Monday, 30 June 2014

Nyaman? Think again..

Sebenarnya ini hanya sebuah kata-kata yang ingin kusampaikan jika aku diminta menjelaskan apa itu prmk bagiku dan seperti apa rasanya prmk itu.
Buatku prmk itu simple keluarga. Terus kalau kalian bertanya prmk itu nyaman atau gak, aku beri tahu kepada kalian, prmk itu gak nyaman. Lho kok bisa? Aku beri tahu lagi pada kalian, jangan bilang aku tak mengingatkan kalian. Nih ya, mungkin kalian merasa wah prmk asik nih beda sama jurusan gak ada senioritas, gak ada kakak adean semua setara sama rasa. Tapi tahukah kalian itu hanya awalnya saja, coba kalau udah masuk pengurusan, mulai deh sifat masing-masing keluar, perang ego, pemikiran, merasa diperbudak, dijauhi, dilecehkan dan akhirnya kalian mutung, marah terus minggat. Akhirnya kalian merasa sudah masuk tempat yang salah, terus mikir tulisanku ini ada benarnya.
Terus sekarang kalian bertanya, kok bisa aku bertahan sampai tinggal di beskem yang bener-bener gak ada nyamannya sama sekali. Jawabnya simpel sih aku keingat terus kata-kata kedua orang tuaku dulu zaman masih sekolah, "Klo pingin nyaman ya tidur aja di rumah gak  usah sekolah, enak gak usah mikir." Kalian ngerti maksudnya? Klo belum ngerti, ya kalo kalian pingin nyaman tidur aja di rumah, kalian semua punya rumahkan, ngapain kuliah capek-capek. Nah kalian pasti mulai tahu maksudnya kan? Kalian kuliah juga ada tujuannya kan, sama aku juga di PRMK punya tujuan, tujuanku ya sebagai tempat ngumpul dan berkembang Alias keluarga. Tapi untuk mencapai tujuan itu memang gak pernah nyaman, dongeng aja gak ada yang dari awal sampai selesai isinya seneng doang, apalagi realitas broh.
Klo aku ibaratin nih prmk itu kayak makanan. Mau gak mau kalian butuh makan kan untuk hidup, masa iya karena makanannya gak enak terus kalian gak makan, mati dong, kaliannya mati, makanannya busuk. Kita ini udah minoritas loh, tapi bukan berarti karya dan suara kita juga minor, kita harus kayak semut yang sakit klo gigit atau cabe rawit yang digigit pedesnya bukan main. Kalian pasti juga butuhkan tempat buat sama-sama kumpul, sama-sama berkembang bareng teman seiman? Klo kalian ngerasa makanannya gak enak, ya kalian pasti belajar buat bikin masakan yang lebih enak, tapi klo karena gak enak terus kalian tinggal gitu aja sampai kapanpun ya gak enak. Prmk juga gitu yang namanya proses itu gak ada yang nyaman, itu kayaknya udah mutlak, tapi dibalik semua ketidak nyamanan itu selalu ada pelajaran yang bisa diambil kok. Karbon aja kalau diberi tekanan yang pas bisa jadi berlian, apalagi kalian makhluk paaling aempurna yang dibuat Tuhan.
Makanya kadang aku sering kesal kalau denger kata-kata, "Sekarang gak senyaman dulu", "Kalau mau banyak yang dateng dibuat nyaman". Hey please kalian butuh gak sih prmk? Kalau kita sama-sama butuh ya ayo kita berjuang bareng-bareng, klo perlu kumpul yo ayo kumpul, klo pingin belajar ya ayo belajar, kalau kalian nunggu yang udah jadi kalian dapet apa, no pain no gain man, lari itu bukan solusi, masalah gak akan berhenti. Klo kalian memang cukup tangguh dan kalian punya mimpi yang kuat, aku siap menyambut kalian masuk dalam zona gak nyamannya prmk. :-)

Saturday, 8 March 2014

Comeback!!

