Friday, 21 October 2016

She Is The One That I Adore

I know, I'm just a stupid boy looking for some affection. I never know why I'm become like this, maybe some jealousy of everyone have something like that, or maybe I'm just feeling lonely, I don't know. Every girl that could make me fall for always ended up with someone else. But there is this girl that I adore for the moment I stepped in this university, that I like, I love, and I care so much, and I don't know why I don't really want to be with her, cause I don't want her disappear from my life. After this 5 years I ended up satisfied being around her, I don't want her to notice my feeling toward her. I'm always think to myself It's not today not in several day, month, or even years. I'm still not good enough for her, I still have a long way to go if I want to be with her. So I kept telling myself, when the time is right when I'm already on her league, and she's still single, on that's time I will erase all my doubt, step toward her, and tell her what I really feel. And if that's happen I believe she's the one that I'm always looking for, and if not then my journey isn't over and she will always be the girl that I adore for.

Thursday, 6 October 2016

Pemimpin

Tiba-tiba saya mendapatkan sedikit pemikiran tentang hal ini. Semua bermula di pagi hari ini 20 september 2016. Pikiranku akan sebuah organisasi bernama PRMK-FT membuatku sedikit tidak mood dalam menjalani hari ini. Kegelisahanku akan kepengurusan saat ini serta keterbatasanku akan kemampuanku untuk menurunkan nilai-nilai yang selama ini kupunya, membuatku merasa pasrah dan hanya bisa berdoa pada sore harinya. Hingga aku teringat akan sebuah ayat di Alkitab 1 Korintus 13:4 yang berbunyi, "Kasih itu sabar, Kasih itu tidak cemburu, Kasih itu tidak bermegah, Kasih itu tidak berkesudahan."

Tulisan tersebut serta permenunganku pada sore itu, menghasilkan sebuah kesimpulan di mana aku mencoba untuk bertahan di sini, mencoba mencari celah bagiku menanamkan nilai-nilai tersebut, meskipun aku tersadar itu bertolak belakang dengan prinsipku, karena aku tidak ingin mencederai idealisme mereka dalam menjalani masa-masa kepengurusan di PRMK-FT aku ingin mereka berkembang dengan pemikiran-pemikiran mereka sendiri, sementara jika memang mereka membutuhkan, aku selalu siap untuk memberikan pemikiran alternatif yang aku punya, bukannya memberikan langsung apa yang aku punya pada mereka. Malam haripun tiba, tanpa direncanakan tiba-tiba malam itu aku seolah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk dapat berbicara langsung dengan Stephen (sekum saat ini). Mendengarkan berbagai macam pemikirannya serta curhatannya seputar kepengurusan, membuatku sedikit memahami Stephen itu sendiri. Dia tidak seperti selama ini yang aku bayangkan, ketika aku hanya mendengar pendapat dari orang-orang seputar dia. Dia memiliki pemikiran yang sangat bagus, bagaimana segala macam ide dan pemikirannya berlandaskan bukan hanya dari satu sumber saja, dia bahkan mengerti banyak hal, yang sepertinya jarang orang lain ketahui, dan dia senang membaca buku, namun sangat disayangkan pemikiran yang bagus tersebut tidak dilandasi dengan semangat yang jelas.
 
Pukul 3 pagi tanggal 21 November 2016, seperti biasa tiap pagi aku selalu nangkring di kamar mandi, karena jam biologisku sudah teratur jam segitu. Selama boker tersebut aku merenungkan kembali apa yang menjadi pembahasanku bersama Stephen tadi, dan aku teringat akan perkataan Tio di Whatsapp. Pak tua itu membahas tentang masalah yang mungkin ada saat ini yaitu, masalah krisis kepemimpinan. Aku jadi teringat akan perkataan para motivator yang selalu berkata jika setiap orang dilahirkan sebagai pemimpin. Menanggapi perkataan tersebut aku sendiri agak kurang setuju. Bagiku setiap orang memang ditakdirkan menjadi pemimpin tapi hanya bagi dirinya sendiri dan itu adalah sebuah keharusan bagi semua orang, dimana setiap orang harus dapat berkomitmen dalam hidupnya, mempunyai tujuan, idealisme dan ideologi hidup yang jelas, serta paham seperti apa perannya dalam kehidupan yang singkat ini, bahkan untuk dapat menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri saja tidak mudah, apalagi jika harus menjadi pemimpin bagi orang lain. Bahkan Yesus sendiripun pernah mengatakan jika pemimpin adalah orang yang menjadi pelayan bagi yang lainnya.

