Thursday, 31 January 2019

Surat untuk masa depan

Hey nak, bagaimana kehidupanmu sekarang? Aku tahu hidup tidak pernah menyenangkan seperti di negeri dongeng, tidak ada kejaiban, dan yang baik tidak selalu menang, benar-benar menyakitkan. Aku tahu kau pasti akan banyak menangis, orang banyak akan menganggapmu cengeng dan lemah, tapi kau tahu, menurutku itulah kekuatan yang sejati, selama kau tahu alasanmu untuk menangis, kau tidak perlu merasa malu, darisitu kamu akan belajar apa kekuranganmu, kamu akan semakin mengenal dirimu sendiri. Sangat sedikit sekali orang yang benar-benar mengenal dirinya sendiri di dunia, mereka terlalu takut untuk melihat dan memahami kelemahan mereka sendiri, hingga mereka harus terus hidup dibalik topeng yang mereka buat. Aku tidak akan menilai mereka sebagai sesuatu yang buruk, karena itu memanglah cara termudah untuk tetap terus menjalani hidup.

Aku pun pernah hidup dengan topeng tersebut, hingga hidupku benar-benar terasa kosong. Tak ada satu orang pun yang benar-benar mengenal diriku. Aku merasa sendirian meskipun temanku banyak. Hingga aku merasa kalau keberadaanku tidak ada artinya, seolah-olah aku memang sudah mati. Tapi, semakin aku berfikir untuk mati, semakin aku ingin tetap hidup. Aku beranikan diriku untuk membuka topeng tersebut, tidak mudah untuk jujur terhadap orang lain, terlebih lagi pada diri sendiri, dan aku temukan mereka yang benar-benar mengenalku, yang peduli padaku apapun kondisiku, membuatku semakin ingin hidup, hidup 1000 tahun lagi. Ya manusia memang tidak ada yang kuat, semua lemah, namun kelemahan itu yang akan membuatmu semakin bijaksana dan baik hati, kau akan sadar kau tak akan bisa menyelesaikannya sendiri, karena itu manusia jumlahnya banyak bukan? 😁😁

Friday, 25 January 2019

Kusentuh dan Kudengar ( -1- )

Siang ini langit mendung sekali, seperti biasa, aku dan Leo pulang sekolah bersama, biasanya kami akan pulang bertiga dengan Diana, tapi sepertinya dia ada latih tanding. Kami bertiga sudah berteman lama, sejak kami masih SMP. Leo cowok berbadan tinggi dan besar, dengan pandangannya yang selalu tampak tajam kepada orang asing, serta rambutnya yang urakan, kerap kali membuatnya dikira sebagai berandalan.

"Ayo Rei, jangan kau melamun terus, cepat kita bisa kehujanan di jalan." Leo memanggilku untuk bergegas naik ke bangku belakang sepedanya.

"Ya, sebentar, aku buka payungku terlebih dahulu."
Setelah aku naik, Leo segera memacu sepedanya dengan cepat. Ambarawa saat ini sedang sering sekali hujan dan nampaknya kami akan kehujanan di jalan.

"Rei, kita ambil jalan pintas lewat Kerep bagaimana?"

"Boleh saja, jika hujannya terlampau deras kita bisa mampir sejenak."
Jalanan menurun di Kerep membuat payungku terasa percuma. Aku meminta Leo untuk melambatkan laju sepedanya tapi dia tak merisaukanku. Hujan nampak semakin deras, dan kami pun berbelok sejenak ke dalam gua Maria Kerep.

Teringatlah aku akan kenangan kami bertiga saat masih kecil. Kami sangat senang bermain di tamannya. Sekarang kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa jika kemari.
Saat aku mengalihkan pandanganku ke arah patung Bunda Maria, aku melihat seorang perempuan sedang duduk di depannya. Penampilannya sangat aneh, dengan kaca mata besar, masker, dan rok panjang, namun aku melihat sepertinya dia hanya mengenakan jaket saja. Aku menghampirinya, benar saja, dia hanya menggunakan jaket kain, dia nampak terkejut saat melihatku menepuk pundaknya.