Entah sudah berapa lama aku tidak pulang ke rumah. Setibanya di sana kulihat sudah banyak yang berubah, rumahku, lingkungan sekitarku, dan juga gerejaku. Semuanya memang jadi terasa baru, tidak kulihat lagi wajah-wajah lama di mudika gerejaku, atau lingkungan bermainku, sepertinya mereka yang seumuran denganku entah sudah mulai kembali ke tempat rantauannya masing-masing. Meskipun saat pulang kemarin tak banyak hal yang bisa kulakukan, karena penyakit yang tak kunjung sembuh juga, tapi aku mempelajari banyak hal.
Saat di rumah kusempatkan diriku melihat album-album foto lama, yang tersimpan rapi di dalam lemari kaca di rumahku. Kuambil album demi album, aku melihat sendiri bagaimana aku dulu, mulai dari SMA hingga balita. Sungguh perubahan yang luar biasa, sunggu waktu yang tidak singkat. Tapi saat aku melihat album di mana aku masih bayi, waktu pertama kali aku dilahirkan, entah mengapa aku yang sudah lama, atau bahkan lupa rasanya menangis, untuk saat itu bisa sedikit meneteskan air mata. Bagaimana tidak saat aku melihat diriku yang masih kecil tak berdaya, berada di pangkuan ibuku dan ayahku, terlihat sebuah wajah kepuasan dan kebahagian yang terpancar dari wajah mereka. Sejenak aku merenung, betapa bahagianya mereka saat itu, dilengkapi dengan klipingan tulisan-tulisan majalah yang disusun menjadi berbagai macam kalimat penuh asa. Aku tak pernah membayangkannya, itu kurang lebih 20 tahun yang lalu, dan aku merasa aku sudah tak pernah lagi mebahagiakan kedua orang tua seperti yang ada di foto itu.
Lalu aku berpikir, apa yang selama ini sudah kulakukan? Sepertinya semakin aku bertambah dewasa, hanyalah beban dan kesedihan yang kuberikan pada mereka, sudah banyak sekali kesalahan yang kuperbuat, sudah berulang kali pula aku mengecewakan mereka. Meskipun begitu tak pernah sekalipun kulihat mereka menyerah terhadapku, bahkan sampai saat ini segala hal yang kulakukan, segala macam perasaan yang aku tunjukan, mereka selalu tersenyum ikhlas dan tulus.
Sekarang aku berpikir, betapa bodohnya aku dulu, sulit sekali mendengarkan nasihat mereka. Aku selalu melakukan hal yang kuanggap menyenangkan tanpa pernah mempedulikan mereka. Mereka selalu menganggapku jenius, meskipun aku sendiri merasa kalau diriku ini idiot, mereka selalu memperlakukan seperti pangeran tampan dalam hidup mereka, sementara aku hanya merasa diriku sebagai sampah yang tak berguna.
Aku tahu menyesal sekarang pun percuma, tidak ada hal dimasa lalu yang akan kembali, percuma aku memaki-maki diriku sendiri saat ini, itu tidak akan memperbaiki kesalahan yang telah lalu, tak akan mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Aku masih muda, kesalahan dan waktu adalah bagian dari pengalaman. Sudah banyak pengalaman yang kurasakan selama hidupku, dan saatnya aku memanfaatkan pengalaman itu untuk memperbaiki yang sudah rusak.
Memang semenjak peristiwa penolakan itu, aku mulai mempertanyakan segalanya. Apakah aku salah berada di kota ini, mungkin jika aku tidak di sini, aku tak kan kehilangan motorku, merasakan jatuh cinta, peduli akan suatu hal tapi tak pernah mengerti bagaimana caranya atau meberatkan teman-temanku baik di lingkungan kampus maupun organisasi, atau mungkin aku tak akan sebodoh ini. Tapi setelah berhari-hari selama semester pendekku aku menghabiskan waktu itu dan saat pulang ke rumah aku menemukan semua jawabannya. 
Aku tak pernah salah berada di sini, karena kota dan kampus ini adalah salah satu bagian dari cita-citaku dari mimpi kecilku. Banyak jalan untuk melarikan diri, tapi tak pernah kumanfaatkan, karena aku tahu bukan karena semua sudah terlambat untuk lari, tapi karena aku tahu diujung jalan ini akan ada hal baik yang aku terima. Bagaimana aku memperajari banyak hal dari setiap kegagalanku, bagaimana aku belajar berdiri kembali saat aku terus terjatuh, bagaimana aku mengerti kalau aku tak pernah sendiri bahkan dalam kondisi terburukku ada banyak orang yang mau membantuku. Ini bukan jalan yang sulit, ini bukan tempat yang buruk, ini hanya sebuah tantangan dalam hidupku, untuk membahagiakan ke dua orang tuaku, untuk menjadi berguna bagi sesamaku.
Sekarang aku sudah semester 6, tidak ada organisasi lagi yang aku jalani, meskipun begitu aku masih mencintai satu-satunya organisasi yang pernah aku jalani sampai saat ini. Aku juga sudah mulai memasuki kuliah akhir, dan aku tak menyerah dengan segala hal tentang kuliahku, karena aku yakin aku masih bisa lulus dengan nilai terbaik. Sekarang saat yang menentukan dalam hidupku, waktunya untuk comeback atau never coming back!!

