Wednesday, 23 May 2018

Belum Ada Judul Ch7

Ternyata dia Yuli, senior yang tadi pagi berkenalan denganku di lobi.

"Hai, Roi kan?"

"Hahaha, iya mbak, gak nyangka ketemu lagi."

"Huss.. sudah kubilang tidak usah pakai mbak.."

"Maaf mbak belum terbiasa.. hehehe.."

"Hmm, klo begitu biasakanlah mulai dari sekarang.."

"Aku akan usahakan mbak, ehh Yul.."

"Hahaha, baiklah Roi, kau ditempatkan di asrama Spadona juga ya?"

"Iya, klo mbak Yul, di asrama mana?"

"Duh, make mbak lagi, aku juga di asrama ini Roi, aku kelas 2, itu artinya mulai sekarang kita tinggal 1 rumah."

"Haahhh... 1 rumah mbak? Berarti 1 gedung asrama ini campur?"

"Yupp.. kamar kamar untuk anak kelas 1 ada di lantai paling dasar, kelas 2 di lantai 2, dan terakhir kelas 3 di lantai 3, ya sudah kau masuk dulu saja Roi."

Aku mulai masuk ke dalam bangunan tersebut. Aku bisa melihat ruang tengah yang besar lalu terdapat lorong dibagian utaranya yang nampak seperti kamar kamar di kanan kirinya, sebelah barat terdapat ruangan yang nampak banyak sekali buku buku tertumpuk di rak, semacam perpustakaan kecil, di sebelahnya juga tampak ada ruanganya yang nampaknya seperti dapur. Hiasan hiasan lukisan pedang menghiasi dinding rumah tersebut.

Aku mendengar suara orang berbicara dari sebuah ruangan di sebelah timur, nampaknya itu seperti aula mini, di dalam nampak seseorang sedang berbicara di depan. Aku melihat ke kerumunan orang tersebut, dan kulihat Icad duduk di sana bersebelahan dengan wanita judes tersebut.

"Kau nampaknya terkejut dengan ini semua Roi." Suara Yuli mengalihkan perhatianku sejenak dari ruangan.

"Ya, ini pengalaman baru bagiku. Aku merasa sangat bergairah namun disisi lain aku merasa sedikit cemas."

"Tak perlu kau pikirkan Roi, semuanya akan baik saja tanpa kau sadari." Yuli mencoba menenangkanku dengan tersenyum. "Lihat di ruangan itu, itu yang sedang berbicara namanya Bobi, dia ketua asrama ini. Dia sedang menjelaskan apa yang perlu kita lakukan, semacam rule of play. Setelah kuantar kau ke ruanganmu, kita bisa segera bergabung dengan mereka."

Aku menuju ke ruanganku satu kamar untuk empat orang. Ruangan itu besar sekali, dengan masing-masing empat buah lemari, empat buah meja belajar dan kursinya, serta dua buah kasur bunk bed. Aku penasaran sekali, siapa saja teman kamarku, aku melihat mereka telah meletakan barangnya masing-masing di atas kasur, aku melihat hanya tersisa satu kasur bagian atas. Baiklah, tak ada bedanya menurutku. Setelah kuletakan tasku, aku bersama mbak Yuli kembali ke aula asrama tadi.
Sesampainya di depan pintu, mbak Yuli mengetuk sekali lalu masuk ke dalam. Dia membisikan sesuatu kepada mas Boby dan dia kemudian menengok padaku dan menyuruhku masuk.

"Sepertinya kita ketinggalan satu orang anak baru, silahkan perkenalkan dirimu." Mas Boby memintaku untuk memperkenalkan diri. Aku melangkah masuk, ku perhatikan ruangan tersebut, ramai sekali ada kiranya seratus orang di sini, namun sepertinya ini tidak menjadi masalah dibandingkan saat upacara tadi. Nampaknya mereka pun sadar, aku adalah  anak yang tadi kena omelan kepala sekolah.

"Perkenalkan namaku Roi Setya Jati, panggil saja aku Roi, salam kenal."

"Baiklah Roi, silahkan duduk, karena sesi perkenalan sudah lewat, silahkan kau berkenalan sendiri ya." Mas Boby mempersilahkanku untuk duduk. Sejenak  kuperhatikan seisi ruangan, bangku sebelah Icad sudah terisi, lalu aku melihat ada sebuah bangku kosong di sudut kanan ruangan, akupun memilih duduk di sana. Mas Boby melanjutkan pembicaraannya, bagaimana peraturan di asrama ini, dan budaya yang ada di dalamnya. Aku tak begitu tertarik akan hal itu, jadi aku tak  begitu memperhatikannya. Kulihat bangku depanku seorang cowok, dan sebelahku seorang cewek. Cowok depanku ini tidak lebih tinggi dari padaku, dan dari rambutnya yang dipotong pendek rapi, aku rasa dia anak baik-baik, yang menarik adalah cewek di sebelahku, dia kecil, mungkin tinggi cewek biasa pada umurnya, wajahnya manis, rambutnya hitam panjang mengombak, namun semenjak ada sesi bertanya, dia selalu menanyakan berbagai hal. Aku melihat ke arah jendela, terdapat hutan yang rimbun, dan tampaknya sangat teduh, pikiranku masih bertanya apa hubungan kedua orang tuaku dengan kepala sekolah.

