Aku bahkan tak ingat lagi seperti apa rasanya jatuh cinta, atau hasrat untuk mencintai seseorang, bagiku semua orang sama saja, tidak ada yang spesial, hanya wajah lain yang ku kenal itu saja tidak lebih. Bahkan ketika kerja kerasku berakhir di tempat sampah sekalipun aku tidak marah, entah seperti ada yang hilang dalam diriku, tapi aku tak tahu itu apa. Bahkan rasa sakit yang setiap hari kurasakan karena penyakitku, mulai tak lagi mengganggu bagiku. Mungkin aku sudah begitu akrab dengan penderitaan dan kegagalan, sampai aku tak lagi berharap lebih. Bahkan jika esok aku mati sekalipun, tak masalah bagiku, sudah tidak ada lagi yang mengejutkan bagiku di dunia ini.
Karena hidup ini terlalu panjang untuk tidak kita abadikan, aku menulis untuk membuat semua kenangan hidup ini terukir jelas, semuanya kutulis berdasarkan hati yang tulus.
Saturday, 8 August 2020
Entahlah
Belakangan ini, aku mulai merasa semua emosi yang ada dalam diriku, yang biasanya meledak-ledak perlahan mulai tenang. Aku mengira, mungkin aku sudah bisa mengendalikan perasaanku, tapi kenapa hanya kosong yang kurasa. Melihat realita hidup yang tidak pernah mudah, seolahku membuatku berpikir, mau emosi seperti apapun percuma, karena pada akhirnya semua hanya akan berakhir mengecewakan, jadi untuk apa bersusah payah.
Sunday, 21 June 2020
FRIEND
It's been such a long time, since I feel strong enough to write about something. This day I realized, after I watched an anime which title is Kiznaiver, I understand what I've been felt for so long. Sometime you know, I always thinking, my relation with everyone was a fake one. Like, you know I tried so hard to kept them together, but I think that wasn't the case. After watching the movie I realize something, it's okay for us to keep secret with each other, to secretly have a crush one another, or even fight for something foolish, hurting each other, everything was fine, because you know why? because we don't know a thing about each other.
If I can compare my personality with the character of the anime, I'm like Chidori, the female character, yup how shame of me, but I thinks it's okay, because that how I really am. I am just a goody two shoes person, everything I do was look like I did for the other but honestly deep down I'm only thinking about myself. How she hesitated about her feeling toward Kacchon who she secretly have a crush with, really look a lot like me, even in the end she got rejected and how she want to keep close to him, much more like me.
It's make me thinking for a while, all of the years I spent in university, never really walk in the park. There are times when things get so hard, so tough, but never bit once I thought it was one big deal. It's because I have them, someone I can rely on, someone I can trust with, someone who would punch me in the face when I go wrong, someone who I can talked to, and someone who I can spend my time doing nothing, just sitting and starring to the skies.
Then come the times we all got separated. We goes all around the globe, we have our own life, chasing our own dream. I thought it hurts so much, I've knew this feeling before, the felt of someone who suddenly disappear, someone who suddenly changed, the feel of being abandoned, that what I thought, this kind of thing happening again in my life. That's why I started to distancing myself, not just with someone who I work with, but also with them. Yet, no matter how hurt it is, my hearth can't stop but wondering, how they feel, what kind of hurdles they have right now, are they fine, healthy, safe, there's so much things I don't understand.
It's because I don't understand that I wonder what the other is thinking and try desperately to understand every word they say. I end up thinking too much about the other person, and being close to them becomes painful so I try to distance myself. I believe I become friends with somebody by doing that over and over, and that's how... If we were able to know and share other people’s pain and suffering as our own, fighting would not occur... However, there are limits to a person’s imagination.
If I still want to connect, I can’t just keep waiting. I have to try to connect on my own. I would never knew just by wondering, guessing, I won't know where it hurt when thing stay closed behind the door, the think is I never once have a honest talk with them all, even though, they share their pain with me, I do want to connect with them, it's okay if I don't understand, I just wanted to stay with them a little longer, and understand a little bit better.. As much as I hate to admit it, it’s how I became friends with these guys.
Thanks for becoming my friends.

