat seorang cewek, terlihat dari wajahnya sepertinya dia sedang kesulitan akan sesuatu, pandangannya terarah ke arah pohon yang ada di depannya. Jika dilihat dari seragamnya sepertinya dia berasal dari SMA yang sama denganku. Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

"Heii,, ada apa??"

Tiba-tiba tercipta keheningan, yang membuatku bingung dan dia menatapku dengan pandangan mata yang tajam.

"Hei.. " lanjutku mencoba memecahkan keheningan yang canggung itu.

"Apa kau bias memanjat pohon?" Dia bertanya dengan nada yang cukup serius.

"Huh, tentu saja..." jawabku.

"Tidak Nampak seperti itu bagiku." balasnya dengan nada yang mulai terdengar cukup mengesalkan.

"A.. apa kau bilang.." aku setengah terkejut dan kesal mendengar perkataannya tersebut.

Sejenak kulirik pandanganku ke atas pohon tersebut. Terlihat di sana, ada seekor anak kucing sepertinya dia tidak dapat turun. Mungkinkah? Jadi dia sebenarnya ingin menolong kucing tersebut.

"Kau tahu, akan aku panjat pohon ini dan membawa anak kucing itu turun." kataku kepadanya.

Aku mulai memanjat pohon tersebut dengan perlahan, lalu aku sampai pada ranting dimana anak kucing itu berada, aku mulai merangkak maju di atas ranting itu, namun semakin aku merangkak maju, ranting pohon itu semakin merunduk, dan tanpa perlu aku mengambilnya, anak kucing itu mulai berani lompat untuk turun.

"Fuih, sudah capek capek manjat ternyata dia lompat turun sendiri." pikirku dalam hati.

Kratak.. takk... BRUGH!!

Aw, ranting tempatku tadi patah, dan akupun terjatuh.

"Sudah, kuduga, kau memang bukan tipe orang yang bias diandalkan." aku mendengar suara cewek itu. Dia berdiri tepat di hadapanku. Ku mencoba mengumpulkan lagi tenagaku dan mulai berdiri.

"Daripada terus mengejekku, bukankah aku pantas mendapatkan ucapan terima kasih?"

"Apakah aku pernah meminta pertolonganmu?" balasnya padaku.

"Setidaknya berkat kecerobohanmu, anak kucing itu bias turun." tambahnya.

Ugh, malas sekali aku meladeni ucapannya tersebut. Meskipun dia memiliki paras yang cantik, tapi sifatnya itu membuatku malas bahkan untuk mengenalnya, akhirnya kuputuskan untuk mendiamkannya saja.

Setelah berjalan beberapa saat tibalah aku di komplek sekolahku. Tampak sudah betapa luasnya komplek sekolah Garuda Muda ini. Baiklah aku akan memulai kehidupanku yang baru di sini.

Let's GO!!!


(-bersambung)