(-cont)

Saturday, 12 May 2018

So today I read this one manga, I forgot the title tough. This one stories really are a heart breaking. And in way one another made your mind guessing all along.

So the story was about a boy who accidently met a girl that look kinda weird because of her appearance. The boy, the main character is to be happened to saw her praying in the pouring rain, so he lent her his umbrella. In the next day, coincidently the girl was a new student in his school and they bound to be in the same class.

That girl weird appearance and her lack of socially skill made her become a joke all of students in the class, and honestly the boy stood up for her and tell her that he would be like to become her friend. That was the moment the girl realize, she was fall in love with him.

Then the next day, a trouble rose up. The boy was freaking out because he able to listen to other mind. Everytime he touch everyone he read their mind. That troubling up his life, even more because he was a basket ball player. So, when in practice he decided to rest because all of the voice of the other mind that run to his head. At that time his friend, a girl, and also he secretly had a crush for her, come to cheer him up. By that time, he accidentally touch her, and hear something in her mind that shock his heart a lot, that she was fall in love with his best friend, oh yeah, the main character has a best friend since middle school, and his best friend always supporting the main character feeling toward her crush, and really the 3 of them were always been together since long time. What a mess up story i think, and somehow I got the main character feeling in this one.

So, after knowing that, wait I'm hungry I will continue this soon.
Ok let's continue, so after knowing that, the main character unconsciously avoiding both of his friends. His crush wandering why he was acting like that. After that he going up to the school roof, and meet up with the weird girl. The weird girl ask him if he able to hear the other people thought or not, and she sincerely apologising for it to be happened because she fell in love with him. The boy was shocked and asked if there anyway for him to be normal again. The girl tell him, that if she able to forget her feeling for him, he will become normal again, and for that she will help him to get together with his crush with her ability, so the girl have the same ability that why both of them can't tell the other thoughts. More or less the girl ability far more stronger than him, that make her able to tell the feeling in everyone thought.

How nice both of them have that kind ability, I wish I could have one too. If I've that kind of ability too, I wouldn't have to get through what I had in the past. Even more or less the main character remind me of myself. So let's back to the story.
Even though he tried to not think about it so much and pretending that anything never happened. He unable to keep up his composure, he forced himself to laugh when the three of them together, but that just blew it up. Both of his friend notice it. So they suggested to hanging out in some cafe. His best friend left first with an excuse that he need to help his father with a job, and the weird girl decided to come alongside him. That make the boy and his crush left alone in this cafe. The girl teasing him around about how he handle the rejection, oh yeah the boy tell his crush that he got rejected by a girl he longing for so long, that what make him like that before. Then like we can guest, the boy using his ability to know how she really feel. That another unexpected truth revealed, the girl was minding if it's alright for her to ask him about her confession to his best friend. The boy was shocked, he just stood up then leaving the cafe. He ended up in some park nearby, I think, then not so long the weird girl come. She asked whether he know the truth, he said yes, and that frustrating him so much. Oh yeah, I forget to tell that the weird girl and the boy actually planning to read both of the boy best friend mind and his crush so they can take benefit from it.

The weird girl consoling him, but the boy letting out a loud of voice, and just that the girl he has crush for pushing by. The girl he has crush for never realized if the boy knew about the confessions all along. So the weird girl step up and bending the truth a little bit to help the boy get into a better point of view. Then he asked the girl what his best friend answer is, then it turn out to be she got rejected by his bestfriend. Then the situation turn around the boy and the weird girl consoling her about it. Then after sometime they decided to go home, before the separated the weird girl ask her, how can she still be friend with him (the boy bestfriend), and she answer that she didn't want the relation that the 3 of them had to be broken, so she decided to just forgetting about the confessions ever happened. The weird girl got confused because the answer she give and the boy bestfriend give somehow different.

Ahh so tired to type this all, let's continue it some other time, really the stories was very interesting.

Reading

I love reading so much, I could take one full day just to reading, even though most of it were novel and manga, but I really learn a lot from its. I know a lot of things like technologies, myths, histories, gastronomy, and anything else. I really like the way the writers made their stories, sometimes it just a plain situation throughout the stories or the situation that changing throughout the time, and somehow made my head thinking what more.

I really wanted to be like that writer. I knew they spend their times to studies their materials. How hard they put theirs effort and heart to its were reflected through the stories it self. Sometimes it made me sad, anger, relieved, motivated and think how can they could come up with this kind of stories.

Thursday, 10 May 2018

I don't think I know the answer, but somehow my head can't stop thinking. It's feel like I'm searching for something but don't know what and why. I used to have that kind of dream, but everything just shattered in the blink of an eye. Did I'm going crazy? No, it's just feel that I don't care about anything anymore, even if I'm alive or die, even if I die, no one would weeping on my grave, I'm just like yesterday boy who come and gone. I'm weak, yeah I know that, even to keep myself awake it hurt my head so much. Then what else, yeah, what else..