If I still want to connect, I can’t just keep waiting. I have to try to connect on my own. I would never knew just by wondering, guessing, I won't know where it hurt when thing stay closed behind the door, the think is I never once have a honest talk with them all, even though, they share their pain with me, I do want to connect with them, it's okay if I don't understand, I just wanted to stay with them a little longer, and understand a little bit better.. As much as I hate to admit it, it’s how I became friends with these guys.
Thanks for becoming my friends.
Tuesday, 28 April 2020
Tujuh Tahun Yang Lalu
Matahari pagi masuk melalui sela-sela jendela kamarku. Hangatnya menggugahku untuk segera membuka mata. Aku coba mengingat-ingat hari apa ini, kalau tidak salah nanti malam akan ada acara itu. Ya, sebuah acara yang dinantikan banyak orang termasuk teman-temanku.
"Woi, tidur mulu, mandi sana bangun.." Suara yang tak asing datang dari depan pintu kamarku.
"Sebentar, aku masih terlalu malas untuk bangun." Jawabku seraya membalikan badanku.
"Kamu ini, memangnya kamu sudah bikin surat buat si dia?" Aku masih tak bergeming, dia pun mulai masuk ke dalam kamarku dan duduk di atas kasurku. "Kau tahu, kesempatan seperti ini gak akan datang dua kali, kamu yakin gak mau buat?"
Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Kuperhatikan wajahnya dengan seksama, seperti orang yang menaruh harapan besar padaku. Aku paling lemah menghadapi orang seperti dia. Aku termasuk orang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Jauh dari rumah dan sanak-saudara, membuatku sedikit merasa kesepian. Aku pernah membaca, salah satu cara untuk menarik perhatian banyak orang adalah dengan membuat/melakukan sesuatu di luar ekspektasi.
Aku yang tidak pernah tertarik dengan hal-hal berbau romansa, mencoba untuk mengerti akan hal itu, lalu pikirku jika aku yang mempunyai image seperti ini berbuat sesuatu yang berbau romansa, pasti akan menjadi sebuah sorotan yang luar biasa. Ternyata benar saja, aku yang awalnya cuma iseng itu, ternyata benar-benar terbukti, sebenarnya aku tertarik dengan temannya, tapi karena aku tahu temannya itu menyenangi orang lain, dan impact yang akan diberikan sangat kecil, aku memutuskan menjadikannya sebagai bahan percobaan teoriku ini.
Seiring berjalannya waktu, aku mengetahui ada orang lain yang juga mencintainya, yang benar-benar mencintainya, karena itu aku memutuskan untuk berhenti, karena tujuan yang aku cari itu sudah tercapai. Aku sudah punya banyak teman, semua orang mulai menilaiku sesuai dengan yang aku inginkan. Sesungguhnya aku merasa puas tapi, ada ketakutan dalam diriku, jika dia berpacaran dengan orang lain apakah image yang sudah susah payah kubangun itu akan hancur? Aku bertanya-tanya dalam diriku, sebenarnya apa yang aku mau.
"Woi malah melamun, kau ini kebanyakan mikir.." Seruannya mengejutkanku.
"Tidak, aku tidak ada motivasi, kamu aja yang buat sana.." Aku mulai kembali memejamkan mataku.
"Hoo, awas aja nangis-nangis di depanku, kapan lagi ada kesempatan kayak gini.." Dia pun mulai melangkah keluar dari kamarku.
Sepertinya, aku tetap harus melakukannya ya, paling tidak untuk menutup teori percobaanku ini. Meskipun aku tahu dia sekarang sudah bersama yang lain, tapi aku harus bisa menanamkan image yang dalam di semua orang, lagipula aku tidak bisa mengecewakan orang yang percaya padaku.
Malam haripun tiba, aku tidak menyangka, ternyata yang datang malam itu sangat banyak. Seyakin-yakinnya akupun, tetap merasa ciut melihat orang yang hadir sebanyak ini. Setelah panitia membacakan surat-surat yang terbaik, acara dilanjutkan ke api unggun.