Bapak pendidikan kita pun Ki Hajar Dewantara pernah berpepatah, "Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani." yang terkadang membuat bertanya-tanya, apa yang beliau pikirkan, mungkin beliau memang menyadari karakteristik manusia, di mana tidak semua manusia harus menjadi pemimpin bagi yang lainnya, melainkan cukup menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan memahami peran masing-masing, lalu lakukanlah tindakan yang terbaik menurut perananmu tersebut, sehingga kita dapat mencapai tujuan bersama. Jadi aku dapat menarik sebuah kesimpulan dengan melihat kondisi kepengurusan saat ini, masih banyak sekali mereka (pengurus) yang belum benar-benar memahami dirinya sendiri, sehingga yang berdampak pada kurang pemahaman akan peranan mereka seutuhnya di dalam biro ini, sehingga mereka terkesan hanya menjalankan organisasi seperti layaknya sebuah robot.

Friday, 16 September 2016

Lagi Dan Lagi

Pagi ini, langit terasa sendu, lagi lagi pikiranku dihinggapi kegalauan karena cinta. Belakangan ini, aku sempat dekat dengan seorang wanita, seorang wanita yang sangat menarik bagiku, bagaimana dia bersikap, bagaimana dia berfikir, aku jatuh cinta kepadanya karena itu semua. Hari hari bersama sempat kita lalui, membuatku jatuh semakin dalam. Senyumnya perlahan menjadi candu dalam diriku, aku mulai berpikir, is she the one?
Aku mencoba untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan semakin dalam aku mencoba mengenalnya, semakin aku menyadari, bukanlah aku yang aku dapati di sana. Aku sadar, teman-temannya pun sudah mengingatkanku, namun naluriku sebagai lelaki memaksaku untuk mencobanya lebih dahulu. Hingga akhirnya kusadari, bukanlah aku yang dia cari, bukanlah aku juga yang dia butuhkan. Aku sudah mencoba melakukan setiap usaha yang sanggup aku lakukan, namun semua itu dianggapnya biasa saja. Aku memang hanya lelaki yang begini, inilah aku, aku tak bisa menjadi dirinya, bahkan aku yakin dirinya pun tak sepenuhnya memahami diriku, seperti ada sebuah tembok besar yang perlahan semakin kurasakan kehadirannya. Berkali kali logika memintaku untuk mundur, berkali kali pula perasaanku mencoba mengacuhkannya. Aku khawatir, aku tak dapat menjadi seseorang seperti yang diinginkannya. Mengingat waktuku yang sudah tak lama lagi di tempat ini. Aku tak mau melukai perasaannya lebih jauh lagi. Kuputuskan untuk melangkah pergi, aku mencoba menahan rasa sakit ini, tapi aku merasa ini memang keputusan yang terbaik, sebelum semuanya terlambat. Ku akui, akupun takut untuk terluka lagi, semua luka yang pernah kurasakan itu, aku tak mau merasakannya lagi. Mungkin berteman memang jalan terbaik bagi kita saat ini, tapi percayalah kapanpun dia membutuhkanku, aku selalu ada, di mana kau akan selalu menemukanku.

