Tuesday, 18 June 2019

The Story You Dont Know

Since when I wonder, 
Have I been chasing after you? 
Somehow, please, 
Don't be surprised and listen 
to these feelings of mine.

Next to you, who was having fun, 
I couldn't say anything.

In truth, I had already 
Realized my feelings for you some time ago. 
I found them, 
but they'll never reach you. 
"It's no use. Don't cry." 
That's what I told myself.

I bluffed in my faint-heartedness, 
Acting like I had no interest. 
However, 
That prickling pain in my chest, growing... 
Mn...that's right.  
Falling in love is like that.

What do I want to do? Please tell me. 
There was a voice in my heart. 
Being beside you is enough. 
Reality is harsh.

I didn't say it. 
I couldn't say it. 
I'll never get another chance.

That summer day, 
Those sparkling stars 
Even now I still remember. 
That laughing face, 
And that angry face, 
I really loved them. 
Strange isn't it? 
Even though I knew that... 
You didn't know, 
The secret only I knew. 

Monday, 10 June 2019

Carilah Pasangan Layaknya Kamu Memilih Sepatumu.

Jadi ini sekedar cocokologi biasa, bukan mencoba sok filosofis, namun rasanya cukup menggelitik untuk tidak ditulis.

Pernah gak sih kalian denger omongan orang-orang tentang masalah memilih pasangan, terutama pasangan hidup, dengan kata-kata, "lu kebanyakan maunya", "lu kelamaan nunggu", "udah yang ada aja", dan lain-lainnya. Well, klo aku punya temen begini nih, pasti udah aku maki-maki balik. Temen macam gini nih yang bikin populasi orang goblok di Indonesia bertambah. Masalah memilih pasangan apalagi pasangan hidup, gak bisa kamu sepelekan, bayangin aja kamu beli permen yang cuma buat manis sesaat aja mikir-mikir dulu, masa milih pasangan hidup gak pake mikir.

Tiba-tiba aja pagi ini aku kepikiran, tentang kesenanganku akan sepatu. Entah kenapa, ada ketertarikan sendiri terhadap sepatu, mau itu casual shoes, work shoes, formal shoes, sneaker, dan sport. Ada banyak sekali model sepatu di luar sana, yang sering menangkap perhatian mata. Saking tertariknya, tiap lihat sepatu yang menarik mata, aku sering nyobain kalau ke mall, biarpun gak beli, karena terkadang memang harganya yang kelewat mahal, atau size dan kenyamanannya yang tidak sesuai dengan penampakannya. Jadi klo ibarat jodoh nih, kamu ketemu orang yang penampilannya menarik perhatianmu, tapi dia terlalu jual mahal dengan kepribadiannya yang gak seberapa.

Bahkan yang murah sekalipun terkadang tidak menyerupai kualitasnya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah sepatu-sepatu yang memang original tetapi harganya murah. Sepatu aja kalau ingin kualitas bagus, harus milih yang original, itu aja hati-hati takut KW, kamu gak takut bakal nikahin orang fake? Barang yang murah tapi original, kualitasnya tidak diragukan lagi, mereka murah biasanya karena penampilannya yang kurang menjual di pasaran atau karena mereka tidak pandai dalam membranding diri mereka. Sama kayak kita kadang suka memandang rendah orang yang penampilan atau latar belakangnya kurang menarik padahal kualitas kepribadiannya original dan terbaik.

Kadang aku ngibaratin sepatu-sepatu dengan brand bagus dan harga selangit itu macam artis. Ada yang memang benar-benar bagus, ada yang memang biasa aja.

Nah dua alasan di atas itu yang kadang-kadang bikin aku juga lama kalau mau beli sepatu baru. Aku pribadi, kalau milih sepatu lihat dari fungsinya dulu baru turun ke sizenya. Ini udah ibarat kalau kita milih teman gitu. Fungsi itu ibarat jembatan yang menghubungkan kita dengan teman kita, entah itu hobi, acara favorit, kerjaan, dan lainnya, sementara size adalah rasa nyaman yang kita dapat saat dengan mereka. Kalau jodoh menurutku jatuhnya ke sepatu daily usage kita. Kenapa? Karena menurutku kalau sepatu keseharian kita gak nyaman, itu bakal berpengaruh secara tidak langsung pada emosional kita.