"Sudah kuduga, kau tidak memakai jaket hujan, ini kuberikan payungku, kau nampak sedang bersungguh-sungguh berdoa, mereka bilang, kalau kau berdoa dengan sungguh di sini, semua permohonaanmu akan terkabul." Aku tidak tega melihatnya yang sedang berdoa itu basah kuyup. Kuperhatikan dia hanya mengangguk saja, aku tak mampu melihat wajahnya dengan jelas yang tersembunyi dibalik masker. Badannya yang kecil, mungkin dia anak SMP, aku tak tahu apa yang diharapkannya, namun aku tak mau mengganggunya, akupun berpamitan padanya. "Aku tak tahu apa yang kau doakan, tapi percayalah, semua akan baik-baik saja, karena aku juga sering berdoa di sini." Aku segera kembali pada Leo yang sedari tadi memperhatikanku dengan penuh tanya.

"Apa yang kau lakukan Rei?"

"Tidak apa, aku hanya kasihan melihatnya, sepertinya dia sedang ada masalah, berdoa dengan sungguh di tengah hujan begini."

"Kau selalu saja begitu, Rei, lalu kita bagaimana, tidak ada payung lagi?"

"Kau idiot? Kau pikir payung tadi berguna jika kau bersepeda secepat itu. Sudahlah ayo kita trabas saja.

Kami segera kembali ke rumah dengan menerjang hujan. Sesampai di rumah seperti biasa ibuku, mengomeliku yang basah kuyup, dan beliau menanyakan ke mana payung yang dia berikan. Aku ceritakan padanya apa yang kualami tadi, meskipun sepertinya agak kesal, tetapi beliau memakluminya.

Keesokan harinya, aku berangkat sekolah pagi benar. Aku ingin latihan pagi bersama tim basketku. Akhir pekan ini, kami akan bertanding melawan sekolah lain di Semarang.

Hari ini sangat cerah, membuatku semakin semangat untuk memulai hari. Sesampainya di gerbang sekolah, aku melihat Leo dan Diana sudah tiba, mereka melambaikan tangannya ke arahku, aku bergegas menghampiri mereka. Kami sudah sangat akrab sejak dulu, aku tidak ingin berpisah dari mereka, namun begitu ada satu hal yang selalu menggangguku. Rasa sukaku pada Diana. Hal ini hanya menjadi rahasiaku dan Leo saja, karena Leo mampu membaca pikiranku tanpa aku harus bercerita, dia selalu berkata, aku mudah ditebak dari raut wajahku saja. Tidak ada hal yang bisa kututupi darinya, mungkin karena kita telah lama bersama.

Pagi itu, latihan berjalan lancar, kerja sama tim kami semakin baik, kami yang masih junior pun mulai bisa menyatu dengan permainan dan strategi para senior. Aku sendiri merasa lay-up dan shooting ku semakin baik. Masih teringat jelas bagaimana pahitnya kekalahan di semifinal regional jawa tengah, saat aku kelas 3 SMP dahulu. Kala itu aku dan Leo benar-benar terpukul akan hal itu, karena masuk final adalah impian kita saat itu, namun Leo tetap tabah, dan berusaha menyemangatiku.

Selesai latihan pagi, kami kembali ke kelas, lalu tiba-tiba Leo menghampiri mejaku.

"Kau tahu Rei, aku dengar kabar, katanya ada anak baru." Kuperhatikan wajah Leo dengan seksama, sepertinya dia sendiri tidak yakin.

"Anak baru itu, laki-laki, atau perempuan?"

"Aku juga tidak tahu Rei, kalau laki-laki bagaimana kalau kita ajak dia ke tim basket?"

"Boleh juga, Leo, semakin banyak orang semakin baik."

"Ehem.. apa yang kalian bicarakan itu, seenaknya saja menentukan dia akan bergabung dengan kalian, jelas jelas dia pasti perempuan, akan kuajak dia bergabung dengan timku."

Diana tiba-tiba nimbrung dalam obrolan kami, sikapnya yang tidak mau kalah itu memang tidak pernah berubah dari dulu.

"Tidak tidak, aku tahu kalau ini pasti cowok.."

"Tidak Leo, dia pasti cewek.."
Terjadilah perang argumen antara dua orang ini.