Tuesday, 17 April 2018

Belum Ada Judul CH6

"Ehem, tidak usah kau ceritakan yang tidak tidak padanya Eli." Suara dari arah pintu tersebut terdengar tidak asing lagi bagiku. Saat aku membalikan badanku ke arah pintu, benar saja, kedua orang tuaku berdiri di sana.

"Hoo, ada apa Peter, bukan kah sudah kewajibanku mengajarkan muridku apa yang tidak diketahuinya." Ibu Eli melirik kepadaku. "Bukankah itu alasan kalian menyekolahkannya kemari?"

"Sebenarnya, bukan keinginanku menyekolahkannya kemari, hanya saja, ini permintaan dari ayahku."

"Baiklah, jika itu keinginanmu Peter, tapi kau tahu benar sekolah ini kan?"

"Ya tentu saja, hanya tolong, biarkan dia bertindak seperti anak biasanya."

"Seperti anak biasanya Peter?? Tidakkah kau sadar, menitipkannya pada Ayahmu dan melakukan homeschooling sungguh bukan hal yang biasa."

"Kami melakukan yang terbaik untuk anak kami Eli." Ibuku yang semenjak tadi diam tiba tiba menyuarakan pendapatnya. "Roi, bukankah kau seharusnya menyiapkan ruanganmu?" Ibuku sepertinya memintaku untuk meninggalkan ruangan ini.

"Baiklah bu, klo begitu aku pamit dulu Bu Eli."

"Silahkan Roi, masih banyak hal yang ingin kubicarakan dengan kedua orang tuamu ini."

Aku berjalan meninggalkan ruangan, sebelum aku melangkah keluar, aku merasa ada benda yang dilempar ke arahku. Aku mengalihkan pandanganku dan menangkap benda tersebut.

"Tangkapan yang bagus Roi, jangan lupa ambil barang-barangmu di bagasi mobil. Mobilnya kuparkir di parkir Timur."

"Kau tahu itu tadi berbahaya Yah, gimana klo kunci ini mengenai wajahku!"

"Tidak mungkin itu terjadi, aku percaya kau pasti mampu menangkapnya."

"Baiklah aku pergi dulu Yah."

Mana ada orang tua melempar kunci dengan niat membunuh seperti itu, jika bukan karena hasil latihanku bersama kakek, aku pasti tak akan mampu menangkapnya. Mengingat apa yang dikatakan Bu Eli tadi, dia sepertinya mengetahui banyak hal tentang diriku, tinggal bersama kakekku memanglah tidak biasa. Setiap hari aku harus belajar, latihan fisik, dan berlatih bela diri. Menurut beliau seorang pria harus kuat sehingga mampu melindungi apa yang berharga bagi dirinya.
Tibalah, aku di area parkir, aku menyusuri area parkir yang luas itu. Kutemukan mobilku van ku di sana, kuambil semua tas-tas ku. Aku tak perlu membawa perlengkapan lainnya, karena saat pendaftaran ulang, aku diberi tahu bahwa semuanya sudah ada di asrama, dari komputer, alat tulis, dan lain lain. Aku melihat kartu siswa ku, di sana tertulis asramaku, Spadona, nama macam apa itu pikirku.

Aku mendekat pada papan penunjuk arah, untuk mencari letak asramaku. Ternyata letaknya sekitar 1 km dari posisiku saat ini. Aku berjalan menyusuri lingkungan sekolah tersebut, kulewati beberapa gedung besar, lapangan basket, tenis, serta terdapat beberapa taman. Aku pun tiba di sebuah gerbang, tertulis "SPADONA" di atasnya. Ku lihat ada sebuah Rumah yang cukup besar dan megah, apakah itu asramaku? Aku masuk melalui gerbang tersebut.

"Hai, siapa di sana?" Terdengar suara orang datang dari kananku. Aku melihat ke arah suara orang tersebut. Kudapati seorang pria paruh baya sedang menyapu taman di rumah tersebut.

"Maaf pak, saya murid baru di sini, di kartu siswa ini tertulis, saya bagian dari asrama Spadona, apa benar ini tempatnya?"

Pria tersebut berjalan mendekatiku, sekarang dapat dengan jelas wajahnya, mukanya sangat kusam, matanya yang tajam seolah ingin membunuhku, rambutnya yang berantakan serta kulihat ada beberapa bekas luka di lehernya. Apakah dia bekas penjahat pikirku.

"Sepertinya kau memang penghuni asrama ini. Kuucapkan selamat datang, dan semoga kau menyukai upacara penyambutannya."

"Upacara sambutan seperti apa?"

"Aku tak ingin menghilangkan efek kejutannya."

Kulihat dia tersenyum, dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Aku mulai melangkah menuju ke depan pintu rumah tersebut. Aku masih penasaran dengan ucapan bapak tadi, tapi yasudah, aku mulai mengetuk pintu tersebut, dan seketika pintu terbuka, kulihat seorang wanita membuka pintu tersebut.

(-cont)