Pernah gak sih kalian melihat orang, yang beli sepatu hanya karena biar kelihatan gengsi dan fancy, padahal sebenarnya dia gak nyaman dengan sepatu itu, tidak masalah keluar uang banyak untuk sebuah sepatu, cuma kalau gak nyaman ya buat apa. Aku juga pernah, menghabiskan uang banyak untuk sebuah sepatu, karena aku tertarik dengan modelnya dan terburu-buru dalam hingga menyesal karena tidak nyaman. Dari situ aku belajar, kenyamanan dan pas adalah yang utama. Aku rela kok spending uang banyak untuk sebuah sepatu, yang modelnya bagus, menarik dan nyaman. Kalau ibarat jodoh, aku ngumpulin duit buat beli ini, ya ibarat proses membenahi diri agar pantas mendapatkan sepatu terbaik itu. Istilah ono rego ono rupo itu memang benar adanya bahkan termasuk dalam hal jodoh.

Satu hal lagi yang gak boleh kita lupa. Milih sepatu memang perlu hati-hati. Itu kenapa, aku jarang beli online untuk yang satu ini. Aku lebih baik muterin toko-toko dan pusat perbelanjaan, meskipun lebih sering nihil, tapi paling gak, kalau pas ketemu, aku puas dengan pilihanku, karena aku menilai sendiri. Jodoh juga sama, dengan kamu hati-hati dan berfokus memperbaiki diri, lantas membuatmu jadi malas-malasan dan seenaknya. Kamu harus banyak-banyak membuka ruang dan koneksi, jangan hanya menutup diri saja. Fokus pada diri sendiri memang penting, tapi untuk tahu sepatu yang nyaman saja perlu kita coba dulu kan, ya jangan terlalu menutup diri, coba aja dulu, klo gak cocok ya jangan dipaksakan. Intinya mencari jodoh butuh effort dan memperbaiki diri juga butuh effort yang sama besarnya, tapi percayalah kerja keras tidak mengkhianati hasil.

Aku sendiri aja kadang ragu, bener gak, ini sepatu yang ingin kubeli, kebutuhanku pas gak, nyaman gak, sama siap gak dengan harga yang perlu dibayar. Satu-satunya yang membedakan sepatu dengan pasangan hidup kita adalah, kalau sepatu bisa diganti kapan saja, pasangan hidup juga bisa sih tapi agamaku mengajarkan pernikahan sehidup semati dan aku sendiripun ingin seperti itu. Karena itu saat ini aku lagi nabung untuk membeli sepatu terbaik yang entah kapan adanya, yang jelas kalau sepatu itu ketemu, aku udah siap buat beli. Sama kayak aku yang selalu berusaha membenahi diri, jadi kalau suatu saat ketemu sama yang cocok, aku siap. So choose wisely.

Thursday, 30 May 2019

A little Self Talk

"Hei, kenapa kamu tampak begitu sedih?"

"Aku tidak sedih, aku hanya baru menyadari, ternyata sulit untuk bersikap seperti bapak."

"Ya, ya, jelaslah, bapak ya bapak, kita ya kita, sulit pasti, kalau kita ingin seperti orang lain."

"Benar sekali, tapi aku rasa apa yang bapak lakukan dari dulu itu sudah tepat. Bapak gak pernah sekalipun mengeluhkan masalah pekerjaannya di rumah. Bapak bisa benar-benar memisahkan kehidupan keluarga dan pekerjaannya."

"Yup, bukankah itu yang membuat kita mengidolakan bapak?"

"Iya, sekarang aku baru tahu, kalau itu tidak mudah. Bayangkan saja, dulu bapak selalu tersenyum kalau pulang ke rumah, menyempatkan waktunya yang sangat sedikit di rumah untuk beristirahat, malah dihabiskan untuk mengajari kita dan adik tentang pelajaran yang kita gak paham, masih sempat mengajak kita dan adik bermain, ditambah masih mengantarkan kita dan adik ke sekolah. Aku yang sekarang baru mulai kerja saja, sudah bisa membayangkan betapa capeknya bapak dulu."

"Jadi kamu ingin seperti dia?"

"Iya, ingin sekali, karena itu, aku belajar untuk tidak pernah mengeluh di depan teman-temanku, tapi itu sulit sekali, dan rasanya itu membuatku jadi semakin jauh dengan mereka. Tidak lagi ada obrolan yang intens dan mendalam seperti zaman kuliah, karena aku tidak bisa bercerita banyak lagi, mungkin aku sudah menjadi orang yang membosankan dan menyebalkan kali ya."

