Karena hidup ini terlalu panjang untuk tidak kita abadikan, aku menulis untuk membuat semua kenangan hidup ini terukir jelas, semuanya kutulis berdasarkan hati yang tulus.
Friday, 15 March 2013
The Answer
Sekarang aku tahu, semua mimpi itu, semua kekalutan dalam pikiranku itu. Semuanya tidaklah nyata, hanya diriku lah yang membuat semua seolah nyata, selama ini aku selalu menyalahkan orang lain. Padahal seharusnya akulah yang patut untuk disalahkan. Aku tidak pernah menyadarinya selama ini, kalau ternyata yang aku butuhkan semuanya sudah ada di dekatku selama ini. Aku sudah punya orang-orang yang selalu peduli denganku dan aku peduli dengan mereka. Mereka yang tidak menyerah untuk terus memberiku semangat, mereka yang terus percaya pada diriku sementara aku tidak pernah percaya pada diriku sendiri. Sebenarnya semua perasaan sakit ini, bukan tidak ada obatnya, tapi selama ini akulah yang selalu menolak untuk disembuhkan, karena pada kenyataannya saat bersama mereka rasa sakit itu hilang. Aku tahu aku bukanlah tipe orang yang bisa menghidupkan suasana, tapi saat bersama mereka semuanya terasa berbeda, aku menemukan diriku yang sudah lama hilang, yang sudah lama kubuang dan kutinggalkan, aku menemukan kembali diriku yang lama. Aku sudah tahu dimana aku harus berada dan kenapa aku ada, Tuhan sudah mengatur segalanya dengan baik, bahkan aku pun tak sadar. Mereka tak pernah mengecewakanku walaupun aku sering mengecewakan mereka, aku tahu aku sudah kehilangan segalanya dulu. Tapi aku berjanji akan menjadi lebih kuat dari sekarang, mengambil kembali semua hal baik yang sudah kubuang, supaya aku bisa membalas kebaikan mereka dan mensuport mereka lagi. Terima kasih, kalian tak kan pernah bisa menjadi sahabat sejatiku karena kalian sesungguhnya sudah menjadi keluarga bagiku saat pertama kali aku mengenal kalian. Terima kasih sudah mengajarkan segalanya padaku, menopangku yang lemah dan bodoh ini, yang menyelamatkanku dari kegelapan dan kesendirian itu. Ladislaus Risangpajar, darimu aku belajar apa itu pengorbanan sejati dan tulus, bagaimana rendah hati, dan peduli dengan sesama. Yulius Krisna Deva Purusha, darimu aku belajar apa itu kerja keras, apa itu cita-cita dan mimpi, apa itu hidup sederhana, apa itu janji. Dari Tito Tuesnadi, aku belajar bagaimana caranya untuk tetap percaya, untuk tetap semangat, untuk terus berjuang meskipun dengan peluang sekecil apapun, belajar bagaimana seharusnya seorang lelaki bertindak. Terima kasih tanpa kalian aku hanya akan jatuh dalam kegelapan dunia.
Tuesday, 12 March 2013
Where I should be..
Belakangan ini aku merasa tidak seperti diriku sendiri. Banyak hal yang masih belum bisa kujelaskan secara logika. Banyak pertanyaan yang datang hinggap dipikiranku, aku sempat berpikir, apakah aku sudah gila, semua mimpi itu, semuanya terasa nyata.
Beberapa waktu yang lalu aku memang mengalami tekanan batin yang cukup berat. Masalah di mana-mana, belum lagi perasaan jatuh cinta terhadap seseorang yang akhirnya malah membuatku semakin menderita. Aku memang tidak seperti orang kebanyakan, mudah percaya dengan yang lain, pintar bergaul, aku lebih memilih hidup soliter, tertutup, tapi sekarang aku bertanya, aku yang tidak percaya dengan orang lain atau aku sendiri yang tidak percaya dengan diriku. Mungkin selama ini aku memang tidak pernah percaya pada diriku sendiri.
Aku berusaha berubah, tapi nyatanya, tetap saja aku masih merasa sakit. Luka yang ada dalam diriku, luka yang tak terlihat. Berkali-kali aku mencoba menyembuhkannya, tapi tetap tidak bisa, banyak cara, banyak hal sudah kulakukan tapi tetap saja luka itu makin perih dan makin menganga dalam hatiku. Aku sudah lelah terus berdoa, aku sudah capek terus tersenyum, aku juga mulai bosan terus memikirkan dirinya.
Kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu menyukai seseorang tetapi kamu tak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkannya, kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu berjanji dan kamu tahu janji itu sangat sulit untuk ditepati, kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu sudah berusaha maksimal tapi yang kamu dapatkan bertolak belakang, kamu tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kamu percayai, yang selalu kamu support selama ini, ternyata mereka tidak peduli dengan dirimu, rasanya lebih sakit dan pahit daripada kematian.
Aku mulai berpikir, apa gunanya aku ada di dunia ini, apakah aku yang cuma seorang kecil ini berpengaruh pada dunia ini? Kenapa Tuhan memberikanku hidup seperti ini, bukankah lebih baik aku tidak pernah ada? Bahkan bagiku merekapun akan baik-baik saja tanpa adanya diriku. Aku merasa aku hanya akan menjadi beban saja bagi yang lain. Apa yang bisa kuberikan pada mereka? Tidak ada.
Aku sudah bosan terus terisak-isak di tengah malam, bosan meratapi apa yang harusnya tak patut kuratapi. Rasa dingin dan sakit terus menyiksaku selama ini sekarang bergantikan rasa hampa, kosong bagai ruangan tak bertuan. Aku sudah tak bisa lagi merasakan cinta, sedih, marah, senang. Aku sudah tak utuh seperti aku yang dulu.
Mungkin memang aku yang salah, bagaimana bisa aku percaya pada orang lain sementara aku tak pernah percaya pada diriku sendiri. Dan kalau cinta itu ada, kenapa tidak pernah ada yang mengerti diriku. Aku hanya butuh orang yang benar-benar mengerti diriku, dan sepertinya keluargaku. mereka, dan orang lainpun tak kan pernah mengerti diriku karena aku sendiri juga belum sepenuhnya mengetahui siapa diriku sebenarnya. Di mana aku harus meletakan kakiku, ke mana aku harus memandang, apa artinya diriku bagi mereka, di mana aku harusnya berada. Semua pertanyaan itu terkesan sederhana tapi sangat sulit mencari jawabannya.
Aku selalu berpura-pura kuat di depan yang lain. Selalu tertawa padahal menderita. Selalu mencari perhatian dengan tindakan-tindakan bodoh hanya agar yang lain mengetahui keberadaanku. Aku memang bodoh, aku memang kesepian, aku menderita dan aku sudah tak punya tempat untuk menyandarkan tubuh ini. Aku lelah dan aku bosan dengan semua ini.
Apakah ini semua takdir, atau manusia memang bisa merubah hidupnya sendiri. Bukankah tak peduli di manapun hilirnya, kemanapun arusnya, semuanya akan bermuara ke tempat yang sama?
Friday, 8 March 2013
A little question for myself
Belakangan ini aku mulai menanyai diriku lagi, siapakah aku ini, hal apa yang menunjukan diriku sesungguhnya?
Dibilang aku punya mimpi, punya, aku punya cita-cita, punya..
Tapi jika ditanya hal apa yang kamu punya? Keputusan apa yang pernah kamu buat?
Sepertinya tidak ada, apa yang aku kejar hanyalah menjadi seperti ayahku.
Kuliah di Undip, dan lulus sebagai Insinyur.
Tapi belakangan aku ragu, apa itu yang sebenarnya ingin kukejar.
Atau itu adalah sebuah mimpi yang sudah didoktrin dalam keluargaku.
Apa aku ini hanya seorang "tentara" kecil yang patuh pada perintah?
Ya jika dilihat kebelakang, aku dari kecil sudah dilatih dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.
Bahkan untuk masuk sekolah pertama kalipun aku harus diseret sepanjang jalan.
Aku diminta untuk selalu masuk rangking di kelas.
Bahkan ketika ada perlombaan pun aku juga diminta untuk ikut.
Sampai untuk memilih sekolah menengah pertama pun aku diwajibkan masuk negeri, dan meninggalkan sekolah swasta katolik yang dari TK sudah aku ikuti.
Yah pengalaman pertama masuk negeri, berbaur dengan mereka yang berbeda agama, aku yang terbiasa hidup dalam komunitas mayoritas, kali ini harus membaur dan menjadi kaum minoritas.
Meskipun untuk masuk SMP negeri itu juga merupakan sebuah keberuntungan, karena mustahil dengan NEM ku waktu itu untuk masuk sana.