Tuesday, 14 January 2014

Surat Kepada Kakak

Untuk,
Kalian yang sudah menjadi kakak dalam hidupku,

Haahhh, sudah 3 tahun ternyata, tak terasa memang, dari awal kalian menjabat tanganku sebagai ucapan selamat datang dan ajakan untuk melangkah bersama, hingga sampai saat kalian menjabat tanganku lagi atas apresiasi kalian kepadaku.
Padahal dari dalam hati yang paling dalam, aku merasa belum pantas, untuk menerima semua apresiasi itu, karena seharusnya akulah yang berterima kasih, semua itu tak akan pernah bisa kulakukan tanpa dukungan dan bimbingan kalian.
Yang selama ini kulakukan tak lebih hanya mencoba membantu dengan segala kelemahan dan kekuranganku, karena bagiku kalian semua sudah mendapat tempat yang istimewa di hatiku sendiri.
Kalian yang menolongku dari kesendirian, kalian sudah menjadi kakak yang selama ini tak pernah kumiliki, hingga akhirnya aku bisa merasakan, "jadi ini ya rasanya punya kakak.", aku tak pernah bisa membayangkan apa jadinya aku di sini tanpa kalian.
Aku belajar banyak hal dari kalian, aku melihat banyak hal berkat kalian, aku merasakan banyak hal baik cinta, asa, benci, sedih, amarah, lelah, jenuh, dan lain-lain baik atau buruk juga berkat kalian.
Aku tahu tempat ini memang gak pernah nyaman, tapi berkat kalian, aku melihat tempat ini sebagai sebuat tempat yang lebih mengasyikan daripada tempat-tempat yang lain.
Akupun mencoba untuk menjadi seperti kalian, tapi aku tahu aku memang tak pernah bisa sama persis seperti kalian. Karena itu aku belajar, dengan mengamati, memahami, dan membaca buku-buku. Aku ingin juga menyambut mereka yang baru, yang hadir di sini. Aku ingin mereka yang baru merasa, kalau aku juga akan selalu ada bagi mereka, seperti aku yang selalu merasa kalian ada buat aku. Meskipun cara yang kulakukan merendahkan diriku sendiri, berbuat konyol, berpikiran sampah, memakan perasaan sendiri, selalu tersenyum meskipun hati sedang sedih, aku tak peduli, karena aku tak ingin tempat yang sudah kalian hangatkan dengan susah payah ini menjadi tempat yang dingin dan menyeramkan.
Maaf jika selama ini aku selalu mengecewakan kalian, dengan segala kecerobohan, kemoodyanku, kebodohan, dan kegalauanku yang gek jelas, tapi kalian tak pernah meninggalkanku, kalian selalu tahu setiap permasalahanku tanpa perlu aku memberitahukannya pada kalian. Aku tahu kesalahanku sering menyebabkan semuanya kacau, aku sering melibatkan perasaanku dalam melakukan segalanya, aku memang adik yang bodoh, yang tak pernah bisa menjadi kakak yang baik, mana ada kakak yang emosi dengan adiknya sendiri karena mencintai wanita yang sama padahal aku sendiri tak pernah berbuat apapun untuk mengungkapkannya.
Aku tahu kesempatanku untuk berkontribusi lebih lanjut belum berakhir, selama masih hidup aku yakin aku masih bisa berkontribusi di sini, karena tempat ini dan kalian sudah mendapat tempat yang spesial di hatiku.
Aku juga tahu kalian pasti membaca ini, terima kasih sudah mau membaca semua permasalahanku, karena aku tak pernah pandai dalam berbicara, dan cukup buruk dalam menulis, makanya aku hanya bisa menyampaikan apa yang ada dipikiran dan hatiku melalui tulisan ini.

