Thursday, 30 May 2019

A little Self Talk

"Hei, kenapa kamu tampak begitu sedih?"

"Aku tidak sedih, aku hanya baru menyadari, ternyata sulit untuk bersikap seperti bapak."

"Ya, ya, jelaslah, bapak ya bapak, kita ya kita, sulit pasti, kalau kita ingin seperti orang lain."

"Benar sekali, tapi aku rasa apa yang bapak lakukan dari dulu itu sudah tepat. Bapak gak pernah sekalipun mengeluhkan masalah pekerjaannya di rumah. Bapak bisa benar-benar memisahkan kehidupan keluarga dan pekerjaannya."

"Yup, bukankah itu yang membuat kita mengidolakan bapak?"

"Iya, sekarang aku baru tahu, kalau itu tidak mudah. Bayangkan saja, dulu bapak selalu tersenyum kalau pulang ke rumah, menyempatkan waktunya yang sangat sedikit di rumah untuk beristirahat, malah dihabiskan untuk mengajari kita dan adik tentang pelajaran yang kita gak paham, masih sempat mengajak kita dan adik bermain, ditambah masih mengantarkan kita dan adik ke sekolah. Aku yang sekarang baru mulai kerja saja, sudah bisa membayangkan betapa capeknya bapak dulu."

"Jadi kamu ingin seperti dia?"

"Iya, ingin sekali, karena itu, aku belajar untuk tidak pernah mengeluh di depan teman-temanku, tapi itu sulit sekali, dan rasanya itu membuatku jadi semakin jauh dengan mereka. Tidak lagi ada obrolan yang intens dan mendalam seperti zaman kuliah, karena aku tidak bisa bercerita banyak lagi, mungkin aku sudah menjadi orang yang membosankan dan menyebalkan kali ya."

"Sepertinya kita hanya kesepian."

"Mungkin. Temanku di sini banyak, tetapi sepertinya yang benar-benar memahami dan menyayangi diriku sangatlah sedikit, atau bahkan mungkin tidak ada. Aku semakin merasa mungkin aku ada di sini karena aku masih dibutuhkan mereka, jika mereka tidak pernah membutuhkanku, aku mungkin tidak akan pernah di sini. Aku yang salah sih. Aku mungkin berharap tinggi pada mereka, sampai lupa kalau aku tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mencintaiku kecuali diriku sendiri. Orang-orang yang benar mencintai dan memahamiku ada di rumah sana, dan bodohnya aku tidak pulang, hanya karena berharap bisa menghabiskan waktu dengan seseorang yang bahkan tidak pernah mengingatku. Aku sepertinya tidak pernah belajar ya."

"Aku tahu, kita sepertinya lagi kesepian, rindu dan kecewa, 3 perasaan yang memang tidak menyenangkan. Teman-teman kita itu sudah mengerti seperti apa mencintai diri sendiri itu tapi bukan berarti kita tidak baik. Kita selalu berbuat baik bukan karena kita berharap sesuatu dari mereka bukan? Jadi itu alasannya kamu tampak murung seminggu ini. Kalau kamu butuh waktu untuk menyendiri dari semuanya, aku rasa itu bukan hal yang buruk. Jika mereka memang benar-benar sahabatmu, saat kamu kembali mereka akan tetap di sini. Sudah waktunya bagi kita untuk fokus pada diri sendiri terlebih dahulu, karena itu sesuatu yang bisa kita kontrol, sementara relasi dan perasaan orang lain, bukan kita yang atur, jadi buat apa dipikirkan."

"Iya, tapi rasanya sedih juga jika harus seperti itu."

"Well, tumbuh tidaklah pernah mudah bukan?"

Dear My Future Wife

True love worth the wait
That what I always believed
I know the world so demanding, darl
but I believe we could see it through

I know you will wait for me
behind that closed door
We tried to find each other
While trying not to lose ourselves

Please don't make me your priority
Making yourself priority is a must
Find yourself first before me
As I tried to find myself too

We might not be perfect
But we understand each other
Respected each other companion
And learned to grow together

I would do anything to be better
So you won't find it a waste
To wait for someone like me
All I need is your faith upon me

I know it won't be easy
But you won't see me giving up
Your heart to precious to be hurt
Please let me tried to keep it