Menjalani masa-masa awal di negeri tidaklah mudah, setiap pelajaran agama ada saja guru yang mengolok-olok agamaku, belum lagi tingkat disiplin dan moral yang rendah, membuatku terpaksa mengikuti kebiasaan buruk di sana. Aku yang dulu ketika di SD terbiasa menjadi pemimpin di sini aku menjadi ragu dan kehilangan kepercayaanku lagi.
Tapi aku bertahan, meskipun masalah selalu datang, aku selalu mencoba tetap tersenyum kepada siapapun. Perlahan aku mulai mengetahui banyak hal, banyak sifat, dan banyak ragam manusia.
Namun tetap saja, aku tidak bisa lepas dari peran sebagai "tentara" kecil dalam keluarga, aku selalu takut dalam menghadapi setiap kesalahan yang kuperbuat. Tingkat hukumannya bahkan lebih berat daripada hukuman yang diberikan senior di Universitas sekalipun.
Aku selalu diminta untuk jadi yang terbaik, sampai pada saat untuk masuk Sekolah Menengah Atas pun orang tuaku tetap yang mengambil keputusan. Dengan ancaman, kalau aku gak bisa masuk sekolah tersebut aku gak dapet motor.
Dan dengan sedikit mukjizat aku berhasil masuk ke SMA tersebut. Dengan murid yang tak jauh beda dari SMP ku, aku semakin melupakan diriku yang lama, terbawa arus pergolakan remaja, aku melawan "tentara" kecil yang ada dalam diriku, mencari hal yang sudah lama hilang dari diriku, tapi aku tak pernah menemukannya.
Semakin jatuh dan terperosok membuatku tersudut selama SMA, masuk IPA karena pertolongan dosen wali, hampir di cap sebagai murid terbodoh.
Benar-benar bertolak belakang dengan diriku yang lama, lalu aku mencoba kembali lagi menjadi "tentara" kecil itu, kembali lagi ke dalam mimpi lama itu. Aku mengikuti lagi semua komando dari orang tuaku, bahkan aku yang awalnya ini hampir gak bisa kuliah, bisa keterima di salah satu Universitas Swasta favorit, tapi karena aku tahu orang tuaku lebih menginginkanku masuk ke Universitas Negeri maka aku melepas Universitas itu. Dan satu-satunya jalan yang bisa kuambil adalah SNMPTN tulis. Yah hanya itu yang tersisa jika aku ingin masuk negeri gak ada UM atau Undangan. Kalau gagal aku masuk Univ swasta di dekat tempat nenek dan kakekku tinggal.
Dan ternyata lagi-lagi dengan ajaibnya aku bisa masuk di Universitas yang pernah dikuliahi bapakku dulu, Universitas yang selalu aku ucapin kalau ditanya mau kuliah di mana. Yah aku diterima di Teknik Elektro Undip, sama seperti ayahku dulu.
Semuanya seolah seperti telah diatur, bahkan aku masih sering bertanya, apakah aku nanti akan seperti ayahku? Bahkan pada titik sekarang ini, aku sepertinya akan mengambil konsentrasi yang sama dengan ayahku dulu.
Tapi setelah menonton sebuah film, ada kalimat yang berbunyi seperti ini.
"Urusan keluarga atau bukan, terkadang kau harus hidup sesuai dengan apa yang kau inginkan, terkadang kau harus membuat keputusan yang akan menunjukan siapa dirimu, tidak perlu mengikuti keluarga, jika itu tidak membuatmu bahagia."
Aku jadi ingat lagi pada diriku yang terkadang iri melihat kehidupan adikku, dulu aku melihatnya seolah, dia tak harus sempurna, minta apa aja pasti dikasih, selalu jadi anak kesayangan, kalau ada yang salah pasti aku yang salah.
Padahal sebenarnya aku hanya iri dengan dirinya, yang berani menolak semua masukan orang lain, dan menjadi dirinya sendiri dari dulu hingga sekarang, dia sudah terlihat dewasa dari dulu dan sekarang aku sadar, kalau sebenarnya aku hanya mencoba terlihat senang di depan semua orang padahal sebenarnya aku hanya seorang anak kecil yang sendirian yang masih mencari tempat bagi dirinya.
Sekarang semua sudah terlambat, tak ada jalan untuk kembali, aku tidak pernah meminta apapun, aku tidak pernah membuat semuanya benar, karenanya untuk kali ini saja aku membuat keputusan ini untuk diriku sendiri sudah saatnya "Tentara" kecil ini untuk memimpin perang dalam hidupnya sendiri.
