Saturday, 4 March 2017

Dedicated Heart

So, how do I have to tell now. It's seem my prayer are go through, the last thing I still have to do is push my way out of here. I got an offer from my senior or he more like my mentor when I'm an activist to work in the same company as he is. Then I promised him, that's this month I will finish my studies and send him my CV, as far as  I see right now it's doesn't seem promising, cause my Guidance Lecturer are strict.
This one week just wearing my body and spirit down. And made me wondering will I ever finish this final project. Than, I got some news that she is the one that I always adore are got the job she waited for. Somehow it's just ignite the fuel that still left in my heart, give me another spirit to get up, and make thing straight again.
You know kid, I'm always that kind person who believe nothing was coincidence. Everything was a blueprints that we never know what it will become, and we called it all destiny. So than I think if I really got that job, my senior offered to me, or maybe another job in the western side of this island, I told my dearest friend Risang, that I will chase her, I won't confused anymore, I will go right straight to her, because if it's wasn't destiny so how can it be wrong. It's took to long for me to realize this, so I hope that it's not too late. If she really are the one that's I'm always looking for, she will be still single, and we will meet in Jakarta.

Sunday, 12 February 2017

HARTA YANG PALING BERHARGA

Hari ini semarang diguyur hujan seharian, tetapi disaat yang bersamaan aku merasakan kehangatan. Kehangatan berkumpul dengan sahabat-sahabat terbaik yang kutemukan selama perjalananku di Universitas ini. Tak terasa memang, semua seperti baru kemarin saja kita bertemu, sampai pada akhirnya waktu memaksa kita untuk mulai mengambil jalan kami masing-masing.

Banyak yang bilang keakraban kami ini merupakan hasil dari kakak-kakak kami dahulu, tidak bisa dipungkiri memang mereka yang secara halus memaksa kita bertemu satu dengan yang lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak masalah kami hadapi bersama, dan kami masih bisa berkumpul seperti hari ini, menurutku hal itu nyata dan tanpa rekayasa pihak manapun. 

Hari ini kami berkumpul di rumah Ilga, ya bisa dibilang rumah Ilga ini udah kayak beskem tersendiri buat kita kumpul. Obrolan kita macam-macam, mulai dari kisah asmara, pekerjaan, kuliah, sampai rencana-rencana yang akan kita lakukan ke depan. Ada Pingkan yang bercerita bagaimana pekerjaan di kantornya yang sering nambah waktu sejam tapi dia masih senang menjalaninya, ada Chris yang bercerita bagaimana kerjaan sambilannya bayarannya ternyata kurang sehingga rencananya membeli handphone baru tertunda, ada Surya juga yang mengisahkan bagaimana kisah asmaranya dengan Vega, yang menurut dia terasa sangat serius, dan dia sedikit panik menghadapi itu semua. Lalu juga Suzan yang bercerita tentang lamaran pekerjaannya di Pharos, dan petualangan kecilnya di Jakarta, demi menjalani seleksi perusahaan tersebut. Arda dan Ilga yang menceritakan tentang perusahaan-perusahaan apa saja yang ingin mereka daftar, dan tak lupa Ibunya Ilga yang sesekali nimbrung dalam obrolan kecil kita, dan juga ada cerita tentang macam hal, dari pilkada jakarta sampai cerita kodean iti yang kita gak tangkep. Sederhana sih, tapi entah kenapa aku tak pernah bosan mendengar cerita mereka semua.