"Kalian, sudahlah permasalahan seperti ini saja kalian ributkan pagi-pagi, tapi ucapan Diana ada benarnya juga, kita belum tahu pasti siapa murid baru ini." Perilaku mereka selalu saja mengundang rasa geli, aku tak tahan untuk tertawa melihat mereka.

"Kalau dengan Diana, kau pasti akan selalu berpihak padanya Rei, huh.." Aku terkejut mendengar ucapan Leo tersebut, aku berusaha menyembunyikan rasa maluku.

"Iyalah pasti, Rei dari dulu orangnya pengertian, gak kayak kamu Leo.." ucapan Diana tersebut seolah-olah memantik rasa yang ada dalam diriku.

"Tapi, apa kalian tidak merasa ada yang aneh, pindah di tengah-tengah semester begini?" Aku berusaha untuk mengubah arah pembicaraan.

"Entahlah, mungkin urusan keluarganya.." Leo nampak kebingungan.

"Kita tunggu saja, nanti juga kita tahu sendiri." Diana memberikan pendapatnya.
Bel tanda masukpun berbunyi. Kami mulai kembali ke tempat duduk kami masing-masing. Wali kelas kami ibu Fani masuk ke dalam kelas. Beliau mulai mengabsen nama kami satu per satu.

"Bagus, sepertinya semuanya hadir hari ini. Mungkin ini jadi awal yang bagus untuk perkenalan." 

Beliau berkata sambil tersenyum. Namun perkenalan yang dimaksud, jangan-jangan murid baru itu. Ibu Fani berjalan keluar kelas, beliau mempersilahkan seseorang untuk masuk. Seisi ruangan tampak terpaku ke arah pintu kelas. Nampaklah seorang cewek dengan rok panjang, baju berlengan panjang, sarung tangan dan masker yang menutupi wajahnya, tak lupa juga kacamata besar, badannya yang kecil, rambut sebahu yang urakan, membuatnya nampak seperti cewek yang kemarin kutemui di Kerep.

Aku tak mampu menahan rasa terkejutku, "Kamu, cewek patung itu.." tanpa sadar aku berteriak, dan hal itu disambut tawa oleh teman sekelasku. Mereka mengira aku memberikan julukan padanya, padahal bukan itu maksudku. Aku melihat dia hanya tersenyum saja.

"Rei tolong berikan waktu untuk dia memperkenalkan diri." Bu Fani mengingatkanku. Aku meminta maaf dan mulai duduk kembali.

"Terima kasih atas waktunya, perkenalkan aku Malena Candra, kalian bisa memanggilku Lena, ayahku bernama Malena Tri, dan Ibuku Elisa Ayu. Aku seperti anak lainnya, jalan waktu umur 1 tahun berbicara umur 2 tahun. Waktu umur 3 tahun, tanganku pernah patah karena jatuh dari tangga, dan meskipun aku pernah kena bermacam-macam penyakit, aku bisa melewati semuanya hingga SMA. Moto hidupku, jangan kenal siapapun, jangan mencolok, dan tetap menyendiri. Aku tidak pernah ikut kegiatan apapun dan aku berharap semuanya itu tetap berjalan di SMA ini. Terima kasih." Dia memperkenalkan dirinya dengan unik sekali, aku sampai tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Jam istirahat siang tiba, kami bertiga sembunyi-sembunyi pergi ke gor basket sekolah kami. Seperti biasa setelah makan siang kami menghabiskan waktu bermain basket.

"Lihat, murid barunya cewekkan, itu artinya, aku menang taruhan, dan kalian harus mentraktirku." Aku tidak pernah tahu tentang taruhan itu, dan saat melihat Leo, dia hanya tersenyum senyum saja. Sepertinya ini memang ulahnya.

"Tapi diakan bilang, dia tidak pernah ikut kegiatan klub apapun, jadi tidak bisa dijadikan taruhan." Aku mencoba mengelak.

"Kau jahat Rei, kukira kamu ini cowok baik-baik lho, janji gak ditepati, sampai-sampai ngejekin anak baru pula." Diana nampak mengolok olokku.

"Sudah, biarkan saja, nanti kamu makan sama Diana saja, kan asik tuh makan berdua.." Leo menggodaku, dan aku membalasnya dengan melempar bola agak keras ke arahnya, namun bola tersebut lepas dari tangannya dan berbelok keluar arena. Aku bergegas mengejar bola tersebut, karena jika sampai ketahuan guru, kita bisa dihukum. Bola itu meluncur sangat cepat, saat aku melompat hendak menangkapnya, tiba-tiba Lena lewat di depanku, kami bertabrakan, dia terjatuh dan tak bergerak.