"Aku tahu kamu sudah bikin surat itu, ayo mending sekalian sekarang kamu omongin, mumpung ada api unggun." Sobatku yang selalu saja secara tiba-tiba membisikan ide-ide jahat. Aku yakin sobatku sendiripun sebenarnya sudah tahu kalau dia sudah tidak sendiri lagi. Aku tidak dapat mengecewakan mereka, sekalipun aku sudah tahu jawabannya, malam ini aku harus menyelesaikan semuanya, karena bagaimanapun juga aku yang memulai.
Waktu terasa melambat, saat aku mulai melangkah maju ke tengah-tengah lingkaran, panasnya api unggunpun tidak terasa di dalam diriku, hanya dingin, dingin yang menusuk sampai ke tulang. Aku coba menarik napas, mencoba meraih sedikit kelegaan yang ada. Bayang-bayang akan apa yang terjadi setelah ini, seolah nampak dalam kilatan api unggun. Apakah keputusanku sudah tepat, bagaimana jika usaha yang sudah kubangun selama ini akan hancur seketika, aku lupa, ada banyak temanku di sana, apakah usahaku untuk mengenal mereka selama ini akan hancur, tapi sudah terlambat untuk mundur, opsiku hanya ada untuk maju, dan melihat segalanya sampai akhir, jika semua yang sudah kubangun itu hancur malam ini, berarti memang teori yang kubuat itu salah.
Begitu saja, kata demi kata terlontar dari mulutku, ditengah pekatnya malam, melawan rasa dingin, aku mengakhiri semuanya. Secarik kertas terbang dalam api, mengakhiri sebuah misi yang ku mulai sedari dulu. Akhirnya semua yang kutakutkan itu tidak pernah terjadi, semua yang kubangun susah payah itu tetap utuh, dan cerita yang aku bangun itu, menjadi legenda hidup tersendiri bagi mereka yang menyaksikan. Aku merasa lega.
Tujuh tahun setelah kejadian itu, aku mulai merasa jenuh dengan semuanya. Sepertinya caraku yang telah membangun relasi dengan memanipulasi orang lain itu, hanya menghasilkan relasi yang hambar. Aku tidak pernah mengenal teman-temanku, begitu pula mereka tidak pernah benar-benar mengenal aku. Saat ini aku hanya hidup dalam imagi diriku yang kubangun untuk mereka. Aku lelah, harus berpura-pura, sudah cukup bagiku bermain sebagai sahabat yang baik.
Friday, 24 April 2020
Hidup Dalam Pandemi
Sebuah wabah baru mengguncang dunia di tahun 2020 ini. Covid-19, begitu lembaga kesehatan dunia atau WHO menamainya, virus yang diduga berawal dari Wuhan, sebuah kota di China. Awalnya sama seperti masyarakat awam pada umumnya, aku hanya mengira, ini merupakan virus baru yang biasa saja, tapi ternyata tidak. Angka kematian yang tinggi, yang diberitakan media, baik dalam dan luar negeri yang terjadi di China, lalu menyebar ke asia timur, asia selatan, bahkan hingga eropa dan amerika. Data korban terus bertambah setiap hari, menyebabkan kepanikan dimana-mana. Alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer menjadi langka, bahkan alkohol sendiri pun hilang dari peredaran.
Aksi penimbunan yang dilakukan beberapa oknum masyarakat, sungguh memperburuk keadaan, ditambah respon pemerintah yang sangat lambat. Pemerintah selalu berkoar-koar baik media masa dan cetak, untuk masyarakat tidak menggunakan masker medis, namun sampai hari ini aku masih saja menemukan masker medis dijual belikan secara online, di group-group social media. Berbeda dengan masker, berbeda pula dengan peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), aturan ini seperti aturan karet, pemerintah tidak bersikap tegas sama sekali, dan cenderung acuh dengan kondisi masyarakat.
Sebenarnya ada kecemasan tersendiri dalam diriku. Aku tidak cemas, akan kesulitan pangan, yang aku cemaskan adalah kondisi sosial masyarakat pada umumnya. Tidak semua warga yang tinggal di Jakarta mempunyai penghasilan tetap tiap harinya, beberapa ada yang harus bekerja tiap hari hanya untuk makan hari itu saja. Belum lagi, gelombang phk, dan pemecatan, akibat imbas dari perusahaan yang merugi bahkan beberapa ada yang gulung tikar, semakin mencekik kondisi sosial masyarakat. Hal ini diperparah pula dengan dibebaskannya narapidana dari dalam lapas, tanpa adanya rehabilitasi yang jelas, semakin menambah beban pikiran masyarakat yang masih waras.