Dulu pernah ada yang bilang harta paling berharga adalah keluarga, dan aku tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga kecilku di Semarang, dan aku tidak bisa tidak bangga dengan pencapaian mereka semua. Yang hadir hari ini memang belum semuanya sih, masih ada Tito, Risang, Kecap, Hayu, Prima, Pundhi, Acan, Alan, Kristanto, Yesica, Lowo, Maria, Febri, Juan, Tinus, Alan, Bowo, Deci, Tia, Sony, Adit, Gery, Sondang, Yogi, Anjar, Dodi, Yoel, Andre, Hiacinta, Lambertus, GB, Aaron dan masih banyak lagi yang lainnya, dan mereka sekarang sedang berjuang mencapai impiannya masing-masing. Jika suatu saat aku ditanyakan oleh pewawancara, apa yang sudah saya dapatkan di sini, aku tak akan lupa menyampaikan, Aku sudah bertemu dengan rekan kerja, mentor, sahabat, sekaligus keluarga yang sangat berharga, dan aku akan melakukan setiap hal yang sama berulang kali, jika aku diharuskan menjalani kehidupan ini lagi, karena itu aku juga berharap di tempatku memijakan kakiku pertama kali di dunia profesional nanti, harapanku adalah semoga aku dapat menemukan rekan-rekan seperti mereka. Saat bersama mereka aku selalu merasa tak ada hal yang tak dapat aku lakukan.

Friday, 3 February 2017

Gonna Finish It Soon!!!!

I don't know what I really want to write about, hey kids if you read this part of stories, well I guess you will find it out that, how boring my life right now. No matter how hard I push it, I seem unable to finish my final project. If you asked me what the obstacle is, well it was me after all. 
Last January I just slacking off again, going to Surabaya to find a little bit of refreshment, but it doesn't last long, really I wasted another money my parent spend on me. So I started to think how can I get an income, than I started to learn about money market investment and trading stock. Well, it turn out to be a little hard, but somehow I still made a decent profit. Not just that, I'm starting to take a part time job, as an acting patient at FK undip, I got a decent payment from there.
All of that love stories use to bothered me seem find it end. I couldn't care less about that stupid thing anymore. Right now I just left that kind of thing In His hand, if the time come, I think I will find it easy not as hard as I always trying until now. Even tough that kind of feel I have toward someone still lingering on me. I don't know, maybe it's because all the time we spend together since the beginning our college life even until recently, I grow an affection toward her, but all of that failure I experienced in the past, with the girl I liked and ended up get rejection, somehow a wall suddenly appear within my heart toward her. I think It still the best for now, I just continuing admired her, and I still hoping she still can got some man who better than me, or from all of her exes, really that was the best option for her, the me I'm now is just a burden for her so I'm hoping she will find that man, who will treat her well. How pathetic I'm right now right, can't fight for anything I want, I love, even fighting for myself, what I really want, I'm still guessing, I'm always want to be that man who can supporting everyone I love, but can I??
Like I said I don't really know what I'm talking about, I'm just completely lost it, I'm just trashing out everything in my mind to this post. Hey, I never know how you really feel toward me, or what your opinion about me, somehow I wonder what kind of answer would you like to give, but don't be bother about it. It's just the stupid me after all. Ahh, I really wanna finish this university life as soon as possible, get off from this city, maybe then I can make a new start again, just like Ilga said to me. Maybe I should pay more attention what everyone talk to me..

Monday, 12 December 2016

Cause, I Love You..

Hari itu sabtu tanggal 10 Desember 2016, aku masih berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri akan pilihan yang sudah kuambil, tetapi aku tak menyangka cukup sulit. Kuhabiskan waktuku seharian di dalam kamarku, semua chat masuk kuabaikan, aku benar-benar ingin sendiri hari itu. Hingga akhirnya Arda temanku menelponku menanyakanku ada apa, dan dia berkata akan main ke kosku. Sore hari dia datang kami makan di mie ayam dekat kosku, namun karena terlalu ramai, kami memutuskan untuk berbincang di kosku saja.

Arda menanyakan ada apa, ya awalnya aku mengelak aku tidak apa-apa. Akhirnya aku ceritakan semua yang sudah kulakukan mulai dari kenapa aku ke kudus, karena cerita saat hari minggu Arda sudah tahu, bagaimana aku masih menunggu tanggapan dari Pandu, seperti yang dia janjikan. Dari obrolan kami, entah mengapa, aku seperti menemukan sesuatu yang sepertinya memang jawabannya. Dia berkata, mungkin kamu memang ada hal yang belum kamu sampaikan, kenapa kamu gak bertanya tentang perasaannya dia padamu. Dari situ aku sadar akan hal yang mungkin memang masih mengganjal di diriku. So I set my mind, If the universe allow us to be together again, I will said it. But  speak of the devil, saat kami membincarakannya, ada line masuk dari Maria. Aku benar-benar berharap dia mengajakku ke gereja, atau mengajakku ke mana untuk mengobrol. Namun dia hanya menanyakan aku berada di mana, dan akhirnya kami hanya berbincang sebentar melalui line, dia ternyata sedang menemani teman-teman dan adek-adeknya membahas follow up. Bahkan selama nongkrong dengan teman-temanku, aku masih saja kepikiran dia, akhirnya kututup hari dengan pikiran menggantung, sepertinya kita gak bisa bersama besok, aku pasang alarm agar aku gak telat gereja besok pagi.

