Tuesday, 17 March 2020

Aku Takut Cinta

Lorong co-working space tempatku bekerja mulai tampak kosong. Satu per satu tenant yang biasanya jam segini sangat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, perlahan mulai menghilang. Meninggalkanku dan sahabatku yang sedari tadi menunggu hujan reda.

"Parah ya situasi kali ini. Orang-orang jadi takut mau kemana-mana." Suaranya memecah kesepian sore itu, tangannya tidak berhenti mengusap-usapkan layar telepon genggamnya. Sesekali nampak ekspresinya berubah-ubah, dari terkejut, tertawa, heran, bahkan sedih. Pandangannya tidak pernah lepas dari layar telepon genggam tersebut. Sembari mulutnya tidak pernah berhenti memberi komentar akan hal yang dibacanya.

"Ya mau gimana lagi, belum ada obatnya, wajarkan orang takut." Jawabku

"Tapi kan ya gak harus separah gini juga gak sih? Kayak orang-orang tuh udah panik besok kiamat aja." Balasnya sambil menggerutu.

"Kamu gak takut apa?" 

"Daripada takut, bisa dibilang khawatir sih. Kalau ibaratnya tuh, orang kepleset aja bisa mati. Tapi kalau kita hati-hati dan selalu menjaga diri kan, mudah-mudahan tetap selamat." Kali ini dia memalingkan pandangannya ke arahku, sepertinya dia yakin kalau setelah ini akan ada peraduan argumen antara aku dan dia. Kita memang sering berdebat akan banyak hal, dari yang penting sampe boring, dan ironisnya adalah jarang sekali kita mencapai suatu kesepakatan bersama, tapi disitulah serunya. Bagiku pandangannya dia adalah jendela baru dalam hidupku.

Aku pun memutuskan untuk duduk di sofa, karena secara naluri pun aku sadar ini tidak akan jadi pembicaraan yang sebentar. Langit yang temaram berselimut awan pekat, menitikkan bulir-bulir kehidupan membasahi jalanan Jakarta sore itu, seolah-olah mengiyakan pertarungan argumen kita sore itu, mungkin ditambah opening lagu The Eye of The Tiger sebagai intro, akan set the mood banget.

Pembahasan kami sore ini adalah virus yang sedang merebak di negara kami. Mulai dari apa penyebabnya, kenapa bisa meluas, respon pemerintah dan dunia seperti apa, sikap masyarakat bagaimana, hingga hal-hal yang berbau takhayul dan konspirasi juga ikut dalam perdebatan kami. Kadang kita bisa ngotot akan pendapat kita masing-masing, namun kami tidak pernah emosi, karena sejatinya kita sama-sama tahu. Kalau kita sesungguhnya iseng satu dengan yang lain, hanya untuk saling menebak argumen apa yang akan dikeluarkan sebagai balasan.

Tanpa kita sadari, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Alarm di jam tanganku berdering. Kami pun terhenti dari perdebatan kami.

"Yah, lihatkan, gara-gara kau ajak aku ngobrol, sudah jam tujuh, batal sudah aku pulang cepat." Sanggahku padanya menghentikan perdebatan sore itu.

"Kan aku gak minta buat ditanggepin, lagian kamu cowok manja amat harus pulang on time, mana debat sama cewek juga gak mau ngalah, kadang aku heran kamu ini cowok apa bukan." Balas dia.

"Cowok lah, perlu gw buktikan secara genetik di depan lu."

"Yee, dasar cowok mesum." 

"Lah siapa coba yang mulai, nuduh-nuduh mesum, dah lah sama kamu ngobrol gak habis-habis, pikiranmu terlalu imajiner sampe dikuadrat dua juga gak bakal jadi nyata. Hujan udah reda nih ayo balik." Aku mulai merapikan peralatan kerjaku. Aku lihat dia masih kesulitan untuk meletakkan kembali Tupperwarenya ke dalam rak yang tinggi itu, aku ambil Tupperware itu dan kuletakkan langsung di lemari tersebut.

"Aku bisa sendiri tahu." Kulihat mukanya sedikit cemberut.

"Ini bocah, udah abstrak, pendek, belagu lagi, bukannya terima kasih, gw tinggalin dah." Aku mulai berjalan ke arah lift. 

"Ehh, tunggu, jangan marah dong, kan bercanda." Jawabnya seraya berlari menyusul.

"Masa bodo.." Jawabku seraya mempercepat langkah kakiku.

Akhirnya kami berlarian sampai di depan lift. Lift kami ternyata masih sangat jauh.

"Eh, kamu tahu gak, naik lift itu pengalaman berharga buat aku." Sepertinya keluar lagi argumen barunya. Aku terdiam dan memperhatikan wajahnya dengan penasaran.

"Kok bisa? Di desamu gak pernah ada lift apa?" balasku.

"Yee, bukan begitu."

"Lantas?"

"Soalnya waktu pertama kali naik lift, it's raised me up." Jawabnya sembari tertawa puas.

"Dasar bocah, gw kira serius." Tak lama, lift yang akan kami gunakan tiba.

"Kamu gak takut apa, sama musibah yang terjadi belakangan ini, aku tadi belum sempet nanya, jadi penasaran." Tanyanya kepadaku.

"Tidak, selama virus ini gak bikin aku bego, aku gak takut, kecuali satu virus ini yang aku paling takutin, yang bener-bener bikin bego."

"Hah, apaan itu?" Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, berharap aku bergegas menjawab kebingungannya tersebut.

"Virus cinta."

Thursday, 13 February 2020

One Years

It's been one month since I started working in Jakarta. One big massive city. It's still as clear as the blue skies, how the kind of face I used to make. Grinning offer some big building, enjoying Transjakarta, and all of the privileged this city have. Oh, how naive.