Aku benar-benar merasa pemerintah sudah sangat blunder dengan hal ini. Sekarang aturan yang melarang warga untuk keluar dari Jakarta, juga bukan jawaban yang tepat saat ini. Bayangkan, mereka yang hendak keluar dari Jakarta itu kebanyakan adalah mereka yang sudah mulai merasa kesulitan untuk tetap terus bertahan di Jakarta, terutama dari segi materi dan ekonomi. Lalu pemerintah hendak menahan mereka tetap di sini? Aku tidak dapat membayangkan apalagi yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa berharap, aparat masih mampu bertindak tegas dalam menjaga ketertiban dan keamanan.
Hingga hari ini aku sudah kurang lebih tiga minggu bekerja dari rumah. Aku bersyukur karena tempatku bekerja tidak terdampak begitu besar dengan kejadian pandemi ini, tapi aku sadar, di luar sana banyak yang tidak seberuntung aku. Hari ini, hari awal puasa, dan perpanjangan masa PSBB selama satu bulan. Baru saja aku sembuh dari eksimku yang tetiba kumat, beruntung terakhir kali aku berobat dengan bpjs, obatnya tidak kuminum, dan ternyata bisa sembuh juga, tanpa perlu obat dari dokter spesialis. Aku sebenarnya juga kepikiran dengan kabar seputar temanku di Semarang, tapi aku yang sekarang sudah terlalu malas mengurusi hal seperti itu, maksudku, bukan aku tidak peduli, hanya saja, dia sudah dewasa, dia seharusnya sudah tahu hal terbaik yang seharusnya dia lakukan, sementara aku dan teman-temanku menurutku sudah memberikan bantuan yang terbaik yang bisa kami berikan, semoga saja dia tidak salah dalam melangkah. Aku hanya kasihan dengan orang tuanya, sungguh.
Semakin sering di dalam rumah pun, sangat tidak sehat untuk pikiranku. Aku sangat rindu adekku, kedua orang tuaku, kakek, nenekku. Tiket yang sudah kubeli sampai harus cancel dua kalipun tidak sanggup membawaku pulang. Aku sebenarnya saat ini sangat benci berharap, tapi untuk satu ini, aku berharap Tuhan menjaga orang-orang yang kucintai dan kusayangi, karena bagiku, lebih baik diriku yang celaka, daripada mereka. Aku sangat benci pikiranku yang gelap ini, tapi aku juga sangat sayang, setidaknya pikiran ini yang mengingatkanku kalau aku masih manusia biasa.
Kali ini aku tidak akan membahas cinta dan romansa, karena dua rasa itu sudah kubunuh tahun lalu.
Tuesday, 17 March 2020
Aku Takut Cinta
Lorong co-working space tempatku bekerja mulai tampak kosong. Satu per satu tenant yang biasanya jam segini sangat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, perlahan mulai menghilang. Meninggalkanku dan sahabatku yang sedari tadi menunggu hujan reda.
"Parah ya situasi kali ini. Orang-orang jadi takut mau kemana-mana." Suaranya memecah kesepian sore itu, tangannya tidak berhenti mengusap-usapkan layar telepon genggamnya. Sesekali nampak ekspresinya berubah-ubah, dari terkejut, tertawa, heran, bahkan sedih. Pandangannya tidak pernah lepas dari layar telepon genggam tersebut. Sembari mulutnya tidak pernah berhenti memberi komentar akan hal yang dibacanya.
"Ya mau gimana lagi, belum ada obatnya, wajarkan orang takut." Jawabku
"Tapi kan ya gak harus separah gini juga gak sih? Kayak orang-orang tuh udah panik besok kiamat aja." Balasnya sambil menggerutu.
"Kamu gak takut apa?"