Karenanya "aku tidak akan pulang sampai dapet IP 3,0." sesulit apapun itu, aku akan coba percaya pada hal tersebut. Aku sudah mempercayakan semuanya selama ini pada keputusan orang tuaku, sekarang saatnya orang tuaku yang mencoba percaya terhadap keputusan yang aku buat.
I know it like a Highway to hell, but I'll get stronger, and if I'm going down, I'll going down swinging..
Wednesday, 13 February 2013
Sebuah Liburan Sejuta Cerita "Lawu" w/ PRMK-FT UNDIP
Pagi itu, 5 februari 2013, seperti biasa aku bangun langsung meraih hpku, mencoba mencari sesuatu yang baru di jejaring sosial twitter, fb, dan what's up. Hingga tiba-tiba aku melihat setengah heran, ada nama mas Tio di What's Up, seniorku di PRMK-FT, kucoba test dengan menyapanya; "wah, mas saiki koe dolanan What's Up tho.?"; tiba-tiba dia membalas, "Dolanan opo va? iki dudu dolanan ogh.". Wah ternyata memang mas Tio, lalu aku teringat kalau sebentar lagi mereka akan naik gunung Lawu, dan aku juga ingat "dia" kayaknya juga mau ikut, tapi aku kurang tau jadi atau gak.
Lalu aku mulai iseng bertanya, "Mas, yen munggah gunung butuh skill-skill khusus ra?"
mas Tio mbales; "Mesti iso jurus seribu bayangan.. Ora lah, piye? melu wae yo va?"
Aku, "Wah aku sih amateur ki mas, emange ra masalah yo?"
Tio, "Rak po va, ini isinya amateur semua juga lho, kalo masalah apa-apa aja yang dibawanya, besok dateng aja ke technical meeting di rumah, ya jam 7 malam."
Aku, "Wah kelihatannya menarik mas, oke deh besok tak ke beskem."
Setelah percakapan itu, tiba-tiba berbagai perasaan menghinggapiku, mulai resah, cemas, senang, penasaran, dan semangat tercampur aduk. Mulai dari aku bingung, bagaimana dengan perlengkapannya, ijin ke bapak sama ibunya, fisikku yang sudah siap atau belum, dan terlebih lagi ngebayangin gimana bokernya disana, cuman dilap tisu (yikes...). Terus aku berpikir, tinggi gunung lawu 3265 Mdpl, tinggi awal pendakian 1900 Mdpl, wah pas banget pikirku. Pas banget sama IP semester ini 1,95. Lalu aku membuat tekat, kalau aku gak bisa sampe puncak berarti aku gak kan pernah bisa dapet IP 3. Keesokan malamnya kami mengadakan Tech Meet di rumah tercinta. Aku mendengarkan secara seksama setiap detil tugas serta perlengkapan yang mesti dibawa. Melihat banyaknya barang yang harus dibawa, aku sempat bingung apakah nanti aku bakal kuat bawanya. Semalaman setelah Tech Meet itu aku tidak bisa tidur, cemas dan gelisah hinggap dibenakku, bahkan muncul perasaan untuk berhenti. Tapi semua itu kalah ketika aku mengingat kembali tekadku, meskipun tekadku sempat luntur karena tahu ternyata dia gak ikut. Tapi kegalauanku gak cuman disitu, selama beberapa hari sebelumnya, aku sempat berpikir sepertinya aku dijauhi temen-temenku pewartaan yang di twitter. Mereka berencana jalan-jalan tapi gak ngajak aku, padahal aku juga masih di semarang. Aku pun bercerita ke Tito, tepatnya keesokan paginya waktu kami sedang berenang di siwarak. Di sana lalu aku menceritakan semuanya pada Tito, Tito cuma menjawab, "Gak usah negatif thinking dulu va, kalo emang kamu dijauhin yo tak kancani, hehe." mendengar jawaban Tito tersebut aku menjadi sedikit lega. Lalu kami berenang selama kurang lebih 2 jam. Lalu kami makan di sebuah rumah makan steak di ungaran, di sana aku bertanya pada Tito jika dia punya kenalan yang suka naik gunung, tapi ternyata Tito cuman tahu Wisnu. Lalu aku coba bertanya pada Wisnu tapi sayang tasnya mau dipakai. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli peralatan pendakian tersebut sendiri. Setelah bertanya-tanya pada teman-temanku yang sering naik gunung, akhirnya aku memutuskan untuk berbelanja di REI. Mulai dari tas gunung sampai sleeping bag aku beli di sana, dengan duit tabunganku sendiri. Saking semangatnya secara tidak sadar aku sudah berkemas dan langsung berangkat ke beskem. Hingga akhirnya mas Ionk setengah heran dan tertawa,
"Va, kamu mau naik gunung sekarang? Orang berangkatnya kan masih besok."