Minggu pagi 11 Desember 2016, aku terbangun, aku lihat lineku, tak ada ajakan darinya, aku sendiri bingung apakah gereja atau ikut anak-anak ngamen di kerep. Aku putuskan untuk gereja, setelah selesai mandi, tiba-tiba Adi teman kosku juga pas mau ke gereja, akhirnya aku berangkat dengannya. Sesampainya di gereja, tiba-tiba saja ada line masuk darinya, dia menanyakan apakah aku ke kerep dan udah gereja, ya aku jawab aja jujur, karena aku sendiri masih bingung tapi aku lagi nunggu misa mulai. Dalam hatiku, aku berdoa, Tuhan, izinkan kami ke kerep bersama ada yang ingin aku sampaikan padanya. Setelah berbincang melalui line akhirnya kami akan ke kerep bersama. Sepanjang perjalanan, kami berbincang akan banyak hal, hari itu cuaca cukup sejuk, hanya saja jalanan memang agak padat, dalam hati aku berbisik lagi pada Tuhan, I wish the moment like this can stay more longer, if this is the last time our time to be together like this, let me cherish this moment, and made her happy.

Setibanya di sana, kami menemani teman-teman 2016 ngamen follow up. Setelah selesai, aku ditemani Surya temanku memutuskan untuk berdoa dan curhat di dalam area kerep. Setelah puas curhat dengan bunda, aku memohon, Let me say it all, give me the courage, let me brave enough to follow my heart. Aku pun menceritakan apa yang sebenarnya sedang kurasakan saat itu pada temanku Surya. Akhirnya kami pun sudah puas di kerep, kami memutuskan kembali ke Semarang.

Selama perjalanan pulang, aku bingung, apakah yang akan aku ucapkan dapat di dengarnya dengan baik, aku menunggu jalanan agak sepi, beruntunglah sore ini tidak banyak bus dan truk yang bising. Perlahan ku tanyakan padanya, Apakah semua yang dilakukannya pada cowok yang temannya sama seperti yang biasa dilakukan padaku, dia menjawab sama, dan bertanya kenapa, aku menjawab, ternyata selama ini aku yang baper ya, dia bertanya lagi kenapa aku bisa baper, karena selama ini aku punya teman-teman cewek, ada banyak hal yang beda yang mereka biasa lakukan dengan caranya terhadapku, dia bertanya di mana bedanya, kujawab semua yang berbeda dari dirinya, yang kenapa membuatku seolah emang itu cara dia memperlakukan seseorang yang spesial bagi dirinya. Keheningan sempat terjadi, aku berusaha untuk tetap tegar, aku tak tahu aku harus berbicara apa, hingga akhirnya dia memecah keheningan tersebut dengan membicarakan hal lain, aku pun mencoba mengikutinya, dan perlahan rasa sedih yang merundungku mulai menghilang.