"Ada apa Rei, apa kau baik-baik saja?" Leo datang berlari dari dalam arena.

"Iya, aku baik baik saja, tapi Lena sepertinya pingsan."

"Lena? Owh anak baru itu ya, bagaimana, apa kita bawa ke UKS?"

"Sepertinya dia hanya kepanasan.." Diana lalu menggulung lengan baju Lena, membuka masker dan kacamatanya. "Cepat kalian angkat dia ke dalam gor, aku akan mencari handuk basah dan air minum." Diana bergegas berlari ke kelas. Aku dan Leo memindahkan Lena ke dalam ruangan.

"Jika ada orang lain yang melihat kita, mereka bisa berpikir yang tidak-tidak."

"Untunglah tidak ada siapa-siapa Rei, tapi tak kusangka, kita bertemu dia lagi secepat ini, kukira dia masih SMP kemarin ternyata seumuran kita. Hahaha.."

"Aku juga berpikiran seperti itu, namun entah kenapa dari kemarin nampaknya dia selalu berpakaian seperti ini, apa dia tidak kepanasan?"

Tak lama Diana tiba. Setelah kami mengkompres kepalanya, perlahan matanya terbuka. Aku bergegas mengangkat kepalanya dan mulai memanggil manggil namanya. Tiba-tiba dia menjadi panik, lalu mencari cari sarung tangan, masker dan kacamatanya.

"Maaf dan terima kasih.." Lena lalu berlari dari gor.

"Apa yang barusan terjadi.." Diana nampak kebingungan.

"Aku tak tahu kenapa, tapi aku harus minta maaf ke dia, kalian berdua kembali saja duluan ke kelas." Akupun bergegas mengejar Lena.

Nampak sekilas Lena memang seperti orang yang tidak pernah berolahraga, namun siapa yang kira dia cukup cepat dan gesit, hal ini membuatku berpikiran sepertinya dia selalu berusaha menghindar dari orang lain. Setelah cukup lama berkeliling sekolah mengejarnya, aku berhasil meraih tangannya. 

"Lenaa!!" Aku berteriak padanya, dan dia menghentikan larinya, aku mencoba mengatur nafasku kembali, "Apakah permohonanmu kemarin terkabul?" Dia nampak kesulitan untuk berbicara. "Kenapa tidak lebih baik kau lepas saja masker tersebut?" Aku masih terheran dengan cara berpakaiannya.

"Haah.. nampaknya aku sudah mengingkari janjiku dengan Bunda Maria.."

"Kau tidak mengingatku? Aku yang kemarin di Kerep saat kamu sedang berdoa. Apa kau baik-baik saja? Aku mau minta maaf karena tadi sudah memanggilmu dengan sebutan yang aneh di kelas tadi." Aku mencoba meminta maaf kepadanya.

"Haah, tidak apa, panggilanmu tadi itu tidak lebih buruk dari panggilanku sebelumnya, bahkan kehadiranku tak pernah dianggap, ya, aku berterima kasih karena kau memanggilku terlebih dahulu, tapi, sepertinya permohonanku sudah gagal."

"Hah?" Aku masih mencoba menangkap apa yang dia maksudkan.

"Ya setiap kali aku pindah, aku selalu mengunjungi gereja terdekat untuk berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh dari hatiku yang terdalam, tetapi tak pernah permohonanku sekalipun terkabul, ya, mungkin ini memang kutukan, karena aku sendiri tak pernah percaya kalau hal itu akan terwujud."

Tak aku duga sebelumnya, ternyata dia sudah sering berpindah sekolah. Apa hal itu yang selalu menjadi beban pikirannya? Kalau begitu, mungkin permohonannya tersebut adalah mempunyai teman bukan? "Kau tahu Lena, aku mungkin tidak pernah berpindah sekolah sepertimu, namun aku juga selalu berdoa di Kerep seperti kamu kemarin setiap kali aku mendapat masalah, dan aku sudah bilang bukan, Kerep itu tempat yang ajaib, sebagai orang yang berdoa di tempat yang sama, aku percaya, doamu pasti terwujud." Kataku padanya dengan penuh senyum dan kesungguhan hati. Lena hanya terdiam, dan tiba-tiba ia berlari. Bel tanda istirahat selesai berbunyi, aku kembali ke dalam kelas.