Friday, 3 May 2019

Hai Alva, udah lama ya kamu gak ngobrol sama aku lagi. Kamu hutang cerita banyak sama aku. Kau tahu, aku membiarkanmu mengontrol diriku, karena aku rasa kamu sudah siap, lalu kenapa kau kembali lagi kemari? Kan kamu sendiri yang bilang, bahkan jika harus melangkah seorang diri, kamu akan tetap hidup. Ya aku tahu, tidak banyak orang di luar sana yang akan menerima jalan pikiranmu, kan aku sering bilang, apa kamu ingin aku lagi yang kendalikan tubuh ini? Kamu yakin, hahaha. Aku depresimu, aku gelapmu, aku bagian dari dirimu yang orang lain gak tahu, tapi saat kamu akhirnya mau menerimaku, disitu aku yakin, di luar sanapun akan ada yang nerima kita sebagai manusia. Kamu gak sendiri va, ada aku, dirimu sendiri di sini, aku akan selalu mendukungmu, bukan kah kamu sendiri juga yang bilang, kamu bangga dengan pencapaianmu saat ini. Sekarang anggap aja sebagai tantangan baru yang harus kamu hadapin. Ya perasaan memang makhluk buas yang sulit kita taklukin bersama, jadi kenapa harus dilawan, ride with it, think with it, feel with it, kamu adalah tuan dari perasaanmu sendiri, ke arah mana dia berjalan, harusnya kamu sudah paham. Ayo kamu lebih baik dari ini, di luar sana temen-temenmu butuh bantuanmu, klo kamu gak kuat, gimana kamu mau nolong mereka, stand and rise. I always be here to listen all your whine, even when no one listening you, here I am.

Sunday, 28 April 2019

I don't know what I really feel today. I don't wanna even get up from my bed, somehow it's so tiresome, I think I gonna come late to work. I am still wondering about her words last Saturday night.

The way she told me, how she can't shake off the feeling that there's something wrong about her. Listening to that make me sad. I do know how it felt, to be so down in the dump, that it so hard to not get lose of self confidence, but didn't she ever know, how she just fine as she is.

I looked up to her so much, her thoughts, her harsh word, always make the stupid me can think straight. Someday in the past, I even used to think that I am useless, that I don't think I have any good points either, but then, you and everyone kinda push me around everything. Told me to do this and that, I do mourning about it every single times, yet I'm truly grateful. I never thought you and everyone would accept someone like me. That's why, it's kinda sad for me, to hear how you burdened by someone who doesn't know your worth.

I am also wanted to say sorry, for how I responded to your story. I know I shouldn't push my opinion upon you, but I honestly care about you. Yeah it's not easy to forgive our own foolishness, yet we could grow up from it, that what I believe. So, just be yourself and make the best out of it, I knew you can, because I have see you did it in the past, and that's what I like about you.

Saturday, 6 April 2019

(Flash Fiction)

Cuaca sore itu sangat gelap, mendung menutupi wajah ibu kota. Aku bergegas berlari menuju halte terdekat. Aku tengok sebentar jam tanganku. Waktu menunjukan pukul setengah lima sore. Di mana ini busnya, batinku terus bertanya-tanya, karena bus yang tak kunjung datang. 

Apa aku naik ojek saja ya, pikirku yang semakin cemas akan langit yang semakin hitam. Pukul enam sore aku berjanji bertemu dengannya. Jarak sesungguhnya bukanlah masalah, namun kemacetan yang menjadi hambatan terbesar diriku.

Kuputuskan menggunakan ojek, kuminta sang supir memacu motornya dengan cepat. Aku tak ingin terlambat. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Setelah kami dipisahkan jarak, hari ini adalah kali pertama aku bisa membuat janji untuk bertemu dengannya.

Ojekku melacu dengan cepat. Bergerak lincah di antara rapatnya antrian kendaraan. Hingga sampai di sebuah perempatan, lewat mobil melintas dengan cepatnya. Aku teringat pandanganku menatap langit, dan tiba-tiba sekejap semua gelap. Aku paksakan membuka ke dua mataku. Aku melihat sang supir sudah dibawa oleh warga kepinggir jalan. Tak kurasa ada sakit pada diriku. Aku langsung teringat kembali akan janjiku. Bergegas aku naik ke bus yang berhenti di halte tak jauh dari perempatan itu.

Tibalah aku di tempat yang kami janjikan. Sebuah gereja dengan desain belanda kuno yang menjadi ciri khas kota ini. Aku lihat dia berdiri tak jauh dari pintu masuk. Aku berlari seraya memanggil-manggil namanya. Tak urung juga dia menolehkan pandangannya. Aneh, pikirku.

"Dia lama ya, tumben sekali dia terlambat." 

Aku terheran-heran mendengar ucapannya. Tak lama, lonceng tanda ibadah di mulai berbunyi, dan dia mulai melangkah masuk. Aku masih terdiam tak mengerti, kenapa dia begitu. Tak lama aku melihat sebuah mobil sedan di derek dan di belakangnya diikuti oleh sirine ambulan. Aku jadi teringat akan kecelakaan yang aku alami tadi.

"Itu kecelakaan di perempatan tadi, kasihan ya, katanya supir ojek sama penumpangnya tewas di tempat."