Sampai beskem, Maria sebenarnya dijanjikan Surya buat gereja bareng, namun sepertinya Surya php, akhirnya Maria mencari orang lain untuk menemaninya gereja, hingga akhirnya dia mengajakku, dan aku mengiyakannya. Aku menakutinya klo aku bakal tertidur, tapi sepertinya dia tidak peduli. Di gereja aku berterima kasih pada-Nya karena sudah memberikanku kesempatan dan keberanian untuk menjalani hari ini, lalu Maria bertanya kenapa aku selalu mengiyakan, setiap hal yang dia mau lakukan, awalnya aku mengelak, hingga aku tersadar, kalau aku lagi di gereja, aku gak bisa berbohong, dan yang aku lakukan itu membohongi diri sendiri. Ku dekatkan diriku padanya, dan dengan perlahan namun pasti, ku panggil dirinya, dan kubisikan, "Hmm, mungkin karena aku memang suka kamu.". Than at that exact time every thing feel so slow, so easy, It feels like something that always stuck on my neck all get loose. Aku ingat perkataan Pandu, dia pingin aku jadi seperti Alva yang biasanya, dan aku rasa Alva yang biasanya ya yang seperti ini, aku juga ingat perkataan Arda dan Acan, klo cinta memang tulus, ya gak perlu mengharapkan balasan. Aku tipe orang yang memang klo udah bilang suka sama orang, aku bakal tetap mencintai orang tersebut sampai kapanpun. After all that what's mean to be an Alva. Minggu itu, menjadi saat paling bersejarah dalam hidupku, yeah I love Maria, and nothing will ever change that fact, thanks God for everything.


Wednesday, 7 December 2016

Pilihan

Selasa, 6 desember 2016, pagi itu kuucapkan selamat pagi padanya, dia yang baru saja terpilih jadi wakahim, aku masih bertanya-tanya apakah dia masih merasa sedih dan gelisah? Sebenarnya dalam hati kecilku aku ingin sekali berada di dekatnya, menemaninya saat ini, tetapi bayang-bayang akan sudahkah dia menjadi pacar sahabatku masih menghantuiku, aku bingung, aku harus berbuat apa, di satu sisi aku benar-benar menyayangi dia, dan melihat dia sedih benar-benar melukai batinku, meskipun aku sadar, aku hanya pelariannya, tapi apa hubungan mereka sampai saat ini masih belum jelas? Aku mencoba mengacuhkan semua rasa itu, dan pergi ke kampus untuk bimbingan, namun sayang dosenku tidak ada karena sedang menjaga ujian, akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke beskem. 

Aku bertemu dengan Emon di beskem, aku mencoba menceritakan padanya kejadian hari minggu kemarin. Mendengar hal itu, Emon memperlihatkan padaku isi curhatan Maria padanya. Ternyata, dugaanku memang benar, aku hanya pelariannya, tapi yang membuatku lebih terkejut adalah selama ini Pandu tidak kunjung juga untuk menceritakannya padaku. Membaca itu semua, sejenak aku mencoba menguatkan diriku, memikirkan semuanya secara perlahan, aku mengingat kembali perkataan Arda kemarin, bagaimana dengan hatimu. Aku mencoba merenung, tapi tetap saja rasanya sakit. Aku berdoa sejadi-jadinya pada Tuhan, aku menanyakan pada-Nya, apa yang sebenar-Nya Dia mau dari diriku ini, aku sudah tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, hingga akhirnya aku merasa bertemu dengan Pandu saat ini juga adalah jalan yang harus aku ambil, aku tak tahu apakah jalan ini yang terbaik, aku hanya berdoa, semoga apa yang aku lakukan, aku ucapkan semuanya memang sudah sesuai kehendak-Nya, karena aku sadar aku ini hanya hamba-Nya.

Aku memutuskan saat itu juga aku ke Kudus. Bermodalkan cerita orang-orang tentang lokasi mataharinya, dan cerita Pandu sendiri mengenai lokasi konternya, aku berangkat ke kudus. Sepanjang perjalanan, aku terus merenung, apakah aku bodoh, apakah aku egois, bagaimana kalau aku salah, apa yang mau aku bicarakan, bagaimana kondisi Pandu, mengganggu pekerjaannya atau tidak, berbagai macam tanya hinggap di kepalaku.