Salam dari adik kalian yang bodoh



Rainerus Alva Jati




Sunday, 22 December 2013

2013

Pagi yang dingin dan sepi, cocok sekali untuk menulis lagi, pikirku. Setelah selesai mempelajari hal-hal yang akan disidangkan nanti, aku pun mulai menulis lagi di blog ini. Banyak sekali hal-hal keren yang terjadi selama setahun ini. Sepertinya aku tidak akan menyesali tahun 2013 ini.
Selama 1 tahun kepengurusan sebagai sosok kakak dalam sebuah kepengurusan, ternyata tidaklah mudah. Bagaimana harus merangkul adik-adik untuk sama-sama berjuang menjalani kepengurusan ini, menjaga semangat, dan menjadi tempat untuk bertanya tentang berbagai hal. Terkadang aku sendiri merasa kalau aku ini kurang begitu mengerti tentang hal-hal tersebut. Karena itu selama satu tahun ini aku juga tetap terus belajar. Bahkan terkadang mereka yang seharusnya kubimbing malah berbalik membimbingku, tapi itu tak masalah itu artinya mereka sudah berkembang lebih baik dari diriku.
Mengawali tahun 2013 dengan sebuah kegiatan yang tidak biasa, yaitu naik gunung, ternyata memberikanku banyak pengalaman berharga. Menjalani kepengurusan tahun ini pun tidak biasa, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, agenda begitu padat setelah retret. Mengadakan baksos di panti asuhan, mengingatkanku betapa beruntungnya diriku dibandingkan mereka, tetapi tak kulihat wajah-wajah sedih dari anak-anak kecil tersebut, aku merasa malu pada diriku sendiri yang selalu merasa tidak puas akan apa yang tidak aku miliki, dan tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki. Bahkan saking "nganggurnya" kepengurusan tahun ini aku menyempatkan diri membuat sesuatu yang awalnya iseng-iseng aja, karena tiap malam aku selalu nggalau dikosan sambil dengerin radio. Kenapa gak aku bagikan kegalauanku dengan yang lain, searching-searching, belajar-belajar, akhirnya aku berhasil membuat sebuah radio streaming pertama PRMK-FT Undip. Awalnya aku khawatir bagaimana kelanjutannya, tapi orang-orang tua itu terus mendukungku, untuk mencobanya, kekhawatiran akan tidak adanya yang mendengarkan, siapa penyiarnyapun seketika sirna. Akhirnya siaran radio pertama PRMK-FT Undip pun berhasil disiarkan. Respon dan tingkat antusias yang tinggi membuatku bersemangat, namun beberapa kendala dan masalah masih banyak terjadi sampai sekarang, sementara masalah itu masih diluar jangkauanku saat ini, tapi aku tak berhenti begitu saja, trial dan error masih terus kulakukan sampai saat ini, apalagi selama dia selalu meminta untuk bersiaran memang tak pernah bisa kutolak.
Tak terasa 2013 pun datang dalam keluarga kecil ini, entah apa yang salah, tapi aku merasa kalau keluarga ini kurang antusias dalam menyambut mereka. Hal ini tercermin dari bagaimana retert kemarin berjalan, dan tapi untunglah setelah retret menyadarkan kami semua, sekarang aku melihat sudah banyak yang menyambut mereka dengan banyak cara. Porseni dan Kumbajamba untuk pertama kalinya aku melihat PRMK-FT tampil bermain band, dan drama, hal yang sudah aku mimpikan saat pertama kali mengenal PRMK-FT pun kesampaian. Bermain basket melawan PRMK Hukum meskipun akhirnya kalah, aku tetap senang meskipun tidak puas karena aku merasa aku belum memberikan semuanya saat bertanding.
Sekarang beskem tak lagi sepi, mulai banyak wajah-wajah baru yang senang bermain kemari, ada Nino, Johan, Bella, David kecil, William, dan masih banyak lagi. Aku melihat wajah-wajah baru yang aku yakin akan membawa perubahan di tempat ini. Mereka adalah telur-telur emas, yang jika dibimbing dengan tepat mereka akan lebih hebat dari saat ini. Melihat semangat mereka yang tak kenal lelah mengurusi Follow Up seakan mengingatkanku, kalau aku juga gak boleh kalah, hanya karena masalah dia sepertinya sudah menentukan di mana dia akan meletakan hatinya akan mematahkan semangatkanku, pahit memang bagaimana kehidupan di beskem tak ku sangka akan sepahit ini, tapi itu tak masalah lagi buatku karena itu memang keputusannya, dan aku juga tak mau jadi seperti teman kamar sebelahku Yuke Maestro yang karena masalah seperti aku tadi saja tiba-tiba dia berubah menjadi Yuke yang gak kukenal lagi, seolah dia menyerah akan semuanya, bukan Yuke yang jalan-jalan ke Yogya bareng, bukan Yuke yang selalu berkata ingin menjadi lebih baik dari 2011 lagi.
Memang tidak mudah menjalani tahun ini, selain agenda PRMK-FT sendiri banyak juga agenda luar yang kujalani, mulai dari Kokerma, Elektro, semuanya mengadakan event besar bahkan di acara Temu Alumni elektro akhirnya aku bisa merealisasikan mimpiku untuk bisa dateng ke Lustrum bersama-sama, dan mimpiku selanjutnya adalah hadir dilustrum berikutnya dengan menyandang gelar yang sama :D, syukurlah sekarang semua sudah selesai, dan sepertinya aku pun harus menyudahi perasaanku padanya, aku sepertinya akan mengistirahatkan hatiku ini untuk waktu yang tak ku ketahui dan menyimpannya disebuah tempat yang jauh sekali, karena aku sudah lelah dengan semuanya, dan aku mungkin butuh waktu lama untuk benar-benar bisa melupakannya, bukan aku menyerah akan cinta, atau tidak percaya akannya, mungkin jika suatu saat akhirnya ada wanita yang berhasil menemukannya lagi dan meyakinkanku bahwa cinta itu nyata, aku tak akan pernah membuatnya sedih, hingga saat itu tiba, aku akan mempersiapkan segalanya, aku membuat diriku jauh lebih baik dari saat ini. 2013 -end-