Sebuah tangan besar merangkul dan menariku dari belakang. "Jadi bagaimana Rei, apakah Lena baik-baik saja?"

"Sepertinya begitu.."

"Kau ini, sukanya kepo mulu sih.."

"Apaan dah?"

"Bercanda-bercanda, perhatian memang salah satu kelebihanmu." *Aku tak pernah menyangka, Rei tertarik dengan cewek seperti Lena.*

"Gembel, jangan bicara yang aneh-aneh."

"Hah? Aku barusan memujimu lho."

"Leo, kamu belajar ventriloquism?"

"Apa pula itu??"

Aneh sekali, aku seperti mendengar ucapan Leo di kepalaku. Apa mungkin aku yang salah dengar? Ah sudahlah, pelajaran sudah akan di mulai.

Hari ini aku langsung pulang ke rumah, Leo sedang ada kerjaan di rumahnya, dan Diana ingin nongkrong dulu dengan temannya. Lagipula besok ada kuis, aku mau langsung pulang dan belajar.
Malam itu, aku belajar sembari mendengarkan musik favoritku, hingga akhirnya seseorang menutup mataku dengan kedua tangannya.

"Tumben serius belajarnya mas?"

Ternyata adikku Shelia datang masuk ke dalam kamarku. "Sudah kubilang berapa kali Shel, ketuk pintu sebelum masuk."

"Aku sudah ketuk pintu berkali-kali tapi mas gak nyahut, yaudah aku masuk aja."
Mungkin aku terlalu berkonsentrasi dan musik yang kuputar terlalu keras, "Ya udah kamu mau apa?"

"Besok temen-temenku mau main ke rumah, aku pinjem kamar kakak buat main game ya?"

"Hah? Kenapa harus ke kamarku, kau tahu besok aku ada latihan, dan pulangnya aku ingin langsung tidur." Aku menolaknya.

Shelia langsung menggenggam kedua tanganku, kebiasaannya dari dulu jika ingin meminta sesuatu. "Ayolah mas, sekali sekali buat adekmu seneng, kamar mas kan lebih besar dari kamarku." *Aku bisa sekalian pamer, kalau aku punya mas yang ganteng dan jago main basket.*

"Hah? Terima kasih Shel, aku tak pernah menyangka, kamu menganggap mas seperti itu, tapi mas gak yakin kalau teman-temanmu nge fans sama aku."

Shela terdiam membisu, raut wajahnya berubah menjadi panik seketika. Dia lalu keluar kamarku. "Hah, mas bilang apa?"

"Bukannya kamu sendiri yang barusan bilang, kamu mau pamer ke temenmu kalau punya mas yang jago basket?"

"Ibuu.. anak cowokmu jadi aneh.." Shelia berlari keluar kamarku seraya menutupi wajahnya dengan bantalku. Aku masih terheran dengan kejadian barusan, ternyata tidak hanya saat dengan Leo, tapi Shelia juga. Aku seperti mendengar dua  buah suara. Semuanya terjadi saat tanganku bersentuhan dengan mereka.

Sunday, 20 January 2019

Fireflies

And after dinner we take a little walk to enjoying all the lantern that were hanging out in the street. Where then she start sighing again. "I wonder why he didn't noticed me after all the things that I've done."

I flicked her head with my finger, and pointed her out to an upper ceiling. "Do you see that?"

"Wah, a fireflies.."

"Do you know why you realize it so fast, despite it is so small and all of that lantern in the food stall?" She look confused. "Because it's different, and it's flying higher, that's why you could notice it faster. The thing is, it just like you, you think he is different, that he is stand above other and that make you belittle yourself. How can you hoping him to see you, if you're belittling yourself? You need to be there, up there, and be yourself and spark your light, it's doesn't matter if you're big or small, as long as you put yourself up there, everyone will notice, and I believe there will someone who notice you just being you." I don't realise I talked that long, when I saw her face, I can she smiling again, the biggest one that I ever saw.