Sampai akhirnya aku tiba di Matahari, seperti seolah semuanya sudah jalan-Nya, hujan yang sempat mengguyur Semarang, sebelum aku beranjak tiba-tiba menjadi mendung sendu, sepanjang perjalanan, cuaca tidak menggangguku. Membuatku sedikit mantap untuk masuk ke dalam Matahari. Ternyata aku berhasil menemukan konternya dengan mudah, dan mendapati Pandu tidak ada di sana. Beruntunglah ketika aku bertanya pada seorang pegawainya ternyata Pandu sedang dalam perjalanan ke Kudus. Ditemani secangkir teh mimikti aku menunggu Pandu dan berdoa, apapun pilihan yang ku ambil saat berbicara dengannya nanti adalah yang terbaik.

Pandu pun tiba, hingga akhirnya kami berbincang-bincang sejenak, lalu aku meminta untuk mencari tempat di mana kita bisa merokok. Kami pergi ke food court, disitu aku memberi tahu klo aku mau membicarakan PRMK itu bohong, ada hal lain yang ingin kubicarakan dengannya, yaitu seputar Maria. Aku menanyakan bagaimana hubungannya dengan Maria, saat ini, lalu aku menceritakan semua kejadian yang dari dulu ingin sekali ku katakan padanya. Hingga aku tersadar akan suatu hal, mendengar ucapanku sendiri, aku mengerti sesuatu, bagaimana setiap kali aku mencoba menatap matanya, aku tidak melihat sosokku di sana melainkan sosok orang lain, yang aku tahu itu Pandu, bagaimana setiap kami membahas suatu permasalahan kami selalu berdebat dan yang kami debatkan itu aku tahu, itu pemikiran Pandu, bahkan ketika dia sedih, ketika semua omonganku tidak dapat menolongnya, ketika kebaradaanku pun tidak cukup untuknya, hingga aku merasa aku ini cowok paling bodoh, membuat aku tersadar, cuma Pandu yang bisa menolongnya. Ya, aku menyayangi Maria, karena itu aku harus berani memilih untuk kebahagiannya, aku tak mau lagi memberi bimbang di hatinya. Aku memilih untuk meyakinkan Pandu, aku memberi tahunya bagaimana Maria benar-benar butuh dia saat ini, dan memohon untuk tidak lagi membuatnya ragu, karena aku yakin love will find a way, if both of them struggling hard enough. Pandu belum berani memberi kepastian apa-apa, hanya dia berjanji kamis dia akan memberi tahuku kabarnya.

Selepas perbincangan itu aku menemani Pandu menjaga konternya. Aku merenung sejenak, kayaknya aku udah jadi orang jahat banget hari ini, aku gak peduliin kondisi Pandu sama pekerjaannya, dan aku sudah memberinya bahan pemikiran lain. Selepas itu bahkan hingga perjalanan pulang kembali ke Semarang, aku merenung merefleksikan kembali semuanya. Aku sadar betul, pilihan yang aku ambil itu memang cukup berat untuk diriku sendiri, dan aku memohon pada Tuhan untuk menguatkanku sekali lagi, karena akupun sadar, menahan rasa sakit seperti ini, adalah hal terbaik yang selama ini aku lakukan, rasaku malam ini tidak ada bedanya, ketika aku ditolak Ilga, atau aku ditolak Ninin, tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu aku pasti akan sembuh. Karena akupun tahu Pandu orang yang tepat yang bisa menyelamatkan Maria. Sepanjang perjalanan aku mencoba untuk tidak menangis, aku sudah lelah untuk itu, aku biarkan langit hujan malam itu yang menangis untukku.

Aku tahu, aku pernah memberi tahu Maria tentang blogku ini, entah dia pernah iseng baca apa gak, siapa tahu dia baca. Maaf mar, aku tidak sekuat yang aku kira, every where I go I'm bound to lose. Tapi kamu ingat apa yang pernah aku tuliskan padamu, Cinta itu tidak berkesudahan, dia tidak sombong, dia tidak mendendam, cinta itu abadi, aku sendiri sampai saat ini masih mencoba menghayati makna tulisan tersebut, dan aku sadar aku hanya manusia, karena itu maafkan jika sejenak ini aku keluar dari kehidupanmu, aku titip temanku itu, dia orang paling baik dan paling peka yang pernah aku temuin, biarkan aku menjalani pilihanku ya Mar, karena laki-laki ada memang untuk dipilih, melainkan memilih..