Sunday, 10 November 2013

Sedikit Pemikiran di pagi hari

Sebuah pagi yang sendu, kutermenung di halaman belakang kosku dengan segelas kopi hangat di tangan. Sejenak kucoba untuk menikmati hembusan udara pagi yang masih sangat segar. Seolah merefresh kembali pikiranku yang semalam berkecamuk bak badai.
Aku selalu berpikir terkadang mengalah itu diperlukan, biarpun akhirnya pasti aku yang kan terluka. Tapi untukku rasa itu sudah seperti sarapan sehari-hari bagiku, jadi tak ada salahnya. Yah, bukankah aku sendiri yang bilang untuk tak memikirkannya lagi.
Aku selalu menganggap tempat ini merupakan tempat yang tidak biasa. Tempat ini yang memberitahuku bahwa semuanya lebih mudah jika dikerjakan bersama. Aku yang selalu menganggap bekerja sendirian itu mengasyikan entah mengapa menjadi tertarik dengan tempat ini. Bagaimana mereka menyambutku, menggenggam tangan ini dengan erat seolah tak ingin kehilangan.
Mereka yang mengenalkanku dengan semua teman-teman sebayaku. Menjalani hari-hari bersama, dan menyelamatkanku dari neraka kesepian. Hingga tak sengaja perasaan cinta tumbuh dalam hatiku. Mungkin karena ini perasaan yang baru dalam diriku, aku tak pernah tahu bagaimana harus menghadapinya. Yang bisa kulakukan hanya membuatnya tersenyum. Dia tipe orang yang mudah bergaul dengan orang lain, terkadang aku memang iri jika melihat ada cowok lain yang bisa sedekat itu dengannya, tapi ya sudahlah akupun tak pandai bergaul, lagipula aku masih ingin keluarga ini menjadi sebuah tempat yang hangat bagi semuanya, jadi aku pasrahkan perasaanku pada keadaan.
Tapi entah mengapa belakangan keluarga ini sudah bukan keluarga yang dulu kukenal lagi. Semua seperti berjalan sendiri-sendiri, aku jadi merasa apa bedanya ini dengan keadaanku yang dulu saat masih sendirian. Entah karena ego kami masing-masing yang masih tinggi atau kurangnya rasa memiliki akan keluarga ini. Saat ini telur-telur emas lahir di keluarga ini, dan terkadang aku sedih bagaimana dinginnya keluarga ini menyambut kelahiran mereka ke dalam keluarga ini, bagaimana masih sedikitnya perasaan peduli akan kehadiran mereka diantara kami. 
Entah apa yang harus kulakukan, aku cuma orang bodoh yang tak mengerti apapun. Sudah banyak buku tentang bersosialisasi dan bergaul kubaca tapi hasilnya aku tetap tak bisa banyak berkata jika didepan mereka yang baru itu. Aku ingin sekali seperti mereka para seniorku seperti dia yang sepertinya mudah sekali bergaul dengan orang-orang baru. Kemana hilangnya tempat yang kukenal dulu ini, aku rindu akan rumahku yang lama.