Aku lalu teringat kalau sekarang masih tanggal 7 Februari, sial pikirku, lalu aku mengeluarkan teknik ngelesku yang terkenal itu,
"Aku cuman mau nitip tas kok mas, soalnya ini aku mau ke salatiga dulu habis ini ngambil barang yang ketinggalan, biar besok bisa langsung siap aja."
Dengan setengah malu aku melangkah masuk ke beskem dan meminta izin pada Arda untuk menitip tas di sana.
Lalu aku mulai iseng bertanya, "Mas, yen munggah gunung butuh skill-skill khusus ra?"
mas Tio mbales; "Mesti iso jurus seribu bayangan.. Ora lah, piye? melu wae yo va?"
Aku, "Wah aku sih amateur ki mas, emange ra masalah yo?"
Tio, "Rak po va, ini isinya amateur semua juga lho, kalo masalah apa-apa aja yang dibawanya, besok dateng aja ke technical meeting di rumah, ya jam 7 malam."
Aku, "Wah kelihatannya menarik mas, oke deh besok tak ke beskem."
Setelah percakapan itu, tiba-tiba berbagai perasaan menghinggapiku, mulai resah, cemas, senang, penasaran, dan semangat tercampur aduk. Mulai dari aku bingung, bagaimana dengan perlengkapannya, ijin ke bapak sama ibunya, fisikku yang sudah siap atau belum, dan terlebih lagi ngebayangin gimana bokernya disana, cuman dilap tisu (yikes...). Terus aku berpikir, tinggi gunung lawu 3265 Mdpl, tinggi awal pendakian 1900 Mdpl, wah pas banget pikirku. Pas banget sama IP semester ini 1,95. Lalu aku membuat tekat, kalau aku gak bisa sampe puncak berarti aku gak kan pernah bisa dapet IP 3. Keesokan malamnya kami mengadakan Tech Meet di rumah tercinta. Aku mendengarkan secara seksama setiap detil tugas serta perlengkapan yang mesti dibawa. Melihat banyaknya barang yang harus dibawa, aku sempat bingung apakah nanti aku bakal kuat bawanya. Semalaman setelah Tech Meet itu aku tidak bisa tidur, cemas dan gelisah hinggap dibenakku, bahkan muncul perasaan untuk berhenti. Tapi semua itu kalah ketika aku mengingat kembali tekadku, meskipun tekadku sempat luntur karena tahu ternyata dia gak ikut. Tapi kegalauanku gak cuman disitu, selama beberapa hari sebelumnya, aku sempat berpikir sepertinya aku dijauhi temen-temenku pewartaan yang di twitter. Mereka berencana jalan-jalan tapi gak ngajak aku, padahal aku juga masih di semarang. Aku pun bercerita ke Tito, tepatnya keesokan paginya waktu kami sedang berenang di siwarak. Di sana lalu aku menceritakan semuanya pada Tito, Tito cuma menjawab, "Gak usah negatif thinking dulu va, kalo emang kamu dijauhin yo tak kancani, hehe." mendengar jawaban Tito tersebut aku menjadi sedikit lega. Lalu kami berenang selama kurang lebih 2 jam. Lalu kami makan di sebuah rumah makan steak di ungaran, di sana aku bertanya pada Tito jika dia punya kenalan yang suka naik gunung, tapi ternyata Tito cuman tahu Wisnu. Lalu aku coba bertanya pada Wisnu tapi sayang tasnya mau dipakai. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli peralatan pendakian tersebut sendiri. Setelah bertanya-tanya pada teman-temanku yang sering naik gunung, akhirnya aku memutuskan untuk berbelanja di REI. Mulai dari tas gunung sampai sleeping bag aku beli di sana, dengan duit tabunganku sendiri. Saking semangatnya secara tidak sadar aku sudah berkemas dan langsung berangkat ke beskem. Hingga akhirnya mas Ionk setengah heran dan tertawa,
"Va, kamu mau naik gunung sekarang? Orang berangkatnya kan masih besok."