I beginning to dream again what my future may fold. Even I dare to think, someday I could conquer this city. That time I thought I won't change, yet I did.

Jakarta Isn't as cool as I thought it would be. Smart city with stupid mass make this city one huge mess. Road rage, traffic jam, polution, flood, and many more. 

Thankfully I still able to keep my mind sane, I could still control my wild emotion intact. I won't able to do it if I was alone, somehow I got surrounded by nice people, a rational one at least. Even though sometimes I felt lonely but at least I had someone who would lent their ears just to listen all of my complaints. Yeah, I'm grateful.

And you know, someone asked me out, to be honest it was somehow make me happy, but I still can't give up the feeling that I have for someone. Someone who somehow make me the me right now, yeah maybe she doesn't even realize it but I am not giving up. One of this day, when I already reach all of my goal, I will properly face her, but right now I'm focusing on my goal, may God bless me.

So if I need to summarize this one years, I would say, well yeah, it's a hellish road, it wasn't an easy one, many tears might have fall, many mistake that I have made, but also it full of unexpected events that can bring out my smile, yeah I'm happy to be survive, let keep up the good for more years that yet to come.

Tuesday, 26 November 2019

When I finally able to beat my diseases, I will know, that will be the right time to finally for me to listen to what you really feel about me. I will patiently wait until the day finally come. I don't want to be part of your sadness, that's why I need to get healthy no matter what happened.

Sunday, 24 November 2019

Peka

Langit sore itu tampak mendung, aku berjalan berdua dengannya melintas komplek pertokoan yang nampaknya sedang bersiap-siap untuk buka. Hingga tibalah kami di taman, lalu dia mengajakku duduk di bangku tersebut. Kulihat dia perlahan mulai menguap.

"Capeknya.." dia mulai menggerutu.

"Gimana gak capek, tiga hari kamu tidak tidur." Jawabku sedikit ketus.

Kulihat, dia memalingkan wajahnya ke arahku. Seperti orang yang sedang mengerjakan sebuah soal yang sulit, dia memperhatikan wajahku dengan seksama. Aku agak risih dengan pandangannya tersebut. Tak lama dia pun tersenyum.

"Ada apa, kamu sepertinya tampak kesal?"

"Bodo.."

Dia diam sejenak, lalu melanjutkan pembicaraannya. "Maaf ya, karena aku minta kamu buat ketemuan sama teman-temanku."

Mendegar perkataannya itu, aku malah semakin kesal. "Kamu tahu, aku tidak kesal karena sudah kamu ajak untuk ketemuan dengan teman-temanmu."

"Tempatnya atau makanannya kamu gak suka?" Dia seperti masih mencoba untuk menebak.

"Kamu, emang dasar gak peka ya." emosiku semakin menjadi.

Namun dia tetap tenang, dan mulai mengusap kepalaku dengan lembut.

"Maaf ya klo aku gak peka, coba ceritakan ke aku, dibagian mana aku tidak peka?"

Emosiku perlahan mulai mereda. Begitulah dia pikirku, sedari dulu tidak pernah berubah.

"Kamu itu, kenapa sih, gak pernah peka sama dirimu sendiri, apa coba maksudmu tadi bersikap seperti itu, kayak orang bego, pura-pura gak tahu hal sekecil itu, cuma buat apa? Jadi bahan tertawaan teman-temanmu, kayak gak ada bahan obrolan lain yang lebih berat apa?"

Mendengar ucapanku dia tampak terkejut, dia menunduk sejenak, lalu tersenyum kepadaku.

"Terima kasih ya, kamu memang yang paling mengerti aku." Dia mulai mengalihkan pandangannya ke arah taman. Lalu dia mulai bercerita, "Kau benar, orang jenius seperti aku, tidak mungkin tidak tahu hal sepele seperti itu, tapi kamu tahu kan aku orangnya seperti apa, aku hanya ingin mereka tersenyum, itu saja. Lelah? Jelas lelah, aku pun sering merasakannya, kadang aku benar-benar berharap, ada temanku yang menyadari sikap konyolku tersebut yang jelas-jelas tidak masuk akal itu, tapi rasanya memang tidak mungkin."

"Lalu kenapa kau masih bersama mereka?" Dia mulai mengembalikan pandangannya kepadaku, lalu dia tersenyum kembali.

"Kamu tahu, dulu, sebelum aku mengenalmu, mereka adalah orang-orang yang sudah menyelamatkanku dari kesepian. Aku tahu sekarang mereka mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, dengan permasalahan yang mungkin aku sendiri tidak tahu itu apa, karena itu, jika aku bersikap seperti itu bisa membuat mereka tersenyum, aku tidak masalah."

"Apa memang tidak ada cara yang lain? Kau mungkin tidak merasa, tapi hal yang kamu lakukan itu sudah membuatku sedih, karena aku tidak ingin kamu diperlakukan seperti itu, mereka tidak pernah tahu apa yang sudah kamu hadapi, seberat apa hidupmu.." belum selesai aku berbicara, tiba-tiba saja dia memulukku.

"Terima kasih, sudah memperhatikanku sebaik itu, sudah menangis untuk aku yang tidak peka ini, kamu tahu, aku tidak masalah seluruh dunia tidak mengenal apalagi memahamiku, selama satu orang saja bisa memahamiku, bagiku sudah cukup, terima kasih sudah menjadi orang itu."

Gerimis perlahan mulai turun, menyamarkan air mata yang tiba-tiba mengalir dengan derasnya. Beruntungnya aku, memiliki dia yang tangguh dan baik hati ini.

Saturday, 23 November 2019

Memang melihat seseorang yang kita sayangi bisa tersenyum itu adalah kebahagiaan tersendiri.