"Daripada takut, bisa dibilang khawatir sih. Kalau ibaratnya tuh, orang kepleset aja bisa mati. Tapi kalau kita hati-hati dan selalu menjaga diri kan, mudah-mudahan tetap selamat." Kali ini dia memalingkan pandangannya ke arahku, sepertinya dia yakin kalau setelah ini akan ada peraduan argumen antara aku dan dia. Kita memang sering berdebat akan banyak hal, dari yang penting sampe boring, dan ironisnya adalah jarang sekali kita mencapai suatu kesepakatan bersama, tapi disitulah serunya. Bagiku pandangannya dia adalah jendela baru dalam hidupku.
Aku pun memutuskan untuk duduk di sofa, karena secara naluri pun aku sadar ini tidak akan jadi pembicaraan yang sebentar. Langit yang temaram berselimut awan pekat, menitikkan bulir-bulir kehidupan membasahi jalanan Jakarta sore itu, seolah-olah mengiyakan pertarungan argumen kita sore itu, mungkin ditambah opening lagu The Eye of The Tiger sebagai intro, akan set the mood banget.
Pembahasan kami sore ini adalah virus yang sedang merebak di negara kami. Mulai dari apa penyebabnya, kenapa bisa meluas, respon pemerintah dan dunia seperti apa, sikap masyarakat bagaimana, hingga hal-hal yang berbau takhayul dan konspirasi juga ikut dalam perdebatan kami. Kadang kita bisa ngotot akan pendapat kita masing-masing, namun kami tidak pernah emosi, karena sejatinya kita sama-sama tahu. Kalau kita sesungguhnya iseng satu dengan yang lain, hanya untuk saling menebak argumen apa yang akan dikeluarkan sebagai balasan.
Tanpa kita sadari, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Alarm di jam tanganku berdering. Kami pun terhenti dari perdebatan kami.
"Yah, lihatkan, gara-gara kau ajak aku ngobrol, sudah jam tujuh, batal sudah aku pulang cepat." Sanggahku padanya menghentikan perdebatan sore itu.
"Kan aku gak minta buat ditanggepin, lagian kamu cowok manja amat harus pulang on time, mana debat sama cewek juga gak mau ngalah, kadang aku heran kamu ini cowok apa bukan." Balas dia.
"Cowok lah, perlu gw buktikan secara genetik di depan lu."
"Yee, dasar cowok mesum."
"Lah siapa coba yang mulai, nuduh-nuduh mesum, dah lah sama kamu ngobrol gak habis-habis, pikiranmu terlalu imajiner sampe dikuadrat dua juga gak bakal jadi nyata. Hujan udah reda nih ayo balik." Aku mulai merapikan peralatan kerjaku. Aku lihat dia masih kesulitan untuk meletakkan kembali Tupperwarenya ke dalam rak yang tinggi itu, aku ambil Tupperware itu dan kuletakkan langsung di lemari tersebut.
"Aku bisa sendiri tahu." Kulihat mukanya sedikit cemberut.
"Ini bocah, udah abstrak, pendek, belagu lagi, bukannya terima kasih, gw tinggalin dah." Aku mulai berjalan ke arah lift.
"Ehh, tunggu, jangan marah dong, kan bercanda." Jawabnya seraya berlari menyusul.
"Masa bodo.." Jawabku seraya mempercepat langkah kakiku.
Akhirnya kami berlarian sampai di depan lift. Lift kami ternyata masih sangat jauh.
"Eh, kamu tahu gak, naik lift itu pengalaman berharga buat aku." Sepertinya keluar lagi argumen barunya. Aku terdiam dan memperhatikan wajahnya dengan penasaran.
"Kok bisa? Di desamu gak pernah ada lift apa?" balasku.
"Yee, bukan begitu."
"Lantas?"
"Soalnya waktu pertama kali naik lift, it's raised me up." Jawabnya sembari tertawa puas.
"Dasar bocah, gw kira serius." Tak lama, lift yang akan kami gunakan tiba.
"Kamu gak takut apa, sama musibah yang terjadi belakangan ini, aku tadi belum sempet nanya, jadi penasaran." Tanyanya kepadaku.
"Tidak, selama virus ini gak bikin aku bego, aku gak takut, kecuali satu virus ini yang aku paling takutin, yang bener-bener bikin bego."
"Hah, apaan itu?" Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, berharap aku bergegas menjawab kebingungannya tersebut.
"Virus cinta."
Subscribe to:
Posts (Atom)