Aku lalu teringat kalau sekarang masih tanggal 7 Februari, sial pikirku, lalu aku mengeluarkan teknik ngelesku yang terkenal itu,
"Aku cuman mau nitip tas kok mas, soalnya ini aku mau ke salatiga dulu habis ini ngambil barang yang ketinggalan, biar besok bisa langsung siap aja."
Dengan setengah malu aku melangkah masuk ke beskem dan meminta izin pada Arda untuk menitip tas di sana.
Saturday, 2 February 2013
PRMK-FT UNDIP ~ FOLLOW UP 2011
Beberapa hari setelah retret aku merasa sangat semangat sekali untuk aktif di PRMK, bahkan dengan tugas Follow Up setelah Retret ini mungkin akan jadi acara pertama yang kami para anggota keluarga baru akan buat, dipimpin oleh Alexander David (arda) sebagai ketuanya kami belum juga mulai rapat. Acara berikutnya setelah retret yang kuikuti adalah rosario pertama dalam hidupku aku lakukan di Rumah tercinta (beskem) PRMK-FT Undip. Aku gak tau gimana caranya, yang jelas waktu itu aku belum punya rosario, dan aku mengandalkan jariku untuk menghitung. Setelah sekali ikut, setelah itu gak ikut lagi, lalu aku mendapat info acara POR PRMK saat itu akan ada pertandingan basket, aku ingin sekali menontonnya, lalu seperti biasa, aku mengajak kedua temanku Risang dan Yulius untuk ikut menonton, tapi karena tiba-tiba hujan, aku memutuskan untuk berteduh dahulu, hingga akhirnya kesialan pertamaku di kota ini terjadi, ya setelah aku keluar ketika hujan reda, motor yang kuparkir depan kos mereka tiba-tiba hilang tanpa ada yang melihatnya. Seketika itu juga semangatku hancur, aku merasa kenapa kesialan tiba saat aku mulai menemukan semangat yang sudah lama hilang dihidupku. Aku merasa sepertinya aku hanya mengecewakan orang tuaku lagi, sama seperti sebelumnya. Tapi bersyukurlah aku karena aku mempunyai teman seperti kecap dan risang, mereka selalu menghiburku sejak saat itu, mereka menolongku ketika aku kesusahan, dan tak mengharapkan balasan, mereka mengajariku untuk ikhlas dan tulus.
Perlahan aku mulai mencoba untuk bangkit lagi, lalu kami mendapat pengumuman tentang pendaftaran kepengurusan tahun berikutnya, aku sama kecap dan risang, bingung mau mengambil apa waktu itu, lalu aku dan Risang memutuskan mengambil Liturgi dan Mikat, sementara kecap Liturgi dan Pewartaan. Hingga akhirnya Kecap dan Risang mendapat pengumuman kalau mereka diterima di Liturgi, sementara aku tidak mendapat pengumuman apa-apa, aku sempat berpikir mungkin aku memang gak kepilih untuk masuk kepengurusan. Acara ngamen pertamaku adalah waktu danus Follow Up angkatanku di Kerep, dan kami berangkat ke Kerep bareng-bareng, dan kejadian mengenaskan terjadi waktu itu dimana Chris dan Maria ditilang polisi karena hanya memakai spion sebelah saat berangkat. Aku yang lebih dahulu tiba di kerep menunggu mereka cukup lama.
Perlahan aku mulai mencoba untuk bangkit lagi, lalu kami mendapat pengumuman tentang pendaftaran kepengurusan tahun berikutnya, aku sama kecap dan risang, bingung mau mengambil apa waktu itu, lalu aku dan Risang memutuskan mengambil Liturgi dan Mikat, sementara kecap Liturgi dan Pewartaan. Hingga akhirnya Kecap dan Risang mendapat pengumuman kalau mereka diterima di Liturgi, sementara aku tidak mendapat pengumuman apa-apa, aku sempat berpikir mungkin aku memang gak kepilih untuk masuk kepengurusan. Acara ngamen pertamaku adalah waktu danus Follow Up angkatanku di Kerep, dan kami berangkat ke Kerep bareng-bareng, dan kejadian mengenaskan terjadi waktu itu dimana Chris dan Maria ditilang polisi karena hanya memakai spion sebelah saat berangkat. Aku yang lebih dahulu tiba di kerep menunggu mereka cukup lama.
Subscribe to:
Posts (Atom)