"Sepertinya kita hanya kesepian."

"Mungkin. Temanku di sini banyak, tetapi sepertinya yang benar-benar memahami dan menyayangi diriku sangatlah sedikit, atau bahkan mungkin tidak ada. Aku semakin merasa mungkin aku ada di sini karena aku masih dibutuhkan mereka, jika mereka tidak pernah membutuhkanku, aku mungkin tidak akan pernah di sini. Aku yang salah sih. Aku mungkin berharap tinggi pada mereka, sampai lupa kalau aku tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mencintaiku kecuali diriku sendiri. Orang-orang yang benar mencintai dan memahamiku ada di rumah sana, dan bodohnya aku tidak pulang, hanya karena berharap bisa menghabiskan waktu dengan seseorang yang bahkan tidak pernah mengingatku. Aku sepertinya tidak pernah belajar ya."

"Aku tahu, kita sepertinya lagi kesepian, rindu dan kecewa, 3 perasaan yang memang tidak menyenangkan. Teman-teman kita itu sudah mengerti seperti apa mencintai diri sendiri itu tapi bukan berarti kita tidak baik. Kita selalu berbuat baik bukan karena kita berharap sesuatu dari mereka bukan? Jadi itu alasannya kamu tampak murung seminggu ini. Kalau kamu butuh waktu untuk menyendiri dari semuanya, aku rasa itu bukan hal yang buruk. Jika mereka memang benar-benar sahabatmu, saat kamu kembali mereka akan tetap di sini. Sudah waktunya bagi kita untuk fokus pada diri sendiri terlebih dahulu, karena itu sesuatu yang bisa kita kontrol, sementara relasi dan perasaan orang lain, bukan kita yang atur, jadi buat apa dipikirkan."

"Iya, tapi rasanya sedih juga jika harus seperti itu."

"Well, tumbuh tidaklah pernah mudah bukan?"

Dear My Future Wife

True love worth the wait
That what I always believed
I know the world so demanding, darl
but I believe we could see it through

I know you will wait for me
behind that closed door
We tried to find each other
While trying not to lose ourselves

Please don't make me your priority
Making yourself priority is a must
Find yourself first before me
As I tried to find myself too

We might not be perfect
But we understand each other
Respected each other companion
And learned to grow together

I would do anything to be better
So you won't find it a waste
To wait for someone like me
All I need is your faith upon me

I know it won't be easy
But you won't see me giving up
Your heart to precious to be hurt
Please let me tried to keep it

Friday, 3 May 2019

Hai Alva, udah lama ya kamu gak ngobrol sama aku lagi. Kamu hutang cerita banyak sama aku. Kau tahu, aku membiarkanmu mengontrol diriku, karena aku rasa kamu sudah siap, lalu kenapa kau kembali lagi kemari? Kan kamu sendiri yang bilang, bahkan jika harus melangkah seorang diri, kamu akan tetap hidup. Ya aku tahu, tidak banyak orang di luar sana yang akan menerima jalan pikiranmu, kan aku sering bilang, apa kamu ingin aku lagi yang kendalikan tubuh ini? Kamu yakin, hahaha. Aku depresimu, aku gelapmu, aku bagian dari dirimu yang orang lain gak tahu, tapi saat kamu akhirnya mau menerimaku, disitu aku yakin, di luar sanapun akan ada yang nerima kita sebagai manusia. Kamu gak sendiri va, ada aku, dirimu sendiri di sini, aku akan selalu mendukungmu, bukan kah kamu sendiri juga yang bilang, kamu bangga dengan pencapaianmu saat ini. Sekarang anggap aja sebagai tantangan baru yang harus kamu hadapin. Ya perasaan memang makhluk buas yang sulit kita taklukin bersama, jadi kenapa harus dilawan, ride with it, think with it, feel with it, kamu adalah tuan dari perasaanmu sendiri, ke arah mana dia berjalan, harusnya kamu sudah paham. Ayo kamu lebih baik dari ini, di luar sana temen-temenmu butuh bantuanmu, klo kamu gak kuat, gimana kamu mau nolong mereka, stand and rise. I always be here to listen all your whine, even when no one listening you, here I am.