Sunday, 7 August 2016

Mahasiswa

Dipagi hari yang sejuk ini, sebuah pemikiran hinggap di kepalaku, sebuah pemikiran tentang kondisi mahasiswa saat ini. Menjelang pemilu presiden, aku bertanya-tanya, masih adakah harapan untuk bangsa Indonesia terlepas dari semua kecarut-marutan politik yang ada saat ini. Sejenak aku termenung, aku membayangkan apa yang dapat kulakukan? Mengikuti pemilu dan tidak golput itu kata banyak orang, tapi entah mengapa aku merasa pemilu itu rasanya seperti aku hendak memasang judi saja. Bahkan orang memasang judipun dengan segala perhitungan yang masih bisa diperkirakan hasilnya, tapi tidak dengan pemilu, aku tak mengenal mereka, semua yang kutahu tentang mereka hanya sebatas media, akhirnya masyarakat pun condong memilih yang mereka kenal saja, lagi-lagi sama saja.Lalu aku mencoba melihat apa yang ada di sekitarku saat ini, mahasiswa yang sibuk berorganisasi hanya untuk sekedar menambah-nambah CV, mahasiswa yang sibuk belajar mati-matian demi lulus cepat dan IPK tinggi, lalu apa yang ingin mereka tuju? Melamar pekerjaan di sebuah perusahaan internasional dengan gaji berlimpah ruah. Well, hal tersebut tidaklah salah, atau lebih tepatnya aku tidak dapat menyalahkan mereka. Tapi yang aku sayangkan adalah betapa lemahnya mahasiswa saat ini. Jika kita menengok kembali ke zaman di mana mahasiswa menjadi senjata paling menakutkan yang dimiliki rakyat, suaranya saja sampai membuat pemerintah saat itu mengangkat senjata untuk melawannya. Siapa yang tidak ingat peristiwa tri sakti, bagaimana mahasiswa saat itu berusaha memperjuangkan negara mereka agar terbebas dari KKN.
Kalau kita bandingkan keadaan mereka dahulu tidak lebih berbeda daripada keadaan kita sekarang. KKN di mana-mana bahkan tampak nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak hanya terjadi pada pemerintah dan kroni-kroninya, tapi hampir semua lapisan pegawai negeri hal itu sudah menjadi hal yang lumrah. Lalu ke mana para mahasiswa saat ini? Mereka sibuk mengejar berbagai program penelitian yang digadang-gadang pemerintah lalu, dengan sengaja pemerintah melupakan mereka, dan mereka lari ke luar negeri karena merasa sudah tidak diperhatikan lagi pemerintah. Mungkin pemerintah saat ini sudah cukup cerdas, belajar dari pengalaman terdahulu, pemerintah "mengekang" mahasiswa supaya taring-taring mereka tidak setajam dahulu. Dengan pemotongan masa kuliah, sistem pendidikan yang menuntut mahasiswa untuk menjadi "pegawai", dan media massa yang selalu menyorot sisi negatif kemahasiswaan.
Memang sebagai mahasiswa tugas utama kita belajar. tapi apakah tidak disayangkan jika yang kita sudah bersusah payah belajar tapi tidak ada perubahan apapun pada negara ini, lalu bagaimana nasib anak-cucu kita?

Balada Hukuman Mati

Seperti yang kita ketahui belakangan ini, permasalahan seputar hukuman mati ini, menjadi topik pembicaraan yang menarik sekali.  Pro dan kontra seputar pantas atau tidaknya hukuman mati dilaksanakan, menjadi sebuah zona abu abu yang sulit untuk dilihat benar tidaknya. Terutama terhadap kasus yang baru ini terjadi yaitu eksekusi Bali Nine dan Mary Jane - Mj masih ditunda- yang menyita perhatian dunia Internasional.

Temanku pernah berkata, hukuman mati itu tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Jika melihat dari sudut pandang hukum NKRI maka, semua terpidana tersebut memang layak untuk dihukum mati, karena narkoba merupakan ancaman terbesar bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Namun jika kita melihat dari sudut pandang kemanusiaan, hidup dan mati seseorang itu bukan manusia yang menentukan karena hal itu bertentangan dengan HAM. Saya tidak membawa sudut pandang agama, karena akan agama tidak hanya satu dan setiap agama mempunyai cara masing-masing untuk menyikapinya. 
Setelah mengetahui hal tersebut apakah negara kita salah melaksanakan hukuman mati? Jelas tidak karena hukuman tersebut sudah disepakati 10 tahun yang lalu, dan sampai saat ini belum pernah ada yang menolaknya. Jadi menurut saya apa yang dilakukan Negara Australia itu sebuah tindakan yang lebay. Kenapa saya bilang lebay? Mereka memprotes eksekusi mati 2 orang warga negaranya yang bekerja sebagai bandar narkoba, menurut saya seharusnya mereka berterima kasih pada NKRI karena sudah membantu membersihkan bandar tersebut dari kemungkinan untuk menyebarkan narkobanya lebih luas lagi. Tidak tahukah mereka berapa banyak warga NKRI yang menjadi korban narkoba? Jika tidak ada orang-orang tersebut, maka jumlah korban narkoba di Indonesia mungkin tidak sebanyak saat ini. Lalu mereka hanya menuntut untuk menghentikan eksekusi tanpa memberi solusi pada NKRI cara yang lebih baik, kalau Australia dan negara negara lain mampu mengurusi warga negaranya dengan baik seharusnya tidak perlu ada warganya yang tertangkap karena narkoba di Indonesia. Oleh karena itu kalian sebagai warga negara asing kalau mau nyelundupin narkoba pikir-pikir lagi. Death Penalty for the drug smugglers in Indonesian, you just have to face it or just fucking leave it.  We Indonesian people wanted our nation free from drugs, and to achieve that we need a strong rules, so please tell your friends or family who running the drugs smuggling thing to keep their thing out of my beloved country.