"There you go, so being a writer does make you a wise man."

"What, you made me sound like an old man."

"Hahaha, anyway, thank for accompanying me today."

"No worries, just remember even though you're small and annoying, I will always found you sparkling." I look her face start turning red, and it's look cute, I didn't realise I blurted it out. I hope she doesn't hate me, even if she did, I just wanted to savour this moment while it last.

Saturday, 19 January 2019

Unravel

Oh, ceritakanlah
Ceritakan padaku bagaimana semua berakhir?
Iblis dalam hatiku
Membuatku rapuh
Rasa sakit yang tersembunyi
Dibalik dunia ini

Kau melihatku tersenyum dan tertawa
Tapi kau tak akan mengerti
Betapa lemah dan rapuhnya aku
Bernafaspun rasanya sulit
Semua terurai dan mengurai
Semua kenyataan yang kutemui
Dapat kutemukan dalam dirimu

Dan sekarang aku perlahan
Mencoba menghilang dari dunia semu ini
Jangan kau cari, biarkanku hilang
Tutuplah matamu, alihkan pandanganmu
Aku tak ingin melukaimu
Hanya satu pintaku,
Ingatlah bagaimana aku pernah bersinar

Terkurung dalam kesepian
Kenangan akan asa
Perlahan menyiksaku
Sakitnya tak dapat kutahan
Mencoba melangkah, kucoba bernafas
Hingga kusadar
Kutak sanggup, kutak sanggup
Duniaku telah mati

Aku bukanlah aku yang dulu
Jangan kau sentuh luka ini
Kau sentuh dan kau kan terluka
Menjauhlah dan hiduplah
Biarkanku menghilang, sendiri
Dan kau tak terluka
Hanya satu pintaku,
Ingatlah bagaimana aku pernah bersinar

Monday, 31 December 2018

7 Colored Penguin

It's story about a beautiful penguin living in her own house. She hate to go outside, because she afraid if everybody bad mouthed her. So she live in her white and grey house.

One day a little bunny walking around her house. She get a peek of the penguin that lurking in the house. She thought, "Wow, what a beautiful creature she is." Then she knocked the door of that house. The penguin got surprised, she never expected that someone would end up in front of her door. The penguin asked The Rabbit, what business The rabbit has with her. The rabbit asked her, why she never saw her outside. The penguin answered, "I'm too ugly to go outside." The rabbit shocked, to hear her answer, so she make her way in, and hold the penguin hands. "No you're the most magnificent creature I ever see, it's such a waste for you to stay inside the house." The rabbit then take her to go outside.

They are running around the forrest, the swamp, and the lake. Then they're met the dog, the dog look amazed by the beauty of penguin, and he asked them, "Who is she rabbit?".

The rabbit answer him proudly, "It's my new friend, she is a penguin."

"Wow, how could I never knew someone as beautiful as you?"

"You know, she is quite a shy person, and always let herself holed up in her house."

"What a waste, you should be more proud of who you are." The dog tried giving the penguin an opinion. The penguin nodded bashful.

"We are going to the coast, are you in?" Asked the rabbit to the dog.

"Sure, why not." The dog agreed.

Along the journey, the three of them starting to talked to each other. Even though the penguin not actively start the conversation, but the others tried to keep her on. Until they met a bear along the journey. The bear seem so gloom, he sit there upon a broken trees, look up to the skies. The dog reaching him, and asked, "What are you doing bear?"

The bear surprised, "Nothing really, it's just my painting doesn't progress well." As he look around, he looked at someone strange. The penguin uncomfortable by the gaze of the bear, she hide herself behind the rabbit. The bear moving closer, he pat her head and said, "What a cute little creature you are, may I know what is your name?"

Hesitating to answer, the penguin tried to be brave, "I.. I'm penguin..".

Knowing that he make her uncomfortable, the bear going back to where he sat before. Taking up his canvas and start sighing. Suddenly a wind blowing a little harder. Some of his paintings got blown up and ended up scattered all over the place. A painting ended up fall in front of the penguin. She look at it carefully, and she mesmerized by the colour of the rainbow in the picture. "What a wonderful colour." She said it unknowing that the bear was standing in front of her.

"You think it's beautiful?" The bear asked her.

"Yes, It's wonderful, can I got one?" The penguin asked him.

"I am sorry, but I think I am going to quit painting." The bear start collecting all the painting again.

"You know, I never know what colour really is, but after seeing your painting made me realise I want to see more of it. You shouldn't give up, I want to see your painting again." A little voice of the penguin shake the heart of the bear. He wondering, how can such a little creature could shake his world. "If I could asked, where did you saw that?" The penguin pointing out to the picture of rainbow.

"I saw it by the coast." The bear answered.

"That's great, we are all going to the coast, you should come with us, and start painting again." The penguin suggest him to come.

"I am done with painting, I am not going." Then the penguin catch his paw and start dragging him. The bear surprised, there's no way she could drag him along. So the bear stood up and said, "You sure remind me of my old self, do you really want to see my painting again?" The penguin nodded, so the four of them continuing their journey to the coast.

The wind suddenly growing stronger and become more violence, when suddenly a pigeon coming from the skies. "Hey you guys, you better find some cover, there's storm coming this way. Follow me.." the pigeon giving them a direction toward a cave. Not long, the storm coming, and a heavy one at that. Thankfully they're reach the cave unharmed.

"What a bunch of lovely group you are." The sound coming from inside the cave.

"Don't worry everyone, it's my friend the goose." The pigeon start introducing her friend.

"Who are you both?" The penguin curious by the two strangers that appears before them.

"Well, I am a pigeon, I may a bird just like you, but I can't swim, just like you who can fly." Said the pigeon.

"And, I am a goose, I am a bird just like you and pigeon, even though I could fly and swim but I couldn't do it better than both of you. You could just say that I am jack of all the trade. Hahaha.." the goose introducing herself proudly.

"I wonder how you know about me?" The penguin asked.

"Of course we know, we are bird, often going on a long way journey, so we often met your family along the way." The pigeon giving her explanation.

"As the matters, it's our first time to see you around here, where have you been?" The goose asked her.

"She is just a shy type, she never talked to much to everyone." The rabbit answer it.
Then she start told a story how it's all begin. From the moment she saw her in her house up to when they met them.

"You are such a worrywart penguin, everyone has a good and bad point, just like you and me. I won't able to swim, no I think everyone in here couldn't able to swim better than you, so there's no point for everyone to make fun of you. You should be more proud of yourself and what you can do, rather focusing on what you can't." The pigeon giving her a lecture.

As the time goes by, the storm getting heavier, when the penguin start to wonder if it's alright for them to continue, because she think everyone just following her wish. "Maybe we should just give up, going to the coast."

That word shocked up all of her friends. "Said someone who want to see my painting." The bear spoke up. "You know penguin, the moment you said you wanted to see my painting once again, give me some hope that someone eventually would understand my painting and it give me courageous to start again."

"But.. but, it seem because of me, we are trapped in this storm, when you're just following my wish." Said the penguin as she start to cried.

"You wrong, it's not your fault, we are trapped in this situation, we starting this journey together, and we finish it together." Said the rabbit.

"I am enjoying this journey together, because it was fun to do something together, to crying together, so don't said it was your fault, we are in this together, so we would never be alone." Said the dog.

"You know, the more you close to someone, the more painful your word to them, but it's also painful to let them go, so be careful of what you wanted to said to your dearest one, if you unintentionally hurt them, you guys can always forgive one each other." The goose wisely giving them a prep talk. They start hugging each other and fall into a deep sleep.

The morning come, the sun start peeking out in their cave. The rabbit know it, and start waking up everyone. As the sun goes high, the coast look so close by. They're starting run off the hill, and within a minute they reach the coast. The dog start facing his face toward the sea and let the wind calmly brush his fur, the rabbit imitating him and stand beside him. The pigeon and the goose flying toward the blue skies and catching up each other. That leave the bear looking up so hopefully, "Look penguin, that what rainbow is." The bear pointed out to the rainbow in that clear blue skies.

The penguin come closer, she stood beside him, and start look up to the skies, "It so beautiful, that 7 colored skies, remind me of the green grass, the water, the sand, the skies, and colour of everyone, so everyone does have different colours, I wonder what colour I am.."

By: Rainerus Alva
Adapted from: Irozuku the world of Color